5 Hal Yang Bisa Dilakukan Sobat Rupiah di Tengah Pelemahan Mata Uang Garuda

AKURAT.CO Rupiah terus melemah atau terdepresiasi terhadap dolar AS sejak awal tahun 2026. Pelemahan ini didorong oleh kombinasi faktor global dan musiman.
Tercatat rupiah melemah hampir 5%, tepatnya 4,96% (826.7 poin) dari posisi 1 Januari 2026 Rp16.683 menjadi Rp17.494,5 per Kamis (14/5/2026) pagi pukul 08.07 WIB. Terakhir kali diperdagangkan, rupiah merosot 53 poin (0,3%) ke Rp17.475,5 pada Rabu (13/5/2026) dan bahkan sempat menyentuh level terendah baru Rp17.500.
Dari ekternal, konflik geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga crude oil. Ditambah masih tingginya suku bunga Bank Sentral AS (FFR) serta yield US Treasury 10 tahun. Dari sisi musiman, kebutuhan dolar AS meningkat seiring jatuh tempo pembayaran repatriasi dividen perusahaan, utang luar negeri berdenominasi dolar AS dan transaksi jemaah haji.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Siapa yang Paling Rentan Terdampak?
Lantas apa yang bisa dilakukan Sobat Rupiah, sapaan BI ke masyarakat dalam rangka menggiatkan transaksi berbasis rupiah, saat ini?
Yang paling sederhana, pertama, kurangi transaksi terekspos dolar AS (imported inflation) namun tak terlalu urgent. Kurangi jalan-jalan ke luar negeri (perbanyak berwisata lokal), gadget/ barang branded keluaran terbaru (maksimalkan yang sudah ada selama masih berfungsi dengan baik), suku cadang otomotif untuk keperluan modifikasi.
Kedua, bepergianlah dengan transportasi publik. Dengan konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi yang berkurang, secara agregat Sobat Rupiah bisa membantu negara mengurangi ketergantungan pemerintah mengimpor BBM, yang sangat efektif untuk memupuk cadangan devisa demi stabiliasi rupiah.
Ketiga, jangan terlalu oportunis dengan menimbun dolar AS ke dalam tabungan pribadi untuk dijual saat harga melejit di kemudian hari. BI bahkan belakangan sudah membatasi pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying, dari semula USD100 ribu per orang per bulan ke USD50 ribu per orang per bulan dan ke USD25 ribu per orang per bulan.
Keempat, diversifikasi portofolio investasi ke instrumen dalam negeri. Investor valas khususnya, jangan aji mumpung mentang-mentang investasi berbasis dolar AS sedang menggiurkan. Instrumen seperti SUN, ORI, saham ataupun reksa dana sektor defensif bisa kembali dilirik.
Terakhir, bangga produk dalam negeri dengan lebih sering membeli barang-barang UMKM atau perusahaan nasional dibanding barang impor. Kalau UMKM kuat, mereka bahkan bisa gencar ekspor, kebutuhan dolar susut dan mata uang rupiah akan menguat. Memang terdengar klise, tapi sangat efektif membantu pemerintah/ BI stabilisasi rupiah.
Gerakan Cinta Rupiah
Cinta rupiah merupakan pergerakan sosial, yang kian terdengar semu di era pasar bebas dan kapitalisme hari ini. Dulu saat krismon 1998 melanda, rupiah mati-matian berjuang melawan kedigdayaan dolar AS. Menariknya, perlawanan itu justru datang dari Tanah Air.
Di tengah langit Jakarta yang muram oleh asap kerusuhan dan angka-angka ekonomi yang runtuh satu demi satu, diperparah rupiah yang terjun bebas, memukul harga pangan, menutup pabrik, dan membuat jutaan pasang mata cemas, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto) hadir meredam kecemasan dengan pesan kuat: cintai rupiah agar martabat bangsa terjaga.
Di pasar-pasar, kala itu orang memburu dolar Amerika Serikat seolah mata uang hijau itu satu-satunya perahu penyelamat, membuat rupiah kehilangan bukan hanya nilainya, tetapi juga wibawanya. Dalam suasana demikian, kampanye gerakan cinta rupiah menjelma jadi nada nasionalisme yang kental bahwa mata uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan lambang psikologi sebuah negeri.
Kiranya kampanye Cinta Rupiah di masa itu masih sangat relevan sampai hari ini. Menurut Dosen FEB UGM, Eddy Junarsin, meski tekanan terhadap rupiah bersifat jangka pendek atau sementara, kondisi ini tetap perlu diantisipasi dengan serius agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar di pasar keuangan.
Jika tekanan ini tidak dikelola dengan baik, maka dapat memicu destabilizing speculation, yaitu kondisi ketika pelaku pasar bertindak berlebihan karena kepanikan, sehingga justru memperparah pelemahan rupiah itu sendiri.
"Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation," ujarnya.
BI, lanjut Junarsin, perlu menjalankan kebijakan moneter secara bertahap dan hati-hati, dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Intervensi di pasar valuta asing juga dinilai perlu dilakukan secara terbatas (strelized).
"Jika dilakukan terlalu agresif untuk menahan pelemahan rupiah, justru dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang merugikan, seperti tergerusnya cadangan devisa dan menurunnya kepercayaan pasar," katanya.
Di sisi lain, risiko terhadap perekonomian nasional perlu disikapi secara serius oleh seluruh pemangku kebijakan. Pemerintah diharapkan mampu mengkomunikasikan kebijakan secara jelas dan konsisten untuk menjaga kepercayaan publik dan investor. Selain itu, kepastian hukum, keadilan, serta stabilitas politik dan keamanan juga menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
“Pemerintah perlu mengkomunikasikan berbagai kebijakan dengan baik. Kepastian dan keadilan hukum perlu dijaga dan ditunjukkan. Kebebasan berinovasi dan insentif berusaha perlu ditingkatkan,” kata Junarsin.
Rupiah Simbol Kepercayaan
Di pasar valuta asing, mata uang sesungguhnya bukan sekadar angka yang bergerak di layar terminal bank sentral. Ia adalah cermin kepercayaan—dan kepercayaan, dalam dunia modern, sering kali dibentuk bukan hanya oleh neraca perdagangan atau suku bunga, melainkan juga oleh kata-kata para pemimpin negara.
Sejarah berulang kali menunjukkan bagaimana retorika politik mampu mengguncang nilai tukar lebih cepat dibanding data ekonomi. Ketika Amerika Serikat dan China saling menuding soal manipulasi mata uang pada 2015 hingga 2019, pasar membaca lebih dari sekadar pernyataan diplomatik. Investor melihat ancaman perang dagang, proteksionisme, dan ketidakpastian global.
Saat bank sentral China mendevaluasi yuan sekitar 2% demi menopang ekspor, dunia segera bereaksi. Di Washington, administrasi Presiden Donald Trump menuduh Beijing sengaja melemahkan mata uangnya demi keuntungan dagang. Ketegangan itu lalu menjalar ke pasar global seperti riak yang berubah menjadi badai.
Namun sejarah krisis mata uang selalu menyimpan pelajaran tentang ketahanan. Asia pernah merasakannya pada 1997, ketika runtuhnya baht Thailand menjalar ke berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Nilai tukar jatuh, modal asing keluar, dan kepanikan menyebar lebih cepat daripada kemampuan pemerintah menjelaskan keadaan.
Bertahun-tahun kemudian, gejolak serupa kembali terlihat saat pasar khawatir Federal Reserve akan mengurangi stimulus moneter pada 2013. Rupiah dan rupee India sama-sama terpukul. Investor global, seperti kawanan burung yang terbang serempak, mencari tempat paling aman untuk hinggap.
Di Eropa, Inggris juga mengalami momen ketika politik mengalahkan kalkulasi ekonomi. Referendum Brexit pada Juni 2016 membuat pound sterling anjlok lebih dari 10% terhadap dolar AS hanya dalam sehari. Tidak ada pabrik yang langsung tutup hari itu. Tidak ada pelabuhan yang berhenti bekerja. Tetapi pasar memahami satu hal: ketidakpastian politik dapat menggerus nilai sebuah mata uang jauh sebelum dampaknya terasa di jalanan.
Kisah paling dramatis mungkin datang dari Turki. Pada 2018, lira runtuh lebih dari 20% terhadap dolar AS. Kombinasi utang luar negeri, tekanan geopolitik, dan intervensi politik terhadap bank sentral membuat investor kehilangan keyakinan. Bahkan sebuah unggahan media sosial dari Presiden Trump tentang tarif baja dan aluminium cukup untuk mempercepat kejatuhan lira.
Di tengah gejolak itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan sempat menolak kenaikan suku bunga, sementara cadangan devisa negara tak cukup kuat menopang mata uangnya. Baru setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif, stabilitas perlahan kembali dicari, meski luka ekonominya belum benar-benar sembuh.
Di balik seluruh episode tersebut, ada pelajaran yang relevan bagi negara berkembang maupun individu biasa: ekonomi modern dibangun di atas persepsi. Mata uang tidak jatuh hanya karena angka-angka melemah, tetapi karena keyakinan publik dan investor mulai retak. Sebaliknya, kepercayaan yang dijaga dengan disiplin kebijakan, komunikasi yang tenang, dan kepemimpinan yang konsisten dapat menjadi benteng paling kuat menghadapi gejolak.
Meski depresiasi mata uang sering dipandang sebagai simbol krisis, ia juga dapat menjadi momentum pembenahan. Mata uang yang lebih lemah bisa membuat ekspor lebih kompetitif, industri domestik lebih bergairah, dan pemerintah terdorong memperkuat fondasi ekonomi. Banyak negara yang pernah jatuh justru menemukan jalan reformasi setelah krisis memaksa mereka berubah.
Pada akhirnya, nilai mata uang bukan hanya soal berapa dolar yang bisa dibeli hari ini. Ia adalah refleksi dari seberapa besar dunia percaya pada arah sebuah bangsa. Dan dalam ekonomi global yang bergerak nyaris tanpa jeda, kepercayaan tetap menjadi aset paling mahal yang dimiliki setiap negara
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








