Akurat Logo

Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Kuat Topang APBN

Andi Syafriadi | 2 Juli 2026, 15:29 WIB
Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Kuat Topang APBN
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (AKURAT.CO/ANDOY)

AKURAT.CO Pemerintah memastikan kondisi fiskal Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi pada tahun-tahun mendatang.

Hal tersebut tercermin dari posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp438,26 triliun pada akhir 2025.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, meski sepanjang 2025 pemerintah memanfaatkan sebagian SAL untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), saldo yang tersisa masih berada pada tingkat yang memadai.

Baca Juga: Purbaya: Hibah Tanah untuk Program 3 Juta Rumah Disiapkan Tanpa Bebani APBN

"Saldo ini tetap berada pada level yang memadai dan berfungsi sebagai penyangga fiskal dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian," ujar Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-23 Masa Persidangan V di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Pemerintah mencatat posisi awal SAL pada 2025 sebesar Rp457,54 triliun. Sepanjang tahun, dana tersebut digunakan untuk mendukung pembiayaan APBN senilai Rp93,15 triliun.

Di sisi lain, pemerintah juga membukukan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp72,40 triliun. Setelah memperhitungkan berbagai penyesuaian akuntansi, posisi SAL pada akhir tahun tercatat Rp438,26 triliun.

Dalam pengelolaan fiskal, SAL memiliki fungsi sebagai cadangan kas pemerintah untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan negara ketika terjadi tekanan terhadap APBN, baik akibat perlambatan ekonomi, gejolak pasar keuangan, maupun kebutuhan belanja yang bersifat mendesak.

Baca Juga: APBN Tetap Sehat, Menkeu Purbaya: Fiskal Siap Hadapi Risiko Global

Pemerintah menilai posisi SAL tersebut menunjukkan ruang fiskal Indonesia masih terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Selain menjadi bantalan fiskal, keberadaan SAL juga memberikan fleksibilitas bagi pemerintah dalam menjaga kesinambungan berbagai program prioritas tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penambahan utang jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.