Akurat Logo

Inklusi Syariah Baru 13,41 Persen, Permata Bank Perluas Akses

Esha Tri Wahyuni | 23 April 2026, 10:10 WIB
Inklusi Syariah Baru 13,41 Persen, Permata Bank Perluas Akses
Permata Bank dorong inklusi keuangan syariah saat aset tembus Rp3.100 triliun. Meski tumbuh 8,61%, tingkat inklusi masih tertinggal di angka 13,41%. (AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni)

AKURAT.CO Permata Bank melalui Unit Usaha Syariah (UUS) mempercepat strategi perluasan inklusi keuangan syariah di tengah kesenjangan literasi dan akses yang masih lebar di Indonesia, meski industri mencatat pertumbuhan positif hingga akhir 2025.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset industri keuangan syariah mencapai Rp3.100 triliun per Desember 2025, tumbuh 8,61% secara tahunan (year-on-year).

Namun, tingkat literasi keuangan syariah baru berada di 43,42%, sementara inklusinya masih 13,41%, jauh di bawah tingkat inklusi keuangan nasional.

Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, menegaskan bahwa perluasan akses menjadi prioritas industri saat ini.

Baca Juga: OJK Sambut Positif Update MSCI, Sinyal Kepercayaan Investor Naik

“Bagi kami, layanan syariah bukan sekadar produk keuangan, tetapi juga cerminan nilai amanah, keadilan, dan keberkahan. Permata Bank ingin memastikan layanan syariah dapat diakses dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, di setiap tahap kehidupan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan “Syariah untuk Semua” menjadi strategi untuk menjangkau lebih banyak segmen masyarakat.

“Melalui semangat ‘Syariah untuk Semua’, Permata Bank Syariah berkomitmen menyediakan solusi keuangan yang sesuai prinsip syariah dan kebutuhan nyata di berbagai fase kehidupan,” kata Rudy.

Secara historis, industri keuangan syariah Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan stabil dalam satu dekade terakhir, didorong oleh populasi muslim yang besar dan dukungan regulasi. Namun, kesenjangan antara pertumbuhan aset dan tingkat inklusi masih menjadi tantangan struktural.

Data OJK menunjukkan bahwa meski aset terus meningkat, penetrasi layanan ke masyarakat belum merata. Rendahnya inklusi ini kerap dikaitkan dengan minimnya literasi, persepsi kompleksitas produk, serta keterbatasan akses digital dan distribusi layanan.

Baca Juga: Lepas Ekspor Turunan Kelapa, OJK Dorong Pengembangan Ekonomi Daerah di Sumsel

Dalam konteks global, dinamika geopolitik dan geoekonomi turut memengaruhi sektor keuangan, termasuk preferensi masyarakat terhadap instrumen yang dinilai lebih stabil seperti emas.

Rendahnya inklusi berpotensi menahan optimalisasi potensi industri syariah terhadap perekonomian nasional. Padahal, sektor ini dinilai mampu menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi UMKM hingga kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Permata Bank Syariah mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui berbagai produk, termasuk pembiayaan emas. Instrumen ini dinilai relevan di tengah volatilitas global karena menawarkan stabilitas nilai jangka panjang.

Aktor Morgan Oey menilai layanan syariah semakin relevan bagi generasi muda.

“Perlu ditekankan bahwa perencanaan keuangan dari muda itu sangat penting, karena pada fase inilah fondasi kebiasaan finansial mulai terbentuk. Adanya cicilan emas Permata KTA iB Multiguna yang memungkinkan kita mulai memiliki emas sejak awal masa pembiayaan merupakan salah satu layanan syariah yang sederhana, jelas, dan selaras dengan kebutuhan hidup," ujarnya.

Sementara itu, digitalisasi layanan melalui aplikasi Permata ME juga menjadi bagian dari strategi memperluas akses, termasuk fitur pengelolaan tabungan haji dan pembiayaan syariah secara daring.

Senada dengan Morgan, Aktris Atiqah Hasiholan menyoroti aspek perencanaan keuangan keluarga.

“Perencanaan keuangan memberi rasa tenang bagi keluarga, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.