Saat Bitcoin Berdarah, HYPE Terbang 75 Persen: Mengapa Altcoin Ini Justru Cetak Rekor Saat Pasar Kripto Tertekan?

AKURAT.CO Banyak investor kripto saat ini mencari jawaban atas satu pertanyaan yang cukup unik: mengapa ada aset yang mampu melonjak ketika pasar secara keseluruhan sedang melemah?
Fenomena inilah yang membuat HYPE menjadi sorotan. Saat Bitcoin mengalami tekanan akibat outflow ETF dan sentimen geopolitik global, token Hyperliquid (HYPE) justru bergerak berlawanan arah dengan mencatatkan kenaikan spektakuler dan menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa.
Ringkasan
Berdasarkan data pasar yang dipaparkan Panji Yudha, Financial Expert Ajaib, terdapat beberapa faktor yang membuat HYPE mampu melawan tren pasar:
Bitcoin tertekan akibat sentimen risk-off global.
ETF Bitcoin Spot mengalami net outflow hingga US$2,43 miliar sepanjang Mei 2026.
Investor mulai mencari peluang di luar aset kripto utama.
HYPE berhasil memasuki fase price discovery, yaitu kondisi ketika harga bergerak ke level tertinggi baru tanpa hambatan historis.
Momentum dan minat pasar terhadap ekosistem Hyperliquid mendorong kenaikan lebih dari 75% dalam sebulan.
Singkatnya, ketika sebagian modal keluar dari Bitcoin, sebagian investor justru mengalihkan perhatian ke altcoin dengan narasi pertumbuhan yang lebih agresif.
Mengapa Bitcoin Tertekan di Awal Juni 2026?
Awal Juni menjadi periode yang cukup berat bagi pasar kripto. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$71.300 atau sekitar Rp1,27 miliar, turun 3,48% dalam 24 jam terakhir.
Menurut Panji Yudha, tekanan tersebut tidak muncul dari satu faktor saja. Kombinasi risiko geopolitik dan kondisi makroekonomi global membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
"Pasar kripto mengawali Juni dengan tekanan jual akibat eskalasi di Timur Tengah. Keputusan Iran menangguhkan negosiasi gencatan senjata dengan AS dan ancaman blokade Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent lebih dari 8% ke US$94 per barel," ujar Panji Yudha dalam analisis pasar Ajaib yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 2 Juni 2026.
Kenaikan harga minyak biasanya memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Ketika inflasi berpotensi meningkat, peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi juga semakin besar.
Akibatnya, investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko seperti saham teknologi dan aset kripto.
Data Ajaib menunjukkan Bitcoin bahkan sempat menyentuh level terendah hampir dua bulan di area US$71.000.
Baca Juga: Investor Kripto RI Terus Bertambah Jelang Bitcoin Pizza Day 2026
Outflow ETF Bitcoin Jadi Sinyal Penting bagi Investor
Jika konflik geopolitik menjadi pemicu jangka pendek, maka faktor yang lebih besar sebenarnya berasal dari arus dana institusional.
Sepanjang Mei 2026, ETF Bitcoin Spot mencatat net outflow mencapai US$2,43 miliar. Angka tersebut menjadi salah satu pendarahan likuiditas terbesar sejak ETF Bitcoin mulai menjadi instrumen investasi utama bagi institusi.
Panji Yudha menjelaskan bahwa tekanan terbesar terjadi pada pekan terakhir Mei.
"Tekanan harga sejalan dengan eksodus raksasa Wall Street dari ETF Bitcoin Spot yang mencatatkan net outflow fantastis sebesar US$2,43 miliar sepanjang Mei. Pendarahan likuiditas terburuk terjadi di pekan terakhir Mei dengan outflow US$1,42 miliar," katanya.
Lebih lanjut, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi menjadi alasan utama di balik keluarnya dana tersebut.
Probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Juni bahkan mencapai 98,81%.
Bagi pasar kripto, kondisi ini berarti satu hal: likuiditas yang biasanya mendorong kenaikan harga Bitcoin sedang berkurang.
Bagaimana HYPE Bisa Melawan Arus Pasar?
Di tengah tekanan besar yang menimpa Bitcoin dan Ethereum, HYPE justru menjadi salah satu aset dengan performa paling menonjol.
Data Ajaib menunjukkan HYPE berhasil menembus zona All-Time High (ATH) baru di level Rp1.346.130 pada 1 Juni 2026.
Yang lebih menarik, kenaikan tersebut bukan sekadar lonjakan sesaat.
Dalam satu bulan terakhir, HYPE telah melonjak lebih dari 75%.
Di sinilah letak perbedaan utama antara HYPE dan sebagian besar altcoin lainnya.
Ketika pasar sedang mengalami ketidakpastian, investor biasanya melakukan dua hal:
Bertahan di Bitcoin.
Berburu aset dengan momentum pertumbuhan paling kuat.
HYPE masuk ke kategori kedua.
Ketika Bitcoin bergerak defensif dan Ethereum belum menunjukkan akselerasi yang signifikan, sebagian investor mulai mencari peluang baru yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Fenomena ini dikenal sebagai rotasi modal kripto.
Alih-alih meninggalkan pasar sepenuhnya, sebagian dana hanya berpindah dari aset yang stagnan menuju aset yang sedang memiliki narasi kuat.
Apakah Sedang Terjadi Rotasi Modal dari Bitcoin ke Altcoin?
Inilah insight yang sering luput dari perhatian investor pemula.
Banyak orang menganggap keluarnya dana dari Bitcoin berarti seluruh pasar kripto sedang ditinggalkan. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Dalam beberapa siklus pasar, dana justru berpindah dari aset utama menuju aset dengan potensi pertumbuhan lebih agresif.
Kasus HYPE menjadi contoh yang menarik.
Saat Bitcoin membukukan return bulanan negatif sebesar 3,41% pada Mei 2026, HYPE justru mencatat pertumbuhan lebih dari 75%.
Artinya, terdapat perbedaan kinerja hampir 80 poin persentase dalam periode yang sama.
Ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya bergerak berdasarkan sentimen makro, tetapi juga berdasarkan pencarian narasi baru.
Ketika cerita mengenai ETF Bitcoin mulai kehilangan momentum, investor mulai melirik proyek yang menawarkan pertumbuhan ekosistem dan aktivitas perdagangan yang lebih dinamis.
Apa yang Membuat Reli HYPE Berbeda dari Altcoin Lain?
Tidak semua altcoin yang naik dapat dianggap memiliki kekuatan yang sama.
Sebagai contoh, Dogecoin saat ini mendapat sentimen positif setelah menjalin kerja sama dengan Paxos yang berpotensi membuka akses ke platform pembayaran global seperti PayPal, Venmo, dan Mercado Libre.
Sementara itu, komunitas Toncoin juga sedang membahas perubahan identitas dengan dukungan mayoritas anggota komunitas.
Namun HYPE memiliki karakteristik yang berbeda.
Kenaikan HYPE terjadi ketika:
Bitcoin sedang melemah.
Ethereum belum menunjukkan momentum dominan.
ETF Bitcoin mengalami outflow besar.
Sentimen pasar secara umum cenderung negatif.
Dalam kondisi seperti itu, aset yang mampu mencetak ATH baru biasanya menunjukkan adanya kekuatan permintaan yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata pasar.
Ini yang membuat pergerakan HYPE menjadi menarik untuk diamati.
Baca Juga: AS-Iran Dekati Fase Damai, Saham AS Reli Tajam Bitcoin Terkapar
Baca Juga: 5 Tips Memanfaatkan Momen Harga Emas Melemah Agar Cuan Maksimal
Simulasi Sederhana: Investor Bitcoin vs Investor HYPE
Untuk memahami besarnya perbedaan performa tersebut, bayangkan dua investor memiliki modal yang sama sebesar Rp100 juta pada awal Mei 2026.
Investor A Membeli Bitcoin
Jika mengikuti kinerja bulanan Bitcoin yang turun 3,41%, maka nilai investasinya menjadi sekitar:
Rp100 juta → Rp96,59 juta
Investor B Membeli HYPE
Jika mengikuti kenaikan HYPE lebih dari 75%, maka nilai investasinya menjadi sekitar:
Rp100 juta → Rp175 juta
Perbedaannya mencapai hampir Rp78 juta hanya dalam satu bulan.
Tentu saja ilustrasi ini tidak memperhitungkan biaya transaksi dan risiko pasar. Namun simulasi tersebut menunjukkan bagaimana pemilihan aset dapat menghasilkan hasil yang sangat berbeda meski berada dalam industri yang sama.
Apa Risiko Mengejar Altcoin yang Sedang Naik?
Meski terlihat menarik, investor tetap perlu berhati-hati.
Salah satu kesalahan paling umum dalam pasar kripto adalah membeli aset hanya karena sedang viral.
Ketika sebuah aset mencetak ATH baru, risiko koreksi juga meningkat.
Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
FOMO (Fear of Missing Out)
Volatilitas ekstrem
Likuiditas yang berubah cepat
Profit taking investor besar
Koreksi tajam setelah euforia
Dalam banyak kasus, investor yang masuk terlalu terlambat justru menjadi pihak yang menanggung risiko terbesar ketika tren mulai berbalik.
Karena itu, memahami alasan fundamental di balik kenaikan harga jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren.
Pelajaran Penting dari Fenomena HYPE
Fenomena HYPE memberikan pelajaran menarik bagi investor kripto.
Keuntungan terbesar dalam pasar tidak selalu berasal dari aset yang paling populer. Terkadang peluang muncul ketika sebagian besar perhatian pasar terfokus pada aset lain.
Saat media dan investor sibuk membahas outflow ETF Bitcoin, HYPE justru membangun momentum yang membawanya ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Data Ajaib menunjukkan bahwa HYPE menjadi salah satu contoh bagaimana narasi baru dapat mengalahkan sentimen negatif pasar secara keseluruhan.
Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi mengapa Bitcoin turun, melainkan apakah HYPE mampu mempertahankan momentumnya dalam beberapa bulan ke depan.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan proyek mempertahankan pertumbuhan pengguna, aktivitas perdagangan, dan kepercayaan investor di tengah pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Satu hal yang pasti, kisah HYPE membuktikan bahwa bahkan ketika pasar kripto sedang berdarah, selalu ada aset yang berhasil menemukan jalannya sendiri menuju puncak. Pantau terus perkembangan pasar kripto untuk melihat apakah fenomena ini akan menjadi awal tren baru atau sekadar pengecualian sementara.
Baca Juga: Leverage Bitcoin Memanas, Pasar Kripto Dibayangi Koreksi Tajam
Baca Juga: Harga Bitcoin Mulai Lesu, 3 Altcoin Ini Jadi Sorotan Jelang Juni 2026
FAQ
Mengapa HYPE naik saat Bitcoin turun?
HYPE naik karena investor mencari aset dengan momentum pertumbuhan lebih tinggi ketika Bitcoin tertekan oleh sentimen geopolitik dan outflow ETF. Rotasi modal ke altcoin tertentu menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga HYPE.
Apa itu HYPE dalam dunia kripto?
HYPE adalah token dari ekosistem Hyperliquid yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan karena pertumbuhan harga yang agresif dan aktivitas perdagangan yang meningkat di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Apakah outflow ETF Bitcoin memengaruhi harga BTC?
Ya. Outflow ETF Bitcoin menunjukkan adanya dana institusional yang keluar dari pasar. Ketika arus keluar terjadi dalam jumlah besar, tekanan jual biasanya meningkat dan dapat memengaruhi harga Bitcoin.
Apakah HYPE masih layak dipantau setelah mencetak ATH?
HYPE masih menarik untuk dipantau karena menunjukkan kekuatan relatif dibanding pasar. Namun investor perlu mempertimbangkan risiko volatilitas dan potensi koreksi setelah kenaikan yang sangat cepat.
Apa yang dimaksud rotasi modal kripto?
Rotasi modal kripto adalah perpindahan dana dari satu kelompok aset ke kelompok aset lain. Misalnya, dari Bitcoin menuju altcoin yang sedang memiliki momentum pertumbuhan lebih kuat.
Mengapa Bitcoin melemah pada Juni 2026?
Bitcoin melemah akibat kombinasi sentimen risk-off global, konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan net outflow ETF Bitcoin Spot yang mencapai US$2,43 miliar sepanjang Mei 2026.
Apakah altcoin selalu naik saat Bitcoin turun?
Tidak. Sebagian besar altcoin justru ikut melemah ketika Bitcoin turun. Namun dalam kondisi tertentu, beberapa aset dengan sentimen dan momentum kuat dapat bergerak berlawanan arah seperti yang terjadi pada HYPE.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








