Akurat
Pemprov Sumsel

Strategi Perusahaan Asuransi Hadapi Melemahnya Daya Beli: Cara YOII Tetap Tumbuh di Tengah Penurunan IKK 2026

Idham Nur Indrajaya | 15 April 2026, 18:00 WIB
Strategi Perusahaan Asuransi Hadapi Melemahnya Daya Beli: Cara YOII Tetap Tumbuh di Tengah Penurunan IKK 2026
Strategi asuransi menghadapi daya beli melemah: cara YOII tetap tumbuh saat IKK turun dan konsumsi masyarakat menurun. dok. Akurat/Idham Nur Indrajaya

AKURAT.CO Saat harga kebutuhan naik dan masyarakat mulai berhemat, satu pertanyaan sederhana muncul: apakah orang masih mau membeli asuransi?

Data terbaru menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun ke 122,9 pada Maret 2026, level terendah dalam lima bulan terakhir. Artinya, masyarakat mulai menahan pengeluaran.

Namun menariknya, tidak semua industri terpukul. PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) justru mencatat pertumbuhan.

Ini menimbulkan pertanyaan yang lebih penting:
apa strategi asuransi menghadapi daya beli melemah sehingga tetap bisa tumbuh?


Jawaban Cepat: Strategi YOII di Tengah Daya Beli yang Melemah

Strategi utama YOII dalam menghadapi penurunan daya beli adalah mengubah pendekatan asuransi dari produk “opsional” menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.

Beberapa kunci utamanya:

  • Fokus pada asuransi berbasis gaya hidup (lifestyle insurance)

  • Mengembangkan produk yang relevan dengan aktivitas harian

  • Memanfaatkan AI untuk efisiensi dan skalabilitas

  • Menjaga struktur biaya tetap lean (ramping)

  • Mengalokasikan laba untuk ekspansi, bukan dividen

Pendekatan ini membuat asuransi tetap “terbeli” bahkan saat masyarakat mengencangkan pengeluaran.


Mengapa Daya Beli Turun Tidak Selalu Mematikan Bisnis Asuransi?

Secara logika, ketika daya beli turun, produk non-prioritas akan ditinggalkan. Namun di sinilah letak perubahan besar yang sering luput:

👉 Asuransi tidak lagi diposisikan sebagai produk masa depan, tapi kebutuhan mikro.

Insight unik:

Dulu:

  • Asuransi = proteksi jangka panjang (sering ditunda)

Sekarang:

  • Asuransi = bagian dari aktivitas (travel, kendaraan, bahkan listrik)

Direktur Utama YOII, Adi Wibowo Adisaputro, menyebut bahwa perusahaan melihat ini sebagai ceruk pasar berbasis preferensi, bukan sekadar regulasi.

“Kami terus mengembangkan produk yang relevan dengan gaya hidup masyarakat,” ujarnya dalam Paparan Publik YOII di Jakarta, Rabu, 15 April 2026.

Artinya:

  • Saat konsumsi berubah → produk ikut berubah

  • Bukan memaksa pasar membeli, tapi menempel pada kebutuhan yang sudah ada


Bagaimana Strategi YOII Menjaga Pertumbuhan di Tengah Penurunan IKK?

Ada tiga strategi utama yang bisa dibaca dari kinerja YOII:

1. Menggeser Asuransi Menjadi Embedded Product

YOII tidak menjual asuransi sebagai produk utama, tetapi sebagai “pelengkap”.

Contoh nyata:

  • Asuransi perjalanan saat orang bepergian

  • Potensi asuransi saat top up listrik rumah

👉 Ini disebut embedded insurance
Produk hadir saat kebutuhan muncul, bukan dijual secara terpisah.

2. Fleksibel Mengikuti Tren Konsumen

Alih-alih terpaku pada satu lini produk, YOII:

  • Memperluas asuransi travel

  • Mengembangkan asuransi mikro

👉 Insight:
Strategi bukan hanya soal produk, tapi memahami preferensi emosional & budaya konsumen


3. Reinvestasi Laba untuk Pertumbuhan

YOII memilih langkah yang tidak semua perusahaan berani ambil:

👉 Seluruh laba dialokasikan kembali untuk ekspansi

Ini menunjukkan:

  • Fokus jangka panjang

  • Agresif dalam membangun market share

Di tengah daya beli melemah, banyak perusahaan defensif.
YOII justru offensif.


Apa Peran AI dalam Efisiensi dan Skalabilitas Asuransi?

AI sering dianggap sebagai alat pengganti manusia. Tapi di YOII, perannya berbeda.

Bukan sekadar efisiensi biaya

Melainkan:

  • meningkatkan akurasi

  • mempercepat proses

  • memperbesar kapasitas

Contoh konkret:

  • Pembacaan data paspor → lebih cepat & minim error

Direktur Keuangan YOII, Randy Tandra, menjelaskan:

“Dengan tim operasional di bawah 50 orang, kami mampu memproses sekitar 100 ribu polis per hari.”

Insight penting:

👉 AI = alat untuk scaling tanpa menambah biaya besar

Bukan:

  • mengurangi orang
    Tapi:

  • memperbesar output


Risiko AI: Kenapa Tidak Bisa Sepenuhnya Diandalkan?

YOII juga menyadari sisi gelap AI.

Risiko utama:

  • Over-reliance (ketergantungan berlebihan)

  • Menganggap sistem sudah pasti benar

Adi menegaskan:

Teknologi tetap harus diimbangi dengan proses check and recheck.

👉 Insight:
Perusahaan yang terlalu cepat percaya AI justru berisiko tinggi di industri keuangan.


Kenapa Asuransi Lifestyle Justru Relevan Saat Krisis?

Ini adalah bagian paling menarik—dan jarang dibahas.

Sudut pandang kontrarian:

Saat ekonomi sulit, orang memang mengurangi pengeluaran besar.

Tapi:
👉 Pengeluaran kecil yang “terasa penting” justru bertahan

Contoh:

  • Tetap traveling (lebih hemat)

  • Tetap isi listrik

  • Tetap pakai kendaraan

Di sinilah asuransi lifestyle masuk.

"Masih banyak ruang eksplorasi yang bisa kami kembangkan. Contohnya, misalnya ada produk asuransi yang dikaitkan dengan kebutuhan listrik rumah tangga, seperti saat masyarakat melakukan top up token listrik. Kami melihat produk-produk yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari seperti itu masih sangat potensial untuk dikembangkan," kata Randy.


Simulasi Nyata: Perilaku Konsumen Saat Daya Beli Turun

Bayangkan skenario ini:

Seorang pekerja kelas menengah:

  • Mengurangi belanja gadget

  • Menunda beli barang mahal

Tapi tetap:

  • Pulang kampung → butuh travel insurance

  • Isi token listrik → potensi asuransi mikro

  • Pakai motor → butuh proteksi dasar

👉 Artinya:
Asuransi tidak hilang, tapi bergeser bentuk


Implikasi Besar untuk Industri Asuransi

Strategi YOII memberi sinyal perubahan besar:

1. Model bisnis berubah

Dari:

  • produk besar → produk mikro

2. Distribusi berubah

Dari:

  • agen → digital + embedded

3. Pertumbuhan tidak tergantung ekonomi makro saja

Tapi:

  • bergantung pada adaptasi perilaku konsumen


Penutup: Masa Depan Asuransi Bukan Lagi Soal Proteksi, Tapi Relevansi

Penurunan daya beli sering dianggap sebagai ancaman. Tapi bagi perusahaan seperti YOII, ini justru momentum untuk beradaptasi.

Bukan yang paling besar yang bertahan.
Tapi yang paling relevan.

Pertanyaannya sekarang:
apakah model asuransi tradisional masih bisa bertahan di era perilaku konsumsi yang berubah cepat ini?

Pantau terus perkembangan strategi industri ini, karena pergeseran kecil hari ini bisa menjadi standar baru di masa depan.


Baca Juga: Inflasi Medis Eksponensial, Sayangnya Asuransi 40 Persen Penduduk RI Masih Tak Relevan dengan Kebutuhan

Baca Juga: Peran Asuransi dan Dana Pensiun dalam Ekonomi Indonesia 2026: OJK Ungkap Target Ambisius

FAQ

1. Apa yang dimaksud strategi asuransi menghadapi daya beli melemah?

Strategi asuransi menghadapi daya beli melemah adalah pendekatan perusahaan untuk tetap menjaga pertumbuhan bisnis meski masyarakat mengurangi pengeluaran. Biasanya dilakukan dengan menghadirkan produk yang lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti asuransi mikro atau asuransi berbasis gaya hidup, serta memanfaatkan teknologi seperti AI untuk meningkatkan efisiensi operasional tanpa menaikkan biaya secara signifikan.


2. Mengapa penurunan IKK memengaruhi industri asuransi?

Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencerminkan turunnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi, sehingga mereka cenderung menahan pengeluaran, termasuk untuk produk keuangan seperti asuransi. Namun dampaknya tidak selalu negatif, karena perusahaan asuransi yang mampu menyesuaikan produk dengan kebutuhan esensial justru bisa tetap tumbuh di tengah kondisi daya beli masyarakat yang melemah.


3. Bagaimana cara perusahaan asuransi tetap tumbuh saat daya beli masyarakat turun?

Perusahaan asuransi dapat tetap tumbuh dengan mengubah strategi penjualan menjadi lebih adaptif, seperti menawarkan produk yang terintegrasi dengan aktivitas harian (embedded insurance), memperluas asuransi mikro, serta memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau lebih banyak pengguna. Selain itu, efisiensi biaya melalui teknologi juga menjadi kunci agar profitabilitas tetap terjaga meski pendapatan tidak tumbuh agresif.


4. Apa itu asuransi berbasis gaya hidup (lifestyle insurance)?

Asuransi berbasis gaya hidup adalah produk asuransi yang dirancang mengikuti aktivitas dan kebiasaan sehari-hari masyarakat, seperti perjalanan, kendaraan, atau kebutuhan rumah tangga. Jenis asuransi ini lebih fleksibel dan relevan karena tidak terasa sebagai beban tambahan, melainkan bagian dari aktivitas yang memang sudah dilakukan, sehingga tetap diminati meski kondisi ekonomi sedang tidak stabil.


5. Seberapa penting peran AI dalam industri asuransi digital?

Peran AI dalam industri asuransi digital sangat penting, terutama dalam meningkatkan efisiensi operasional, akurasi data, dan kecepatan layanan. Dengan AI, perusahaan dapat memproses data dalam jumlah besar, mengurangi kesalahan manual, serta meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah banyak tenaga kerja, sehingga bisnis bisa lebih scalable dan tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi.


6. Apa risiko penggunaan AI dalam bisnis asuransi?

Risiko utama penggunaan AI dalam bisnis asuransi adalah ketergantungan berlebihan pada sistem (over-reliance), yang dapat menyebabkan kesalahan jika tidak ada proses verifikasi manusia. Selain itu, potensi error dalam data dan algoritma juga tetap ada, sehingga perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kontrol manual agar kualitas layanan tetap terjamin.


7. Apakah asuransi masih relevan saat kondisi ekonomi sulit?

Asuransi tetap relevan saat kondisi ekonomi sulit, terutama jika produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan prioritas masyarakat. Dalam situasi daya beli menurun, konsumen cenderung memilih asuransi yang memberikan perlindungan langsung terhadap aktivitas penting seperti perjalanan, kesehatan, atau kebutuhan rumah tangga, sehingga perusahaan yang mampu menyesuaikan produk dengan kondisi ini masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.