Gemini Raup Rp885 Miliar, Bisnis OTC Jadi Mesin Baru Kripto

AKURAT.CO Bursa kripto global Gemini mencatat lonjakan pendapatan sebesar 42% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026 menjadi USD50,3 juta atau sekitar Rp885,4 miliar.
Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan agresif bisnis Over-the-Counter (OTC), kartu kredit berbasis kripto, serta ekspansi layanan derivatif di tengah melemahnya transaksi spot ritel global.
Kinerja tersebut langsung direspons positif oleh pasar. Saham Gemini tercatat sempat melonjak hingga 30% dalam perdagangan after-hours usai laporan keuangan dirilis.
Selain itu, Gemini juga memperoleh suntikan dana baru sebesar USD100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun dari Winklevoss Capital Fund.
Seluruh investasi dilakukan menggunakan Bitcoin (BTC) melalui pembelian lebih dari 7,1 juta saham Kelas A dengan harga USD14 per saham.
Baca Juga: Waduh! Hacker Korea Utara Curi Rp32,8 Triliun Kripto Sepanjang 2025
Pendapatan terbesar Gemini kini mulai bergeser dari bisnis perdagangan spot tradisional. Lini bisnis layanan bursa dan pendapatan bunga melonjak 122% menjadi USD24,5 juta atau setara Rp431,3 miliar.
Segmen tersebut kini menyumbang hampir 49% dari total pendapatan perusahaan.
Di sisi lain, bisnis kartu kredit Gemini tumbuh hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi USD14,7 juta. Perusahaan juga mencatat penambahan sekitar 13.100 pemegang kartu baru sepanjang kuartal pertama 2026.
Untuk pertama kalinya sejak diluncurkan pada Desember 2025, Gemini turut membuka kinerja platform prediction markets miliknya. Bisnis tersebut menghasilkan pendapatan sekitar USD400 ribu setelah lebih dari 20 ribu pengguna memperdagangkan lebih dari 100 juta kontrak selama kuartal berjalan.
“Kami berencana bertransformasi dari sekadar perusahaan kripto menjadi perusahaan pasar keuangan yang lebih luas,” ujar pendiri Gemini, Tyler Winklevoss dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Meski begitu, bisnis perdagangan spot konvensional justru mengalami tekanan. Pendapatan dari perdagangan spot turun 27% menjadi USD17,2 juta akibat penurunan volume transaksi aset digital ritel.
Baca Juga: Kripto Melemah, CLARITY Act AS Tahan Tekanan Jual Bitcoin
Penurunan tersebut berhasil ditutup oleh pertumbuhan bisnis OTC yang melonjak tajam. Pendapatan OTC naik dari hanya USD100 ribu pada periode yang sama tahun lalu menjadi USD6,3 juta pada kuartal I-2026. Kenaikan didorong oleh meningkatnya transaksi investor institusi besar melalui platform elektronik OTC milik Gemini.
Fenomena ini mencerminkan perubahan lanskap industri kripto global. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah bursa kripto besar mulai mengurangi ketergantungan terhadap transaksi spot ritel akibat tekanan regulasi dan melambatnya partisipasi investor individu di berbagai negara.
Sebagai konteks, sepanjang 2024 hingga 2025 regulator di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia memperketat pengawasan terhadap perdagangan aset digital, termasuk penerapan aturan anti pencucian uang (AML), transparansi cadangan aset, hingga pembatasan produk leverage untuk investor ritel.
Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan kripto mengalihkan fokus bisnis ke investor institusi yang dinilai memiliki transaksi lebih stabil dan margin lebih besar. Strategi serupa kini terlihat dilakukan Gemini melalui ekspansi OTC, derivatif, hingga prediction market.
Namun di tengah pertumbuhan pendapatan, Gemini masih membukukan rugi bersih sebesar USD109 juta. Kerugian dipicu lonjakan biaya operasional sebesar 73%, terutama untuk kompensasi karyawan, pemasaran, serta pembentukan fraud reserve atau dana perlindungan penipuan.
Meski masih merugi, angka tersebut membaik dibandingkan rugi bersih pada kuartal I-2025 yang mencapai USD149,3 juta.
Di saat bersamaan, Gemini juga menjalankan restrukturisasi besar melalui program “Gemini 2.0”. Dalam program tersebut, perusahaan memutuskan keluar dari pasar Inggris, Uni Eropa, dan Australia serta memangkas sekitar 25% tenaga kerja global.
Langkah efisiensi itu dilakukan untuk menekan biaya operasional dan memfokuskan bisnis pada pasar Amerika Serikat yang dinilai memiliki potensi institusional lebih besar.
Restrukturisasi tersebut sempat memicu gugatan class-action di New York. Gugatan itu menuduh perusahaan menyesatkan investor sebelum dan sesudah IPO pada September 2025 terkait kondisi solvabilitas bisnis internasional.
Sejumlah analis pasar seperti Evercore ISI dan Truist juga sempat menurunkan rekomendasi saham Gemini akibat meningkatnya risiko operasional dan ketidakpastian ekspansi global perusahaan.
Meski menghadapi tekanan hukum dan restrukturisasi, Gemini tetap agresif memperluas lini bisnis keuangan. Pada April 2026, perusahaan resmi memperoleh lisensi Derivatives Clearing Organization dari Commodity Futures Trading Commission atau CFTC.
Lisensi tersebut memungkinkan Gemini meluncurkan berbagai produk derivatif seperti futures, options, dan perpetual contracts secara legal di Amerika Serikat.
“Persetujuan ini menjadi langkah penting untuk memperluas akses investor institusi terhadap produk derivatif kami,” kata Cameron Winklevoss.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








