Akurat Logo

Hanya 14 Persen Orang Indonesia Merasa Sangat Aman Secara Finansial, Mengapa Mayoritas Masih Khawatir soal Uang?

Idham Nur Indrajaya | 11 Juni 2026, 15:17 WIB
Hanya 14 Persen Orang Indonesia Merasa Sangat Aman Secara Finansial, Mengapa Mayoritas Masih Khawatir soal Uang?
Hanya 14% orang Indonesia merasa aman secara finansial. Simak hasil survei terbaru dan faktor yang memengaruhi rasa aman keuangan. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Memiliki pekerjaan tetap, menerima gaji setiap bulan, bahkan memiliki sedikit tabungan ternyata tidak selalu membuat seseorang merasa tenang soal kondisi keuangannya. Banyak orang masih menyimpan kekhawatiran yang sama: bagaimana jika tiba-tiba kehilangan penghasilan, menghadapi biaya kesehatan yang besar, atau harus menanggung kebutuhan keluarga yang terus meningkat?

Kekhawatiran tersebut tampaknya bukan hanya dirasakan oleh segelintir orang. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa rasa aman secara finansial masih menjadi sesuatu yang sulit dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dikutip dari hasil Financial Resilience Index 2026 yang dirilis Sun Life Indonesia bersama Genpop, hanya 14 persen masyarakat Indonesia yang merasa sangat aman secara finansial. Temuan ini muncul dari survei terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, studi yang sama juga menemukan bahwa hanya 45 persen responden yang merasa mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Sementara itu, 80 persen masyarakat mengaku merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran bahwa meskipun sebagian masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, rasa aman terhadap masa depan keuangan belum sepenuhnya terbentuk.

Ringkasan

Berikut beberapa temuan penting dari Financial Resilience Index 2026:

  • Hanya 14 persen masyarakat Indonesia yang merasa sangat aman secara finansial.

  • Sebanyak 80 persen merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup.

  • Hanya 45 persen yang merasa mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan.

  • Hampir separuh responden belum memiliki rencana keuangan jangka panjang.

  • Individu dengan literasi keuangan yang baik memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa rasa aman finansial tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan, tetapi juga oleh kesiapan menghadapi risiko ekonomi di masa depan.

Baca Juga: Pertamax Naik dan Biaya Hidup Meningkat? Ini Strategi Keuangan yang Bisa Dilakukan

Baca Juga: Financial Freedom, Strategi Investasi dan Kebiasaan Finansial yang Efektif

Mengapa Hanya 14 Persen Orang Indonesia Merasa Aman Secara Finansial?

Jika melihat angka tersebut secara sederhana, artinya sekitar 86 persen masyarakat Indonesia belum merasa benar-benar aman secara finansial.

Ini bukan berarti 86 persen masyarakat berada dalam kondisi miskin atau mengalami kesulitan ekonomi. Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan bahwa banyak orang masih merasa rentan terhadap berbagai risiko keuangan.

Risiko itu bisa datang dari berbagai arah, seperti:

  • Kehilangan pekerjaan.

  • Penurunan pendapatan.

  • Kebutuhan kesehatan mendadak.

  • Kenaikan biaya hidup.

  • Beban pendidikan anak.

  • Kewajiban cicilan yang terus berjalan.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, rasa aman finansial menjadi sesuatu yang lebih sulit dicapai dibanding sekadar memiliki penghasilan rutin.

Angka 14 Persen Sebenarnya Sangat Rendah

Jika hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial, maka mayoritas masyarakat masih hidup dengan tingkat kecemasan finansial tertentu.

Ini menjadi sinyal penting karena rasa aman finansial sering kali berhubungan dengan kualitas hidup, tingkat stres, serta kemampuan seseorang membuat keputusan jangka panjang.

Ketika seseorang merasa kondisi keuangannya rapuh, mereka cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko, menunda investasi, atau bahkan menunda berbagai rencana masa depan.

Apa Arti Aman Secara Finansial bagi Masyarakat Indonesia?

Banyak orang menganggap aman secara finansial identik dengan memiliki pendapatan besar. Namun dalam praktiknya, definisi tersebut jauh lebih luas.

Seseorang dapat dikatakan memiliki keamanan finansial ketika ia merasa mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan masa depannya.

Keamanan finansial biasanya ditandai oleh beberapa hal:

  • Memiliki dana darurat.

  • Mampu menghadapi pengeluaran tak terduga.

  • Tidak bergantung pada utang untuk kebutuhan rutin.

  • Memiliki perencanaan keuangan yang jelas.

  • Memiliki perlindungan terhadap risiko keuangan.

Dengan kata lain, rasa aman finansial lebih berkaitan dengan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan daripada sekadar jumlah uang yang dimiliki saat ini.

Data Survei: Mayoritas Warga Masih Merasa Rentan Secara Keuangan

Temuan lain dalam survei ini memperkuat gambaran tersebut.

Sebanyak 45 persen responden mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan. Di sisi lain, berarti masih ada sebagian besar masyarakat yang merasa kemampuan bertahannya lebih pendek dari periode tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga masih memiliki bantalan keuangan yang terbatas.

Pada saat yang sama, hampir separuh responden belum memiliki rencana keuangan jangka panjang. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek dibanding mempersiapkan masa depan.

Ketika dua kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, rasa aman finansial menjadi semakin sulit dibangun.

Mengapa Pendapatan Besar Tidak Selalu Membuat Seseorang Merasa Aman?

Salah satu temuan menarik yang dapat diinterpretasikan dari survei ini adalah bahwa rasa aman finansial tidak selalu berjalan seiring dengan tingkat pendapatan.

Banyak orang beranggapan bahwa semakin besar penghasilan, semakin tinggi pula tingkat keamanan finansial seseorang.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Simulasi Realistis

Bayangkan ada dua pekerja dengan penghasilan yang sama, yaitu Rp10 juta per bulan.

Pekerja pertama memiliki dana darurat yang cukup untuk kebutuhan satu tahun, memiliki asuransi kesehatan, dan sudah menyusun rencana keuangan jangka panjang.

Pekerja kedua memiliki penghasilan yang sama, tetapi hampir seluruh pendapatannya habis untuk kebutuhan konsumtif. Ia tidak memiliki tabungan yang memadai dan belum memiliki perlindungan keuangan.

Jika keduanya kehilangan pekerjaan besok, siapa yang akan merasa lebih aman?

Jawabannya jelas bukan ditentukan oleh besarnya gaji, melainkan oleh tingkat kesiapan menghadapi risiko.

Inilah mengapa keamanan finansial lebih dekat dengan konsep ketahanan finansial dibanding sekadar pendapatan bulanan.

Literasi Keuangan dan Ketahanan Finansial Jadi Faktor Pembeda

Studi Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa individu yang memiliki literasi keuangan lebih baik cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi.

Mereka juga tercatat tiga kali lebih mungkin merasa siap menghadapi kenaikan biaya hidup dibanding kelompok dengan tingkat literasi keuangan yang rendah.

Selain itu, mereka:

  • Lebih optimistis terhadap kondisi keuangan masa depan.

  • Lebih siap menghadapi keadaan darurat.

  • Lebih konsisten membuat perencanaan jangka panjang.

  • Lebih kecil kemungkinan mengalami stres finansial berkepanjangan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengetahuan keuangan bukan hanya membantu seseorang mengelola uang, tetapi juga meningkatkan rasa kontrol terhadap masa depan finansialnya.

Bagaimana Membangun Rasa Aman Finansial di Tengah Ketidakpastian?

Menurut President Director Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, kesiapan finansial menjadi elemen penting dalam menghadapi kondisi ekonomi yang terus berubah.

"Temuan ini mencerminkan bagaimana banyak masyarakat Indonesia menyeimbangkan kebutuhan finansial jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Di tengah perubahan kondisi ekonomi, kesiapan finansial menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial," ujar Albertus melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rasa aman finansial tidak muncul secara instan. Keamanan finansial dibangun melalui berbagai keputusan yang dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.

Albertus juga menyoroti pentingnya fondasi pengetahuan keuangan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin cepat.

"Teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi dan literasi keuangan, namun tidak menggantikan kebutuhan akan panduan ahli atau penasihat keuangan yang bertanggung jawab," kata Albertus.

Dari perspektif yang lebih luas, pernyataan ini menunjukkan bahwa informasi keuangan kini semakin mudah diakses. Namun kemampuan mengevaluasi informasi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari tetap menjadi faktor yang menentukan.

Paradoks Keamanan Finansial di Era Modern

Ada satu paradoks menarik yang terlihat dari hasil survei ini.

Banyak orang menilai keamanan finansial dari jumlah uang yang masuk setiap bulan. Padahal yang lebih menentukan sering kali adalah kemampuan bertahan ketika uang tersebut berhenti masuk.

Karena itu, seseorang dengan penghasilan sedang tetapi memiliki dana darurat, perencanaan yang baik, dan perlindungan finansial bisa merasa lebih aman dibanding mereka yang berpenghasilan tinggi tetapi hidup tanpa persiapan.

Temuan ini sekaligus menjelaskan mengapa hanya 14 persen masyarakat Indonesia yang merasa sangat aman secara finansial.

Di tengah kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan berbagai risiko yang bisa muncul kapan saja, rasa aman tidak lagi hanya soal pendapatan. Rasa aman lahir dari keyakinan bahwa seseorang memiliki kapasitas untuk menghadapi perubahan yang tidak terduga.

Ketika Rasa Aman Menjadi Tantangan Baru

Hasil Financial Resilience Index 2026 menunjukkan bahwa keamanan finansial masih menjadi tantangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Meski banyak yang tetap bekerja dan memperoleh penghasilan, rasa aman terhadap masa depan belum sepenuhnya terbentuk.

Jika hanya sebagian kecil masyarakat merasa benar-benar aman secara finansial, maka tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan pendapatan. Tantangan yang lebih besar adalah membangun ketahanan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi yang bisa datang kapan saja.

Pantau terus perkembangan isu ekonomi dan keuangan masyarakat Indonesia untuk memahami perubahan kondisi finansial yang sedang terjadi.

Baca Juga: Hasil Survei FWD: Banyak Warga RI Belum Merasa Aman Secara Finansial

Baca Juga: Mengenal SHIFA Signature, Asuransi Kesehatan Syariah Sun Life dengan Limit Rp35 Miliar yang Menjawab Ancaman Biaya Medis Modern

FAQ

Mengapa hanya sedikit masyarakat Indonesia yang merasa aman secara finansial?

Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang merasa aman secara finansial karena banyak rumah tangga masih menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat. Ketika pengeluaran rutin seperti makanan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan terus naik sementara pendapatan tidak bertambah signifikan, ruang untuk menabung dan membangun dana darurat menjadi terbatas. Kondisi ini membuat sebagian besar orang merasa rentan terhadap risiko keuangan meskipun memiliki pekerjaan tetap.

Apa yang dimaksud dengan aman secara finansial dalam kehidupan sehari-hari?

Aman secara finansial berarti seseorang memiliki kondisi keuangan yang cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus siap menghadapi risiko di masa depan. Ini mencakup kemampuan membayar kebutuhan rutin tanpa utang berlebihan, memiliki dana darurat, serta memiliki perencanaan keuangan jangka panjang. Dengan kata lain, keamanan finansial bukan hanya soal penghasilan besar, tetapi juga kesiapan menghadapi situasi tak terduga.

Apakah pendapatan tinggi menjamin rasa aman secara finansial?

Pendapatan tinggi tidak selalu menjamin seseorang merasa aman secara finansial karena rasa aman lebih dipengaruhi oleh cara mengelola uang dibanding jumlah penghasilan. Seseorang dengan gaji besar tetapi tanpa tabungan, dana darurat, atau perencanaan keuangan bisa tetap merasa rentan. Sebaliknya, individu dengan penghasilan lebih sederhana tetapi memiliki pengelolaan keuangan yang baik cenderung lebih stabil secara finansial.

Apa faktor utama yang memengaruhi keamanan finansial masyarakat Indonesia?

Faktor utama yang memengaruhi keamanan finansial masyarakat Indonesia meliputi literasi keuangan, stabilitas pendapatan, pengelolaan pengeluaran, dan kesiapan menghadapi risiko darurat. Selain itu, kenaikan biaya hidup juga menjadi faktor besar yang membuat banyak orang kesulitan mencapai rasa aman secara finansial. Kombinasi faktor-faktor ini menentukan seberapa kuat ketahanan finansial seseorang dalam jangka panjang.

Mengapa banyak orang masih merasa rentan secara keuangan meski sudah bekerja?

Banyak orang masih merasa rentan secara keuangan meskipun sudah bekerja karena sebagian besar pendapatan mereka habis untuk kebutuhan bulanan. Tanpa adanya dana darurat atau tabungan yang cukup, sedikit gangguan seperti biaya kesehatan atau kehilangan pekerjaan dapat langsung memengaruhi kondisi finansial. Hal ini membuat rasa aman secara finansial sulit tercapai meskipun memiliki penghasilan tetap setiap bulan.

Bagaimana cara meningkatkan keamanan finansial di tengah biaya hidup yang tinggi?

Keamanan finansial dapat ditingkatkan dengan membangun kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin, seperti menyusun anggaran bulanan, menyiapkan dana darurat, dan mengurangi pengeluaran tidak penting. Selain itu, meningkatkan literasi keuangan juga membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijak terkait tabungan, investasi, dan perlindungan risiko. Konsistensi dalam perencanaan jangka panjang menjadi kunci utama untuk memperkuat rasa aman finansial.

Apa hubungan literasi keuangan dengan rasa aman secara finansial?

Literasi keuangan memiliki hubungan erat dengan rasa aman secara finansial karena membantu seseorang memahami cara mengelola pendapatan, mengatur risiko, dan merencanakan masa depan. Individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung lebih siap menghadapi kondisi darurat dan memiliki kontrol lebih besar terhadap keuangannya. Hal ini membuat mereka lebih percaya diri dan merasa lebih aman secara finansial dibanding mereka yang kurang memahami pengelolaan keuangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.