Akurat Logo

IHSG Diproyeksi Sideways di 7.500–7.600, Ternyata Ini Pemicunya

Esha Tri Wahyuni | 23 April 2026, 07:30 WIB
IHSG Diproyeksi Sideways di 7.500–7.600, Ternyata Ini Pemicunya
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni)

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (23/4/2026), di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil meski tensi geopolitik mereda sementara.

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026), IHSG tercatat melemah 0,23% ke level 7.541,6. Pergerakan indeks cenderung mixed seiring kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang saling tarik menarik.

Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebut, pasar saat ini masuk fase konsolidasi teknikal.

Baca Juga: IHSG Sideways Usai MSCI Bekukan Rebalancing, Begini Proyeksinya

“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi konsolidasi pada rentang level 7.500–7.600 pada perdagangan hari Kamis (23/4/2026),” tulis Phintraco dalam ulasan resminya.

Secara teknikal, IHSG belum mampu menembus resistance MA5 di kisaran 7.591. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan histogram positif yang mulai menyempit, sementara stochastic RSI berada di area overbought mengindikasikan potensi pelemahan momentum jangka pendek.

Dari sisi global, diperpanjangnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tanpa batas waktu menjadi sentimen ganda bagi pasar. Di satu sisi, meredanya konflik mereduksi risiko jangka pendek. Namun di sisi lain, kondisi ini memperpanjang ketidakpastian arah kebijakan dan stabilitas kawasan.

Selain itu, gangguan distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berpotensi menjaga harga minyak mentah tetap tinggi. Kondisi ini meningkatkan tekanan biaya energi global, termasuk bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Tekanan harga energi tersebut dinilai dapat berdampak pada beban fiskal pemerintah, biaya operasional korporasi, hingga daya beli masyarakat. Dalam konteks historis, setiap lonjakan harga minyak global seperti pada periode krisis energi 2022 terbukti mendorong inflasi dan menekan kinerja pasar saham domestik.

Baca Juga: IHSG Naik 22 Persen, Investor Reksa Dana Pilih Instrumen Aman

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75% dan Lending Facility di 5,5%.

Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih tertekan akibat ketidakpastian global. Pada saat yang sama, fungsi intermediasi perbankan tetap menunjukkan pertumbuhan dengan kredit yang meningkat 9,49% secara tahunan (year-on-year) pada Maret 2026, naik dari 9,37% pada Februari 2026.

Stabilitas suku bunga ini menjadi sinyal bahwa otoritas moneter masih mengutamakan keseimbangan antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan meredam volatilitas eksternal.

Bagi pelaku pasar, kondisi saat ini mencerminkan fase “wait and see”, di mana arah IHSG sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan harga komoditas global dalam jangka pendek.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek, yakni BBTN, PNLF, MIDI, ASII, dan RAJA, seiring potensi pergerakan teknikal dalam fase konsolidasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.