Akurat Logo

Rupiah Tertekan, Ekonom Minta BI Tiru Strategi Brasil Keluar dari Krisis

Moehamad Dheny Permana | 7 Juni 2026, 22:26 WIB
Rupiah Tertekan, Ekonom Minta BI Tiru Strategi Brasil Keluar dari Krisis
Bank Indonesia (BI).

AKURAT.CO Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dinilai justru memperberat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Alih-alih memperkuat mata uang domestik, langkah tersebut disebut memicu kekhawatiran pasar dan mempercepat arus keluar modal asing dari Indonesia.

Ekonom Gede Sandra menilai, kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan krisis yang pernah dialami Brasil pada 2002.

Saat itu, otoritas moneter Brasil menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, namun kebijakan tersebut justru memicu kepanikan pasar dan memperburuk pelemahan mata uang.

"Ini sebenarnya bisa dihindari apabila respons bank sentral lebih tepat. Tetapi yang terjadi justru seolah memperburuk keadaan," ujar Gede Sandra, Minggu (7/6/2026).

Ia merujuk pada penelitian ekonom Olivier Blanchard pada 2004 yang menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga di Brasil kala itu tidak mampu memperkuat mata uang, melainkan memicu eksodus modal asing.

"Harapannya mata uang menguat, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pengalaman Brasil seharusnya menjadi pelajaran bagi otoritas moneter Indonesia," katanya.

Menurut Gede, tingginya rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) dan kenaikan imbal hasil surat utang negara turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap risiko gagal bayar.

Baca Juga: Airlangga: USTR Kabulkan 18 Pengecualian Tarif yang Diajukan RI

"Ketika suku bunga dinaikkan, imbal hasil surat utang ikut terdorong naik. Investor menjadi khawatir terhadap risiko yang mungkin muncul di kemudian hari," jelasnya.

Di sisi lain, ia menilai kinerja fiskal pemerintah sebenarnya menunjukkan perkembangan yang positif.

Hingga April 2026, penerimaan negara tercatat mencapai Rp918 triliun dengan belanja sebesar Rp1.024 triliun.

Defisit anggaran masih berada pada level terkendali, sementara keseimbangan primer kembali mencatat surplus dan neraca perdagangan tetap positif.

Namun, menurutnya, capaian tersebut kurang mendapat dukungan dari kebijakan moneter.

"Kebijakan fiskal yang sudah berjalan baik seolah dinegasikan oleh kebijakan moneter. Seharusnya keduanya bergerak searah," ujarnya.

Selain faktor suku bunga, Gede juga menyoroti proses dedolarisasi yang dilakukan Indonesia melalui perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dan penggunaan QRIS lintas negara.

Menurutnya, langkah tersebut turut memengaruhi persepsi investor global.

Ia menjelaskan, perubahan tatanan ekonomi global, melemahnya dominasi petrodolar, serta meningkatnya penggunaan mata uang lokal oleh negara-negara BRICS telah mendorong Amerika Serikat menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya memicu perpindahan modal dari negara berkembang.

Empat Pelajaran dari Brasil

Meski demikian, Gede meyakini Indonesia masih memiliki peluang menjaga stabilitas ekonomi apabila kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan selaras.

Baca Juga: Bulog Distribusikan Beras SPHP ke 20 Juta Warga per Awal Juni 2026

Ia menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia meniru empat langkah yang ditempuh pemerintahan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva pada 2002-2003 untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Pertama, menjaga surplus keseimbangan primer pada level tinggi. Kedua, melakukan reformasi anggaran dan efisiensi program pemerintah.

Ketiga, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sebagai strategi jangka panjang. Keempat, menerapkan disiplin fiskal melalui pengendalian anggaran.

"Dengan empat langkah tersebut, Brasil berhasil keluar dari tekanan. Setelah kepercayaan pasar pulih, nilai tukar menguat dan inflasi turun, bank sentral baru menaikkan suku bunga tanpa menimbulkan gejolak," kata Gede.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.