Akurat Logo

Kelakar Jahja Setiaatmadja Soal Emas Batangan 74 Kg di Rumah Febrie Adriansyah

Yosi Winosa | 15 Juli 2026, 16:15 WIB
Kelakar Jahja Setiaatmadja Soal Emas Batangan 74 Kg di Rumah Febrie Adriansyah
Jahja Setiaatmadja, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)

AKURAT.CO Ada pernyataan menarik dari Jahja Setiaatmadja, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) soal kasus yang menyeret nama Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) khususnya terkait temuan emas batangan 74 kg.

Jahja awalnya dipancing pertanyaan oleh moderator, Andy F. Noya di acara Risk & Government Summit yang digelar OJK belum lama ini. Andy menanyakan berapa kekayaan Jahja dengan puluhan tahun pengalamannya sebagai pejabat karier, pebisnis dan investor hingga saat ini.

"Kalau yang terpublikasi, saya sebut saja kepemilikan saham di BCA. Ada sekitar 38 juta lembar saham. Tinggal dikalikan saja dengan harga sahamnya misalnya sekitar Rp6.000 per lembar (sekitar Rp228 miliar). Itu baru yang di BCA. Selebihnya ya semuanya tercatat di SPT saya," ujar Jahja.

Baca Juga: Mensesneg Benarkan Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah

Selain kepemilikan saham di BCA, aset Jahja lainnya masih ada. "Saya yakin orang kemudian membayangkan di rumah pasti ada brankas besar. Biasanya jujur saja ya Pak, orang-orang yang punya brankas sering kali katanya justru yang tidak tercatat di SPT," imbuh Jahja.

Jahja mengaku seluruh asetnya tercatat atau recorded, yang hampir seluruhnya disimpan di bank seperti salah satunya BCA. Namun sebagai investor ia tetap melakukan diversifikasi aset baik di perusahaan sekuritas, reksa dana, perusahaan asuransi, maupun instrumen lainnya.

"Kami juga memiliki properti sendiri. Jadi investasi itu harus dibagi ke dalam beberapa keranjang investasi. Tujuannya tentu untuk mengelola risiko. Risiko harus dipilah dan disebarkan agar tidak terkonsentrasi di satu tempat," lanjut Jahja.

Dalam hidup, imbuh Jahja, manusia hidup bukan untuk menghindari risiko namun justru harus menghadapi risiko. Asalkan risiko itu terukur dan bisa dimitigasi.

"Itu yang harus dipelajari. Tidak ada pebisnis yang benar-benar menghindari risiko. Semua menghadapi risiko, tetapi dengan mitigasi yang baik, risikonya bisa diukur. Kalau ada hal-hal yang sifatnya tidak pasti misalnya bencana atau kejadian luar biasa, kita harus siap," kata Jahja.

Misalnya, suatu hari ada serangan siber ke perusahaan, maka manajemen harus memiliki perlindungan semisalnya melalui asuransi. Meski asuransi tak menanggung seluruh kerugian, tetapi setidaknya manajemen sudah menunjukkan bahwa mereka melakukan langkah mitigasi.

"Kalau tidak, orang akan bertanya, 'Sudah tahu ada potensi risiko, kenapa tidak diasuransikan?' Jadi paling tidak ada kesadaran mengasuransikan sebagian potensi kerugian. Begitu juga dengan bencana alam. Perusahaan tetap harus memiliki kebijakan perlindungan melalui asuransi. Dengan begitu manajemen bisa lebih tenang karena telah melakukan mitigasi semaksimal mungkin," papar Jahja.

Namun yang terpenting menurut Jahja adalah kemampuan melakukan pemulihan (recovery). Kalau sampai terjadi suatu masalah, bagaimana perusahaan bisa secepat mungkin melakukan recovery. Itu yang jauh lebih penting daripada sekadar menghindari atau mengelola risiko.

Andy pun kemudian berbalik menyinggung soal kekayaan Jahja. "Baik, saya kembali ke pertanyaan sebelumnya. Berapa kilogram emas yang Bapak simpan hari ini?," tanya Andy.

"Kalau emas batangan menurut saya sudah agak old fashion. Sekarang saya lebih memilih virtual gold. Ini bukan promosi ya. Salah satu layanan yang saya gunakan adalah milik Pegadaian. Menurut saya bagus. BSI juga punya layanan serupa. Hanya saja saya kebetulan belum menggunakannya," jawab Jahja.

"Jadi, apakah saya masih menyimpan emas batangan? Ada sedikit. Tetapi untuk jumlah besar saya lebih memilih emas digital atau virtual. Alasannya sederhana. Kapan pun ingin membeli atau menjual, prosesnya jauh lebih mudah," lanjut Jahja.

Andy kembali mencecar pertanyaan serupa. "Kalau ada yang menyimpan sampai 74 kilogram emas batangan itu bagaimana pak (merujuk temuan emas batangan di rumah Febrie)?," tanya Andy.

"Ya bukan salah, hanya menurut saya kurang efisien saja. Sudah, jangan diteruskan nanti kita bisa bermasalah," canda Jahja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.