Akurat Logo

BRI Antar Pelaku Usaha di Kebon Jeruk Naik Kelas Jadi Juragan Kos-kosan Lewat Kredit Program Perumahan

Yosi Winosa | 19 Juni 2026, 17:46 WIB
BRI Antar Pelaku Usaha di Kebon Jeruk Naik Kelas Jadi Juragan Kos-kosan Lewat Kredit Program Perumahan
Agus Asmat, juragan kos-kosan dan kontrakan asal Kebon Jeruk peraih KPP BRI

AKURAT.CO Agus Asmat (55), warga betawi yang tinggal di daerah Kebon Jeruk tak menyangka bakal punya lebih dari 20 pintu kos-kosan dan kontrakan. Di tahun 2000 an, ia sempat bingung saat dua anaknya mau masuk sekolah karena tak punya cukup simpanan.

Saat itu ia terpaksa ngojek. Pelan-pelan ia akhirnya diterima kerja menjadi sekuriti. Sejak punya penghasilan tetap, Agus mulai mencari ide agar perekonomiannya lebih baik lagi demi keluarga dan terutama demi biaya sekolah anak-anaknya, agar mereka memiliki tempat tinggal, makan dan pendidikan yang layak.

Kemudian tercetus ide untuk berbisnis kontrakan dan kos-kosan. Ia mulai mencari lahan atau tanah yang murah, tanpa memperdulikan lokasi. Kebetulan di tahun 2013 ia dikenalkan dengan salah satu karyawan BRI Rawa Belong tahun 2013. Didapatilah pinjaman pertama dari BRI sebesar Rp100 juta untuk memulai usaha. Ia membangun kos-kosan dan kontrakan di Jalan Kampung Rawa II, RT13/ RW4, Kebon Jerok dan juga di Ciledug.

Baca Juga: Cerita Perantau Asal Semarang Jatuh Bangun Jadi Agen BRILink

“Saat itu saya memang sudah berencana membangun kontrakan. Ternyata dalam perjalanannya, rumah saya ada yang minat, saya jual. Akhirnya berkembang lah jadi usaha jual beli rumah, 1 unit, 4 unit. Saya belikan tanah di sekitar Jalan Karyawan II, Karang Tengah, Cileduk. Di situ saya bikin juga rumah-rumah. Kalau laku saya jual, kalau enggak laku saya kontrakin, sampai sekarang,” kenangnya.

Harga kosan dan kontrakannya pun beragam. Ada yang Rp500 ribu per bulan, Rp1 juta, Rp1,5 juta hingga Rp2,3 juta. Tak hanya berbisnis kos-kosan dan kontrakan sebagai usaha utama, Agus dalam perjalannnya pun merambah usaha sampingan lain seperti agen sembako, pangkalan LPG, agen minuman mineral aneka merek, agen plastik, es kacang merah, parkiran hingga perkebunan. Dari semua usahanya itu, tiap bulannya ia menerima income lebih dari Rp60 juta.

“Ini saya lagi ada usaha perkebunan, menggarap pisang, cabai rawit, jeruk limau semua totalnya ada 8 hektare di Desa Gunung Malang, Sukabumi. Ada yang saya beli tanah, ada yang sewa tanah, ada yang kerja sama bagi hasil,” imbuh Agus.

Jika dihitung-hitung dari 2013 hingga 2026, Agus sudah bolak-balik meminjam ke BRI sekitar Rp500 juta, termasuk yang terkini Kredit Program Perumahan atau KPP senilai Rp100 juta. Pinjamannya tak sekadar KUR, termasuk juga pinjaman komersial seperti Kupedes.

Diakui Agus, pinjaman KPP Rp100 juta, tenor 24 bulan dan cicilan Rp4,4 juta alias bunga 6% baru-baru ini dari BRI ia pakai untuk membangun 6 pintu kos-kosan seharga sewa Rp1 juta per pintu per bulan. Dengan asumsi terisi penuh, masih lebih dari cukup untuk menutup cicilan bulanan. “Untuk cicilan itu alhamdulillah sebenarnya dari usaha mana saja sudah ketutup. Saya kan selain kontrakan ada usaha lainnya juga,” tutur Agus.

Agus merasa KPP, berbeda dengan KUR maupun Kupedes, sangat berdampak karena bunga yang murah dan proses yang sangat mudah tanpa mensyaratkan agunan. Jika saat meminjam awal dulu Rp100 juta tenor 24 bulan ia harus mencicil Rp5,1 juta per bulan (bunga 11-12%), kini dengan KPP cicilannya hanya Rp4,4 juta per bulan untuk nominal dan tenor yang sama.

“KPP bedanya bunganya sangat menolong cuma 6 persen enggak terlalu besar. Bunga lebih ringan karena disubsidi pemerintah 5 persen dari total yang seharusnya 11-12%. Jadi karena disubsidi pemerintah, kamu cukup bayar yang 6 persen dan, tanpa agunan. Intinya, dulu mah bingung juga lah kami (bunga tidak murah),” cerita Agus.

Informasi mengenai KPP BRI sendiri ia dapat dari salah satu mantri BRI langgannanya, Eko. “Saya kan memang sudah lama jadi nasabah BRI. Waktu kemarin itu mantrinya bilang ‘Pak ini ada program KUR baru, bapak lagi ada pengembangan usaha apa? Saya lagi bangun kos-kosan’. Yasudah dapat lah KPP itu sehingga saya bisa melanjutkan pembangunan kos-kosannya 6 pintu sampai jadi,” tutur Agus.

Pengembangan dari KUR

Regional Micro Banking Head BRI RO Jakarta 3, Oloan Susanto Nasution

Kredit Program Perumahan (KPP), menurut Regional Micro Banking Head BRI RO Jakarta 3, Oloan Susanto Nasution sejatinya merupakan pengembangan dari KUR yang diluncurkan di akhir 2025. KPP diluncurkan dalam rangka mengakselerasi program 3 juta rumah pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Yang unik, kalo dulu KUR tak bisa lagi dinikmati oleh nasabah yang sudah layak mendapatkan kredit komersial seperti Kupedes dan lain-lain karena dianggap sudah mampu mencicil dengan bunga komersial, dengan adanya KPP ini bisa,” ujar Oloan.

Namun demikian, skema peruntukannya tetap untuk usaha produktif khususnya terkait properti seperti kos-kosan atau mengupgrade tempat usaha yang sudah terlalu kecil untuk menyimpan stok barang dagangan misalnya.

Meski tanpa agunan, sejatinya nasabah penerima KPP sudah dikurasi karena salah satu syaratnya adalah memiliki usaha yang sudah berjalan 6 bulan dan menguntungkan. Mereka bisa mengajukan pinjaman mulai Rp10 juta hingga Rp500 juta, dengan tenor maksimal 5 tahun.

“Kembali lagi, dasarnya adalah pelaku usaha produktif, itu proven. Jadi ada juga batasannya seperti nasabah sudah menjalankan usahanya 6 bulan dan menguntungkan. Bukan rugi karena kalau 6 bulan rugi kan pasti nanti nunggak,” tegas Oloan.

KPP BRI juga hanya diperuntukan untuk demand side, bukan supply side seperti developer, kontraktor maupun pengusaha toko bangunan. Intinya untuk pembelian, pembangunan, atau renovasi rumah yang digunakan sebagai tempat usaha saja.

Termasuk rumah tinggal sekaligus tempat usaha, ruko, rukan, rumah produksi skala kecil (home industry), area komersial rumah susun dan rumah untuk usaha daring berbasis rumah.

“KPP dan ada dua supply side dan demand side. Perumahan baru misalnya dia sifatnya hunian atau supply side itu tidak, ini kami tempat usahanya atau demand sidenya saja,” tutur Oloan.

Outstanding KPP di BRI RO Jakarta 3 sendiri sejak Desember 2025 hingga Mei 2026 mencapai Rp165 miliar dengan disbursement atau pencairan Rp180-190 miliar. “Kalau plafonnya mungkin lebih ya karena setiap bulan kan turun pokoknya,” kata Oloan.

Benar saja, fasilitas KPP dari BRI memang turut dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha lebih luas tak hanya Agus.

Tini (50) misalnya, warga yang tinggal di Cipondoh, Tangerang ini mampu mempertahankan usaha kue nya usai mendapatkan KPP Rp100 juta dari BRI tenor 5 tahun. Kemudahan akses (tanpa agunan) itu membuka ruang bagi usahanya untuk tetap bergerak tanpa harus mengorbankan aset pribadi.

Dengan cicilan sekitar Rp1,9 juta per bulan, Tini menilai skema pembiayaan yang dijalani masih memberi ruang keuntungan bagi usahanya. Pendapatan dari usaha sebesar Rp3 juta per bulan tetap bisa diputar untuk kebutuhan operasional sekaligus memenuhi kewajiban angsuran.

“Enggak cuma membantu dari sisi tambahan modal, tapi juga memberi rasa aman karena usaha tetap dapat berjalan dan menghasilkan di tengah harga-harga yang terus meningkat,” kata Tini.

Hal yang sama dirasakan Rosiah (53) yang berjualan di Jalan Warung Gantung, Kampung Kojan, Kelurahan Kalideres. Perempuan asal Jateng ini mendapatkan KPP senilai Rp50 juta dengan tenor 3 tahun untuk usaha dan renovasi tempat usaha.

Rosiah, warga Kalideres penerima KPP dari BRI

Menurut Rosiah, kemudahan akses pembiayaan seperti ini sangat membantu pelaku usaha yang sering kali memiliki keterbatasan aset tetapi tetap membutuhkan modal untuk berkembang.

Dampak nyata yang paling ia rasakan adalah usaha yang kembali bergerak dan perlahan berkembang. Tambahan modal membuat aktivitas usaha kembali lebih lancar, sementara kondisi tempat usaha yang lebih layak turut memberi rasa tenang dalam menjalani usaha sehari-hari.

“Cicilannya Rp1,6 juta. Gampang sekali prosesnya, enggak ada agunan. Dampaknya alhamdulillah usaha bisa maju lagi,” ujar Rosiah

Sementara Elih (55) mendapatkan KPP Rp80 juta dari BRI Unit Peta Utara, Kalideres. Dengan modal ini, ia bisa membangun sumber pendapatan yang lebih beragam bagi keluarga. Pasalnya dana ini akan digunakan untuk renovasi tiga pintu kontrakan di wilayah Kalideres yang menjadi tambahan pemasukan di luar aktivitas utama keluarga.

Tidak berhenti di situ, sebagian manfaat pembiayaan juga dirasakan oleh usaha anaknya, Wahid, yang bergerak di bidang jaringan internet dan warnet.

“Pertama untuk renovasi untuk kontrakan sekarang 3 pintu. Lalu juga anak saya ada usaha jaringan internet, warnet. Enggak susah sih prosesnya, gampang. Itu cuma 3 hari kelar prosesnya (pencairannya),” cerita Elih.

BRI melakukan sosialisasi KPP di sekitar warga Kelurahan Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat

Secara lebih makro, KPP BRI tak hanya menjangkau masyarakat di Jabodetabek. Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto mengatakan perusahaan selalu mengupayakan agar penyaluran KPP setiap pekannya selalu naik.

“Di BRI sendiri kami menargetkan diri setiap pekan agar selalu naik (penyaluran KPP) dan hamdalah sampai hari ini masih naik. Pekan ini di Jakarta hanya dalam seminggu kami sudah bisa membooking Rp340 miliar untuk 867 debitur. Pekan sebelumnya Rp320 miliar di Jogjakarta. Ke depan kami ingin dapat mendistribusikan program ini ke lebih banyak lagi debitur yang ada di BRI,” ujar Aris.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.