Indonesia Bidik Pertumbuhan 6 Persen, Seberapa Kuat Fondasi Ekonomi?

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 hingga 6% pada 2026, sebuah angka ambisius di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Optimisme tersebut disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum internasional IMF–World Bank Spring Meeting.
Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat untuk menopang ekspansi tersebut, bahkan ketika banyak negara lain mengalami perlambatan.
Baca Juga: Konsumsi Melemah Jadi Risiko Besar Pertumbuhan Ekonomi China di Tahun 2026
Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025, relatif stabil dibandingkan negara berkembang lain yang terdampak tekanan global.
Sehingga stabilitas tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah percaya diri mematok target lebih tinggi untuk 2026.
Selain itu, sektor eksternal juga memberikan bantalan penting. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD1,27 miliar pada Februari 2026, sekaligus memperpanjang tren surplus menjadi 70 bulan berturut-turut.
Konsistensi inilah yang menandakan ketahanan sektor ekspor di tengah fluktuasi perdagangan global.
Namun, pertanyaan utama bukan pada angka target, melainkan pada seberapa realistis pencapaiannya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Melambat, Risiko Global Mulai Terasa
Secara struktural, perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selama konsumsi tetap kuat, pertumbuhan cenderung terjaga.
Di sisi lain, tekanan global belum sepenuhnya mereda. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi, yang dapat memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah menyadari risiko tersebut. Karena itu, strategi yang disiapkan adalah memperkuat bantalan fiskal, termasuk menjaga stabilitas harga energi melalui subsidi.
Selain itu, disiplin fiskal juga menjadi kunci. Defisit anggaran dijaga tetap terkendali, sementara rasio utang pemerintah terhadap PDB relatif rendah dibandingkan banyak negara lain.
Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan tantangan tetap ada. Aktivitas manufaktur global masih fluktuatif, sementara permintaan ekspor dari mitra dagang utama belum sepenuhnya pulih.
Dalam konteks ini, target pertumbuhan 6 persen bukan hanya soal menjaga stabilitas, tetapi juga meningkatkan kualitas pertumbuhan.
Transformasi struktural menjadi kata kunci. Pemerintah mendorong hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah ekspor, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada investasi.
Tanpa lonjakan investasi yang signifikan, pertumbuhan berpotensi stagnan di kisaran 5% . Sebaliknya, jika investasi mampu tumbuh agresif, target 6% bukan hal yang mustahil.
Dengan kata lain, 2026 akan menjadi tahun ujian bagi ekonomi Indonesia: apakah mampu naik kelas, atau tetap bertahan di zona stabil tanpa akselerasi berarti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









