Wait and See, IHSG Ditahan RDG BI dan Risiko Konflik AS-Iran

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada awal pekan ini, Senin (20/4/2026), di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap tiga sentimen utama: kebijakan moneter domestik, data global, dan eskalasi geopolitik.
Pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026) lalu, IHSG menguat tipis 0,17% ke level 7.634. Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi dengan kisaran resistance di 7.700–7.750 dan support di 7.500.
“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA5 dan jauh di atas MA20. IHSG diperkirakan bakal berkonsolidasi di kisaran 7.750–7.700, sebelum mencoba kembali menembus MA50 di sekitar 7.719,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: IHSG Naik 2,35 Persen, Likuiditas Melejit di Tengah Net Sell Asing
Selain faktor teknikal, pelaku pasar mencermati rilis sejumlah indikator ekonomi domestik pada pekan ini.
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (22/4/2026), disertai data pertumbuhan kredit dan likuiditas (M2 Money Supply) pada 22–23 April 2026.
Data Bank Indonesia sebelumnya menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan masih berada di kisaran double digit sepanjang awal 2026, sementara likuiditas tetap longgar, tercermin dari pertumbuhan M2 yang stabil.
Di sisi global, investor juga menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk retail sales pada 21 April dan Michigan Consumer Sentiment pada 24 April 2026, yang akan menjadi indikator arah konsumsi dan sentimen rumah tangga.
Kondisi konsolidasi IHSG saat ini tidak terlepas dari dinamika eksternal yang meningkat. Salah satu perhatian utama pasar adalah potensi berakhirnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada 21 April 2026.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak global menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA) berpotensi memicu volatilitas harga energi.
Secara historis, konflik di kawasan ini kerap berdampak langsung pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Pada periode eskalasi sebelumnya, lonjakan harga minyak biasanya diikuti tekanan pada inflasi dan nilai tukar, yang kemudian memengaruhi pasar saham.
Kombinasi sentimen domestik dan global tersebut membuat investor cenderung selektif. Strategi jangka pendek lebih difokuskan pada saham berbasis komoditas dan energi yang sensitif terhadap pergerakan harga global.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Uji Level Psikologis 7.500
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan enam saham untuk strategi trading harian, yakni AALI, LSIP, AADI, ADRO, INCO, dan ANTM, dengan pendekatan trading buy di area support masing-masing.
Rekomendasi ini sejalan dengan rotasi sektor yang terjadi di pasar, di mana saham berbasis sumber daya alam cenderung mendapat perhatian saat risiko geopolitik meningkat.
Di sisi lain, saham perbankan dan konsumsi cenderung bergerak terbatas menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia, yang menjadi acuan utama arah likuiditas domestik.
Dalam jangka pendek, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: hasil RDG Bank Indonesia, perkembangan konflik AS-Iran, serta data ekonomi global.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan kebijakan moneter domestik tetap akomodatif, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju level MA50 di kisaran 7.700-an. Sebaliknya, eskalasi konflik atau sinyal pengetatan likuiditas dapat menahan laju indeks.
Dengan kondisi tersebut, pasar diperkirakan tetap bergerak dalam rentang terbatas sambil menunggu kejelasan arah dari ketiga pemicu utama tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









