Akurat Logo

Korban Penipuan Digital Terus Bertambah Jadi 411 Ribu, Sisakan Kerugian Finansial dan Luka Emosional

Esha Tri Wahyuni | 14 Mei 2026, 22:55 WIB
Korban Penipuan Digital Terus Bertambah Jadi 411 Ribu, Sisakan Kerugian Finansial dan Luka Emosional
Korban penipuan digital

AKURAT.CO Di tengah lonjakan kasus penipuan digital di Indonesia, perusahaan identitas digital dan fraud prevention, VIDA, meluncurkan pameran narasi bertajuk Faces of Fraud.

Inisiatif ini hadir setelah kerugian akibat penipuan digital tercatat mencapai Rp9 triliun dengan lebih dari 411.000 laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.

Berbeda dari pendekatan kampanye keamanan siber pada umumnya yang fokus pada teknologi dan kerugian materi, VIDA justru mengangkat sisi manusia di balik maraknya fraud digital.

Perusahaan menilai dampak penipuan digital kini telah meluas hingga memicu trauma psikologis, hilangnya rasa aman, hingga rusaknya reputasi korban.

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan setiap kasus penipuan digital menyisakan dampak yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar kehilangan uang.

Setiap wajah dalam Faces of Fraud mewakili seseorang yang pernah menaruh kepercayaan pada sistem keamanan identitas, namun gagal terlindungi dari celah yang ada.

"Melalui gerakan ini, kami ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital tidak hanya meninggalkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, dan dampak yang membekas dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Niki dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).

Melalui pameran tersebut, VIDA menghadirkan lima kisah nyata korban penipuan digital dari berbagai latar belakang. Salah satu kisah datang dari seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan hidup akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat.

Ada pula korban penyalahgunaan identitas yang datanya dipakai untuk pinjaman online ilegal tanpa persetujuan.

VIDA juga mengungkap modus manipulasi empati yang semakin marak terjadi. Dalam salah satu kasus, seorang orang tua kehilangan dana pengobatan anak setelah terjebak donasi palsu yang memanfaatkan rasa iba korban.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pola fraud digital kini semakin berkembang dan terorganisasi.

Berdasarkan whitepaper VIDA bertajuk SEA Digital Identity Fraud Outlook, pelaku kejahatan siber mulai menggabungkan berbagai metode serangan dalam satu skema yang terencana, mulai dari social engineering, pengambilalihan akun, hingga pencurian identitas digital.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas digital masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Transformasi layanan keuangan, belanja daring, hingga penggunaan identitas digital memperluas celah serangan siber jika tidak diimbangi perlindungan keamanan berlapis.

Sebagai informasi, kasus fraud digital di Indonesia mengalami peningkatan sejak pandemi COVID-19 ketika aktivitas masyarakat berpindah ke platform digital.

Modus penipuan yang sebelumnya didominasi phishing sederhana kini berkembang menjadi serangan berbasis manipulasi psikologis dengan memanfaatkan data pribadi korban.

Kondisi tersebut juga mulai menjadi perhatian industri keuangan dan regulator karena berdampak langsung terhadap kepercayaan publik pada ekosistem digital nasional. Tingginya kasus fraud dinilai dapat menghambat akselerasi ekonomi digital Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat.

VIDA menilai pemberantasan penipuan digital tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Perusahaan mendorong adanya sinergi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan identitas digital.

“Selama kesadaran publik masih rendah dan ekosistem belum bergerak secara kolektif, korban akan terus bertambah. Karena itu dibutuhkan regulasi yang kuat, komitmen pelaku usaha untuk mengadopsi perlindungan berlapis, dan masyarakat yang semakin kritis terhadap setiap interaksi digital mereka,” kata Niki.

Menurut VIDA, langkah edukasi publik menjadi krusial di tengah semakin canggihnya metode fraud digital. Sebab, sebagian besar serangan saat ini tidak lagi hanya menargetkan kelemahan sistem teknologi, tetapi juga memanfaatkan kelengahan dan faktor emosional korban.

“Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata: kita semua punya peran dalam memutus rantai ini,” tutup Niki.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.