Akurat Logo

BI Catat Pertumbuhan Uang Primer Mulai Moderat pada April 2026

Esha Tri Wahyuni | 10 Mei 2026, 09:50 WIB
BI Catat Pertumbuhan Uang Primer Mulai Moderat pada April 2026
Ilustrasi Bank Indonesia

AKURAT.CO Bank Indonesia melaporkan uang primer atau base money (M0) adjusted pada April 2026 mencapai Rp2.232,2 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan (year on year/yoy).

Meski masih mencatat pertumbuhan dua digit, laju ekspansi likuiditas tersebut mulai melambat dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 16,8% yoy.

BI menyebut pertumbuhan uang primer didorong oleh peningkatan giro bank umum di BI adjusted sebesar 21,6% yoy serta pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,6% yoy.

Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah

“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas,” tulis BI dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (10/5/2026).

Perlambatan pertumbuhan uang primer menjadi sinyal baru bahwa kondisi likuiditas domestik mulai bergerak lebih moderat setelah sempat melaju agresif pada kuartal pertama 2026.

Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar global, tekanan nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter global yang masih ketat.

Uang primer atau M0 sendiri merupakan komponen uang beredar paling likuid dalam perekonomian. Instrumen ini mencakup uang kartal yang dipegang masyarakat dan simpanan giro bank umum di Bank Indonesia.

Pergerakan M0 kerap menjadi indikator awal untuk membaca arah likuiditas perbankan dan transmisi kebijakan moneter.

Menariknya, perlambatan M0 kali ini muncul meski giro bank umum di BI masih tumbuh tinggi di atas 20%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa likuiditas perbankan belum sepenuhnya mengalir deras ke aktivitas ekonomi, melainkan masih cenderung tertahan di sistem keuangan.

Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia

BI sebelumnya telah mengubah metode penghitungan M0 adjusted sejak Januari 2025. Perubahan itu dilakukan untuk menyesuaikan dampak pemberian insentif likuiditas agar kondisi likuiditas perbankan dapat terbaca lebih akurat.

Langkah penyesuaian metode tersebut menjadi penting karena sejak 2024 hingga 2025, BI aktif memberikan insentif likuiditas makroprudensial guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.

Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan uang primer juga menjadi perhatian pasar karena terjadi bersamaan dengan volatilitas rupiah dan tingginya ketidakpastian eksternal.

Sepanjang awal 2026, pasar keuangan global masih dibayangi arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.

Kondisi tersebut membuat bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia, cenderung menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.