Gedung Ini Jadi Saksi Bisu Akselerasi Ekonomi Digital di 3T

AKURAT.CO Di balik geliat percepatan ekonomi digital Indonesia, berdiri sebuah bangunan yang mungkin tak banyak dikenal publik, tetapi memegang peran penting dalam menjaga konektivitas layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Gedung itu bernama Primary Satellite Control Facility (PSCF) yang terletak di Ragunan, Jakarta Selatan.
Di sisi lain, terdapat bangunan serupa di Tabanan, Bali, yang difungsikan sebagai Back-up Satellite Control Facility (BSCF). Kehadiran dua stasiun tersebut dibangun dengan prinsip full redundancy, standar yang umum diterapkan di industri perbankan untuk memastikan sistem tetap berjalan optimal.
PSCF di Ragunan merupakan bangunan tiga tingkat yang menjadi pusat kendali operasional satelit. Di lantai dasarnya, aktivitas berlangsung melalui konsol server pengendalian satelit yang terbagi dalam tiga fungsi utama, yakni Satellite Operation Center (SOC), Payload Operation Center (POC), dan Test Satellite Operation Center (TSOC).
Baca Juga: Kemenperin Bantah Isu Relokasi Pabrik Komponen Otomotif ke Vietnam
Di area yang sama juga berjajar perangkat Ground Control System sebagai pusat pengendalian satelit serta Ground Radio Communication System yang menghubungkan jaringan ke unit-unit BRI di seluruh Indonesia. Menjulang di bagian atas gedung, dua antena berdiameter 9 meter dan satu antena berdiameter 11 meter menjadi simbol kerja sunyi yang menopang jutaan transaksi setiap harinya.
Berbeda dengan Ragunan, fasilitas pengendali di Tabanan dibangun dengan skala yang lebih sederhana. Keterbatasan lahan serta aturan mengenai batas maksimal ketinggian bangunan di Bali membuat BSCF hanya terdiri dari satu lantai. Namun demikian, fungsi cadangan tetap dijaga melalui keberadaan tiga antena yang terpasang di bagian atap.
Cerita mengenai infrastruktur ini bermula pada 19 Juni 2016, ketika BRIsat pertama resmi diluncurkan dari Kourou, Guyana Prancis. Kini, manajemen BRI tengah mempertimbangkan langkah berikutnya dengan rencana peluncuran satelit kedua.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa BRIsat bukan sekadar proyek teknologi, melainkan simbol nyata upaya BRI memperluas inklusi keuangan dan menghadirkan layanan digital yang merata hingga seluruh wilayah Indonesia.
BRIsat berfungsi sebagai media jaringan komunikasi yang menyediakan konektivitas bagi layanan BRI di seluruh Indonesia. Melalui jaringan satelit, layanan transaksi perbankan tetap dapat berjalan di Unit Kerja Operasional, ATM/CRM, Teras Kapal, layanan BRILink Agen, maupun titik layanan lainnya hingga ke seluruh pelosok negeri.
Keberadaan BRIsat, lanjut Dhanny, memberikan dampak nyata dalam memperluas jangkauan layanan perbankan BRI, termasuk daerah 3T dan wilayah kepulauan. Hal ini memungkinkan masyarakat tetap dapat mengakses layanan keuangan, mulai dari transaksi harian, penyaluran bantuan sosial, hingga dukungan bagi aktivitas ekonomi lokal tanpa harus bergantung pada keberadaan kantor cabang konvensional.
"Salah satu contoh nyata adalah melalui layanan Teras Kapal, yaitu layanan perbankan keliling menggunakan kapal untuk menjangkau masyarakat di pulau-pulau terpencil. Melalui Teras Kapal, BRI terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan hingga ke pelosok negeri," imbuh Dhanny.
Sesungguhnya, pemanfaatan teknologi satelit bukan hal baru bagi BRI. Sebelum memiliki satelit sendiri, BRI mengandalkan jaringan dari berbagai penyedia layanan guna menjaga kelancaran transaksi dan operasional di seluruh Indonesia.
Namun seiring pertumbuhan bisnis, meluasnya jaringan, dan meningkatnya kebutuhan data, muncul kebutuhan akan infrastruktur komunikasi yang lebih besar, lebih efisien, aman, dan berkelanjutan. Dari kebutuhan itulah keputusan membangun BRIsat lahir pada 2016, searah dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat inklusi keuangan.
Sangkin krusial perannya (meningkatkan kualitas layanan dan fondasi digital BRI), manajemen berkomitmen menjaga keamanan BRIsat. Manajemen ingin layanan perbankan tetap aman, andal, dan tersedia bagi seluruh masyarakat, termasuk di wilayah terluar dengan menerapkan monitoring operasional real-time selama 24/7.
"Kami juga terus memperkuat keamanan siber melalui berbagai program awareness bagi pekerja serta penguatan kolaborasi baik dengan regulator, mitra teknologi, maupun para pemangku kepentingan guna mengadopsi standar keamanan terkini," tutur Dhani.
Suasana PSCF atau komando BRIsat di Ragunan
Dampak tersebut turut dirasakan Fitria, salah satu Agen BRILian sekaligus pemilik Teges Cell di Jalan Raya Pondok Aren, Tangerang Selatan. Baginya, keberadaan satelit menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran operasional layanan yang dijalankan setiap hari. “Di awal running layanan memang sempat ada gangguan. Tapi setelah BRI punya satelit sendiri (BRISat meluncur di Juni 2016) relatif lebih aman lebih stabil,” ujar Fitria.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, melihat langkah ini memiliki konteks yang lebih luas. Menurutnya, sebagian besar nasabah BRI berada di wilayah pedesaan sehingga dibutuhkan teknologi yang mampu menjembatani layanan perbankan dengan masyarakat.
“Kehadiran agen BRILink di berbagai daerah juga membutuhkan dukungan sistem yang andal agar transaksi berjalan cepat dan akses layanan semakin luas. Dalam konteks itu, kepemilikan satelit menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut,” ujar Nailul.
Ia menambahkan bahwa pengembangan ekonomi digital tidak semata bergantung pada infrastruktur sektor keuangan. Ada faktor lain yang turut menentukan, mulai dari jaringan internet hingga kualitas sumber daya manusia. Dalam ekosistem yang saling terhubung itu, langkah BRI dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam mempercepat transformasi.
Bagi Nailul, inklusi keuangan masih menjadi pekerjaan besar yang harus terus didorong agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih luas. Indonesia telah memiliki fondasi industri keuangan yang baik. Ketika masyarakat memiliki tabungan dan dapat mengakses layanan seperti dompet digital, maka peluang pertumbuhan ekonomi digital akan semakin terbuka. Peran tersebut menjadi semakin nyata ketika melihat keberadaan agen-agen BRI yang tersebar di wilayah 3T.
“Manfaat satelit dapat dirasakan karena desa-desa kini semakin memiliki akses terhadap layanan keuangan tanpa harus mengandalkan pembangunan ATM yang membutuhkan biaya dan pemeliharaan tinggi. Kehadiran layanan laku pandai menghadirkan pendekatan yang lebih fleksibel dan semi digital,” imbuh Nailul.
Lebih jauh lagi, ia melihat adanya multiplier effect terhadap ekonomi desa. Desa yang memiliki institusi keuangan cenderung bergerak lebih cepat dalam adopsi ekonomi digital. Meski biaya operasional tidak kecil, manfaat terbesar justru dirasakan langsung oleh para agen yang menjadi ujung tombak layanan.
Ketika masyarakat desa mulai mengenal tabungan, agunan, kredit, dan berbagai instrumen keuangan lainnya, maka proses literasi dan inklusi akan berkembang lebih cepat. Seiring bertambahnya jumlah nasabah, peluang untuk memperluas distribusi produk dan layanan BRI melalui jaringan agen pun semakin terbuka.
Pada akhirnya, keberadaan BRIsat bukan hanya tentang hitungan biaya dan keuntungan yang terlihat secara langsung. Di balik jaringan yang terus terhubung hingga pelosok, terdapat manfaat yang lebih luas yang terus tumbuh melalui kehadiran agen BRILink, membuka akses, memperluas literasi, dan mendorong ekonomi digital bergerak lebih dekat ke masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









