Premi Bruto Tak Lagi Menjadi Bintang Utama dalam Membaca Pendapatan Asuransi, Berikut Penjelasannya

AKURAT.CO Selama bertahun-tahun, besarnya premi bruto menjadi salah satu angka pertama yang dicari ketika seseorang membaca laporan keuangan perusahaan asuransi. Logikanya sederhana: semakin besar premi yang diterima, semakin besar pula pendapatan perusahaan. Namun, mulai laporan keuangan tahun buku 2025 yang dipublikasikan pada 2026, cara pandang tersebut tidak lagi sepenuhnya berlaku.
Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 mengubah cara perusahaan asuransi mengakui pendapatan. Kini, pendapatan tidak lagi diukur berdasarkan besarnya premi yang masuk ke kas perusahaan, melainkan berdasarkan jasa perlindungan yang benar-benar telah diberikan kepada pemegang polis. Perubahan ini merupakan salah satu transformasi terbesar dalam pelaporan keuangan industri asuransi Indonesia karena mengubah cara investor, media, analis, hingga masyarakat menafsirkan angka-angka dalam laporan keuangan.
Bagi pembaca awam, perubahan tersebut mungkin terlihat seperti sekadar perubahan istilah akuntansi. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Jika sebelumnya premi bruto sering dianggap sebagai "bintang utama" dalam membaca kinerja perusahaan, kini perhatian harus bergeser ke indikator lain yang lebih mencerminkan aktivitas ekonomi perusahaan selama memberikan perlindungan kepada nasabah.
Perubahan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam Media Workshop: Memahami Laporan Keuangan Industri Asuransi di Era PSAK 117 yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada 31 Juli 2026. Workshop tersebut digelar untuk membantu media memahami perubahan standar pelaporan keuangan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Ringkasan
Mulai diterapkannya PSAK 117, premi bruto tidak lagi menjadi ukuran langsung pendapatan perusahaan asuransi. Alasannya, perusahaan belum sepenuhnya "menghasilkan" pendapatan saat premi diterima karena masih memiliki kewajiban memberikan perlindungan kepada nasabah selama masa polis berlangsung.
Secara sederhana, perbedaannya dapat dirangkum sebagai berikut:
Premi bruto menunjukkan uang yang diterima perusahaan dari penjualan polis.
Insurance revenue menunjukkan nilai jasa asuransi yang telah benar-benar diberikan kepada pemegang polis.
Pendapatan diakui secara bertahap selama perusahaan memenuhi kewajiban perlindungannya.
Laporan keuangan menjadi lebih mencerminkan aktivitas ekonomi dibandingkan sekadar arus kas yang masuk.
Dengan pendekatan baru ini, angka pendapatan perusahaan asuransi tidak lagi identik dengan besarnya premi yang diterima dalam satu periode.
Mengapa PSAK 117 Mengubah Cara Mengakui Pendapatan?
Sebelum PSAK 117 diberlakukan, perusahaan asuransi di Indonesia menggunakan PSAK 62 yang mengadopsi IFRS 4. Standar tersebut masih memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk mempertahankan berbagai praktik akuntansi yang telah digunakan sebelumnya.
Konsekuensinya, laporan keuangan antarperusahaan tidak selalu mudah dibandingkan karena terdapat perbedaan metode pencatatan dan pengakuan transaksi. Kondisi ini menyulitkan investor, analis, maupun masyarakat ketika ingin menilai kinerja industri secara objektif.
Melalui PSAK 117 yang mengadopsi International Financial Reporting Standard (IFRS) 17, pendekatan tersebut diubah secara fundamental. Fokus pelaporan bergeser dari arus kas premi menuju penyediaan jasa asuransi.
Akademisi Akuntansi Universitas Padjadjaran, Ersa Tri Wahyuni, menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan meningkatkan kualitas laporan keuangan perusahaan asuransi.
"Penerapan PSAK 117 diperlukan untuk meningkatkan komparabilitas dan konsistensi laporan keuangan perusahaan asuransi, mengingat PSAK 62 sebelumnya masih memberikan ruang bagi perbedaan praktik pelaporan karena belum mengatur sejumlah aspek secara rinci," ujar Ersa di Graha AAJI, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut Ersa, implementasi PSAK 117 juga mengubah penyajian laporan laba rugi, pengukuran liabilitas cadangan asuransi jiwa, serta penyajian aset dan liabilitas sehingga laporan keuangan diharapkan menjadi lebih transparan, konsisten, dan mudah diperbandingkan antarperusahaan.
Perubahan tersebut bukan sekadar menyelaraskan Indonesia dengan standar internasional, tetapi juga membuat informasi keuangan lebih mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Premi Bruto Tetap Penting, tetapi Fungsinya Berubah
Salah satu kesalahpahaman yang mungkin muncul setelah membaca perubahan ini adalah anggapan bahwa premi bruto tidak lagi penting.
Kesimpulan tersebut keliru.
Premi bruto tetap menjadi indikator penting karena mencerminkan aktivitas penjualan polis dan pertumbuhan bisnis baru (new business). Semakin besar premi yang berhasil dihimpun, semakin besar pula potensi portofolio bisnis yang dimiliki perusahaan.
Namun, PSAK 117 membedakan secara tegas antara uang yang diterima perusahaan dengan pendapatan yang benar-benar telah dihasilkan melalui penyediaan jasa.
Perbedaan ini penting karena bisnis asuransi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sektor lain.
Ketika seseorang membeli polis asuransi kesehatan atau jiwa, perusahaan tidak langsung menyelesaikan kewajibannya pada hari yang sama. Sebaliknya, perusahaan berkewajiban memberikan perlindungan selama periode tertentu, bisa satu tahun, lima tahun, bahkan puluhan tahun tergantung jenis produknya.
Karena kewajiban tersebut masih berlangsung, seluruh premi yang diterima belum dapat dianggap sebagai pendapatan pada saat uang masuk ke perusahaan.
Inilah alasan mengapa PSAK 117 mengubah cara membaca laporan keuangan perusahaan asuransi.
Mengapa Premi Tidak Sama dengan Pendapatan? Ini Logika Bisnisnya
Sekilas, perubahan ini mungkin terasa bertentangan dengan intuisi.
Jika perusahaan sudah menerima uang dari nasabah, mengapa uang tersebut tidak langsung menjadi pendapatan?
Jawabannya terletak pada hakikat bisnis asuransi.
Berbeda dengan perusahaan ritel yang menyerahkan barang saat transaksi selesai, perusahaan asuransi menjual janji perlindungan yang baru dipenuhi sepanjang masa kontrak.
Selama masa perlindungan itu masih berjalan, perusahaan tetap memiliki kewajiban untuk memberikan manfaat apabila risiko yang diasuransikan benar-benar terjadi.
Karena itulah PSAK 117 menganggap bahwa perusahaan baru "menghasilkan" pendapatan ketika jasa perlindungan tersebut benar-benar diberikan.
Ersa menjelaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap pendapatan menjadi salah satu perbedaan paling signifikan dibandingkan standar sebelumnya.
"Salah satu perubahan yang signifikan adalah cara memandang pendapatan. Sebelumnya, informasi mengenai premi bruto dapat diperoleh dari laporan keuangan. Namun, pada laporan keuangan berdasarkan PSAK 117, informasi tersebut tidak lagi disajikan karena pendapatan tidak diukur berdasarkan penerimaan arus kas premi, melainkan berdasarkan pelepasan liabilitas seiring berjalannya waktu ketika perusahaan asuransi memberikan jasanya."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa PSAK 117 tidak menghapus arti penting premi, tetapi mengubah posisi premi dalam membaca laporan keuangan.
Jika sebelumnya premi bruto sering dijadikan titik awal untuk menilai besarnya pendapatan perusahaan, kini pembaca harus melihat insurance revenue, yaitu pendapatan yang dihasilkan dari jasa asuransi yang telah diberikan selama periode pelaporan.
Perubahan Ini Bukan Sekadar Soal Akuntansi
Ada kecenderungan menganggap perubahan PSAK 117 hanya penting bagi akuntan atau auditor. Padahal, perubahan ini justru paling berdampak bagi pihak yang membaca laporan keuangan.
Bayangkan seorang investor yang membandingkan laporan keuangan perusahaan asuransi tahun 2024 dengan laporan tahun 2025.
Jika ia masih menggunakan pendekatan lama—yakni menganggap premi sebagai pendapatan—ia bisa saja menyimpulkan bahwa kinerja perusahaan melemah karena angka pendapatan terlihat berbeda.
Padahal, yang berubah belum tentu bisnisnya, melainkan cara pengakuan pendapatan.
Di sinilah letak nilai utama PSAK 117. Standar ini mendorong pembaca untuk melihat substansi ekonomi dari bisnis asuransi, bukan sekadar besarnya uang yang masuk ke perusahaan. Dengan demikian, laporan keuangan diharapkan memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai nilai jasa yang telah diberikan kepada pemegang polis, sekaligus meningkatkan komparabilitas antarperusahaan.
Baca Juga: Ini 4 Tantangan Industri Asuransi di Era PSAK 117
Baca Juga: LPEI Siapkan Pembiayaan hingga Asuransi untuk Dorong Ekspor Tekstil Indonesia
Apa Bedanya Premi Bruto dengan Insurance Revenue?
Salah satu tantangan terbesar setelah penerapan PSAK 117 adalah memahami bahwa premi bruto dan insurance revenue merupakan dua konsep yang berbeda.
Pada standar sebelumnya, banyak pembaca mengaitkan besarnya premi dengan besarnya pendapatan. Kini, hubungan tersebut tidak lagi bersifat langsung.
Perbedaan sederhananya dapat dilihat pada tabel berikut.
Aspek | Premi Bruto | Insurance Revenue |
|---|---|---|
Menggambarkan | Nilai premi yang dibayarkan pemegang polis | Nilai jasa asuransi yang telah diberikan |
Dasar pengakuan | Saat premi diterima sesuai ketentuan pelaporan sebelumnya | Sepanjang perusahaan memberikan perlindungan |
Fungsi utama | Mengukur aktivitas penjualan dan bisnis baru | Mengukur pendapatan operasional dari jasa asuransi |
Fokus analisis | Pertumbuhan premi | Kinerja layanan asuransi selama periode berjalan |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa premi bruto tidak "hilang" dari bisnis asuransi. Yang berubah adalah cara menggunakannya dalam menganalisis laporan keuangan.
Premi masih penting untuk mengetahui seberapa besar bisnis baru yang berhasil diperoleh perusahaan. Namun, ketika ingin mengetahui berapa pendapatan yang benar-benar dihasilkan selama satu periode, pembaca kini harus melihat insurance revenue.
Simulasi Sederhana: Mengapa Premi Tidak Langsung Menjadi Pendapatan?
Konsep tersebut akan lebih mudah dipahami melalui ilustrasi berikut.
Bayangkan seorang nasabah membeli polis asuransi kesehatan dengan masa perlindungan selama satu tahun.
Ia membayar premi sebesar Rp12 juta di awal kontrak.
Cara Pandang Sebelum PSAK 117
Dalam pendekatan lama, banyak orang akan langsung menganggap perusahaan memperoleh pendapatan Rp12 juta karena uang telah diterima.
Logika ini cukup mudah dipahami karena kas perusahaan memang bertambah.
Namun, pendekatan tersebut memiliki kelemahan.
Perusahaan sebenarnya belum menyelesaikan kewajibannya kepada nasabah. Perlindungan baru akan diberikan selama 12 bulan ke depan.
Cara Pandang PSAK 117
PSAK 117 melihat transaksi tersebut secara berbeda.
Saat premi diterima, perusahaan memang memperoleh arus kas. Namun, perusahaan juga memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan selama satu tahun.
Karena itu, pendapatan tidak langsung diakui sebesar Rp12 juta.
Pendapatan akan diakui secara bertahap seiring berjalannya waktu ketika perusahaan memberikan jasa perlindungan kepada pemegang polis.
Pendekatan ini dinilai lebih mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Mengapa Pendekatan Baru Dinilai Lebih Akurat?
Misalkan terdapat dua perusahaan.
Perusahaan A menjual banyak polis baru pada akhir Desember.
Perusahaan B memiliki jumlah polis yang relatif sama, tetapi sebagian besar telah berjalan sejak awal tahun.
Jika hanya melihat premi yang diterima, Perusahaan A mungkin tampak memiliki pendapatan jauh lebih besar.
Padahal sebagian besar kewajiban perlindungannya justru baru akan dijalankan pada tahun berikutnya.
Dengan PSAK 117, kondisi tersebut menjadi lebih proporsional karena pendapatan mengikuti jasa yang telah diberikan, bukan semata-mata waktu penerimaan premi.
Inilah salah satu alasan mengapa banyak negara mengadopsi IFRS 17, yang kemudian diimplementasikan di Indonesia melalui PSAK 117.
Apa Dampaknya bagi Investor, Media, dan Nasabah?
Perubahan cara mengakui pendapatan membawa konsekuensi yang berbeda bagi setiap kelompok yang membaca laporan keuangan.
Investor
Investor kini tidak dapat lagi hanya membandingkan pertumbuhan premi atau laba bersih.
Mereka perlu melihat beberapa indikator secara bersamaan, seperti:
Insurance Revenue;
Insurance Service Result;
Contractual Service Margin (CSM);
Investment Result;
tingkat permodalan perusahaan.
Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kualitas bisnis perusahaan.
Media
Bagi media, perubahan ini menjadi tantangan tersendiri.
Jika masih menggunakan cara baca lama, pemberitaan berpotensi menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Misalnya, ketika insurance revenue terlihat lebih rendah dibandingkan angka premi pada periode sebelumnya, hal tersebut belum tentu berarti perusahaan mengalami penurunan kinerja.
Direktur Eksekutif AAJI Emira E. Oepangat menegaskan pentingnya pemahaman terhadap standar baru tersebut.
"Dalam waktu dekat, masyarakat termasuk media akan membaca laporan keuangan tahun buku 2025 audited perusahaan asuransi yang disusun berdasarkan PSAK 117. Pemahaman yang baik terhadap perubahan standar pelaporan keuangan akan mendukung penyajian informasi yang lebih akurat, berimbang, dan sesuai dengan konteks, sehingga meminimalkan potensi misinterpretasi/misleading headline dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi jiwa."
Pesan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya menerapkan PSAK 117, tetapi juga memastikan laporan keuangan dipahami dengan cara yang benar.
Nasabah
Bagi pemegang polis, perubahan ini tidak mengubah manfaat perlindungan yang diterima.
Namun, mereka akan memperoleh laporan keuangan yang lebih transparan mengenai bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba dari jasa asuransi.
Semakin transparan laporan tersebut, semakin mudah pula masyarakat menilai kualitas pengelolaan perusahaan.
Transformasi PSAK 117 Tidak Berhenti pada Perubahan Pendapatan
Perubahan pengakuan pendapatan hanyalah salah satu bagian dari transformasi yang dibawa PSAK 117.
Dalam workshop AAJI, Sisca Wirjawan, Head Working Group Keuangan & Permodalan AAJI, menjelaskan bahwa implementasi standar baru juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain:
Contractual Service Margin (CSM);
Expected Credit Loss (ECL) sesuai PSAK 109;
kesiapan data dan sistem;
asumsi aktuaria;
tingkat diskonto.
Ke depan, industri juga akan berfokus pada empat area utama:
Otomasi dan digitalisasi, untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pelaporan.
Penguatan tata kelola serta kualitas data, agar informasi keuangan semakin andal.
Pemanfaatan analitik bisnis, sehingga data PSAK 117 dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
Konsistensi interpretasi, agar penerapan standar baru berjalan seragam di seluruh industri.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa PSAK 117 bukan sekadar pembaruan aturan akuntansi, tetapi transformasi menyeluruh terhadap cara perusahaan mengelola informasi keuangan.
Premi Tetap Penting, Tetapi Bukan Lagi Tolok Ukur Utama
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami PSAK 117 adalah menganggap bahwa premi bruto kehilangan relevansinya.
Faktanya, hal itu tidak benar.
Premi tetap menjadi indikator penting karena menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh bisnis baru, memperluas basis nasabah, dan meningkatkan skala operasional.
Namun, PSAK 117 mengubah cara pembaca menempatkan premi dalam konteks laporan keuangan.
Jika sebelumnya premi sering menjadi indikator utama untuk membaca pendapatan, kini fungsinya lebih tepat sebagai indikator aktivitas bisnis. Sementara itu, untuk memahami kinerja operasional perusahaan selama periode berjalan, pembaca perlu mengombinasikan beberapa indikator lain, seperti Insurance Revenue, Insurance Service Result, Contractual Service Margin (CSM), dan Investment Result.
Perubahan perspektif ini membuat analisis terhadap perusahaan asuransi menjadi lebih komprehensif.
Investor tidak lagi hanya bertanya, "Berapa besar premi yang diperoleh?", tetapi juga "Berapa besar jasa yang telah diberikan?" dan "Seberapa besar potensi laba yang masih akan dihasilkan dari kontrak yang ada?".
Dengan demikian, laporan keuangan tidak hanya menunjukkan berapa banyak uang yang masuk, tetapi juga bagaimana perusahaan menciptakan nilai ekonomi dari jasa perlindungan yang diberikan.
Mengapa Perubahan Ini Penting bagi Masa Depan Industri?
Penerapan PSAK 117 tidak hanya bertujuan menyelaraskan Indonesia dengan IFRS 17, tetapi juga meningkatkan kualitas informasi keuangan.
Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI Meylindawati Tjoa menilai perubahan ini merupakan perjalanan transformasi yang melibatkan seluruh ekosistem industri.
"Implementasi PSAK 117 bukan sekadar perubahan standar akuntansi, tetapi perjalanan transformasi bernilai bagi seluruh industri asuransi. Tidak hanya melihat laba bersih, tapi juga kualitas, keberlanjutan dan sumber nilai layanan masa depan. Kolaborasi kuat lintas pemangku kepentingan (regulator, penyusun standar, auditor, aktuaris, dan pelaku industri) tetap penting untuk mencapai implementasi yang konsisten dan berkualitas tinggi."
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa ukuran keberhasilan perusahaan asuransi di era PSAK 117 tidak lagi bertumpu pada satu angka saja. Kualitas laba, keberlanjutan bisnis, dan kemampuan menghasilkan nilai dari kontrak yang masih berjalan kini menjadi aspek yang sama pentingnya.
Kesimpulan
PSAK 117 mengubah paradigma dalam membaca laporan keuangan perusahaan asuransi.
Perubahan yang paling mudah terlihat adalah premi bruto tidak lagi menjadi tolok ukur langsung pendapatan perusahaan. Pendapatan kini diakui berdasarkan jasa asuransi yang telah diberikan kepada pemegang polis, sehingga konsep insurance revenue menjadi indikator yang lebih relevan untuk memahami kinerja operasional.
Meski demikian, perubahan tersebut tidak berarti premi kehilangan arti. Premi bruto tetap berperan penting sebagai indikator pertumbuhan bisnis baru dan aktivitas penjualan polis. Yang berubah adalah cara menafsirkannya dalam laporan keuangan.
Bagi investor, media, analis, maupun masyarakat umum, memahami perbedaan antara premi bruto dan insurance revenue menjadi langkah awal untuk membaca laporan keuangan perusahaan asuransi secara lebih akurat. Dengan perspektif baru ini, risiko salah menafsirkan kinerja perusahaan dapat diminimalkan, sementara kualitas analisis terhadap industri asuransi menjadi semakin baik.
Pantau terus perkembangan implementasi PSAK 117 agar Anda dapat memahami perubahan laporan keuangan perusahaan asuransi secara lebih mendalam dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih tepat.
Baca Juga: Ini 4 Tantangan Industri Asuransi di Era PSAK 117
Baca Juga: 8.000 Mahasiswa KKN UGM Kini Dilindungi Asuransi Zurich Syariah, Mengapa Langkah Ini Penting?
FAQ
Apa itu premi bruto dalam perusahaan asuransi?
Premi bruto adalah total premi yang diterima perusahaan asuransi dari pemegang polis sebelum dikurangi komponen seperti premi reasuransi. Angka ini mencerminkan aktivitas penjualan polis dan pertumbuhan bisnis baru, tetapi dalam PSAK 117 tidak lagi menjadi ukuran langsung pendapatan perusahaan.
Mengapa premi bruto tidak lagi menjadi pendapatan perusahaan asuransi?
PSAK 117 mengatur bahwa pendapatan diakui berdasarkan jasa asuransi yang telah diberikan, bukan saat premi diterima. Sebab, perusahaan masih memiliki kewajiban memberikan perlindungan kepada pemegang polis selama masa kontrak berlangsung.
Apa perbedaan premi bruto dengan insurance revenue?
Premi bruto menunjukkan nilai premi yang dibayarkan nasabah, sedangkan insurance revenue mencerminkan nilai jasa asuransi yang telah diberikan perusahaan selama periode pelaporan. Karena itu, kedua angka tersebut dapat berbeda.
Apakah premi bruto masih penting setelah PSAK 117?
Ya. Premi bruto tetap menjadi indikator penting untuk menilai pertumbuhan bisnis baru dan aktivitas penjualan polis. Namun, untuk memahami pendapatan operasional, pembaca kini perlu melihat insurance revenue dan indikator lain seperti Insurance Service Result serta CSM.
Apa tujuan utama perubahan pengakuan pendapatan dalam PSAK 117?
Tujuannya adalah membuat laporan keuangan lebih mencerminkan aktivitas ekonomi perusahaan, meningkatkan transparansi, serta memudahkan perbandingan kinerja antarperusahaan asuransi melalui standar yang lebih seragam.
Bagaimana investor sebaiknya membaca laporan keuangan perusahaan asuransi sekarang?
Investor sebaiknya tidak hanya melihat premi bruto atau laba bersih, tetapi juga memperhatikan insurance revenue, Insurance Service Result, Contractual Service Margin (CSM), Investment Result, dan indikator solvabilitas agar memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi perusahaan.
Mengapa media perlu memahami perubahan ini?
Pemahaman terhadap PSAK 117 membantu media menyajikan pemberitaan yang lebih akurat dan menghindari kesimpulan yang menyesatkan ketika membandingkan laporan keuangan sebelum dan sesudah penerapan standar baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








