Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Makna, dan Waktu Perayaannya

Idham Nur Indrajaya | 28 Maret 2026, 07:33 WIB
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Makna, dan Waktu Perayaannya
Apa itu Lebaran Ketupat? Simak pengertian, sejarah, makna, dan waktu perayaannya setelah Idul Fitri di Indonesia. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Lebaran ternyata tidak selalu selesai di hari pertama Idul Fitri. Di banyak daerah di Indonesia—terutama Jawa—perayaan justru berlanjut hingga sepekan setelahnya lewat tradisi yang disebut Lebaran Ketupat. Bagi sebagian orang, ini hanya momen makan ketupat bersama. Tapi di balik itu, ada makna spiritual, budaya, dan sosial yang jauh lebih dalam.

Fenomena ini sering membuat orang bertanya: apa itu Lebaran Ketupat sebenarnya, dan kenapa dirayakan setelah Lebaran? Jawabannya tidak sesederhana tradisi kuliner, melainkan bagian dari perjalanan ibadah dan identitas budaya masyarakat Indonesia.


Apa Itu Lebaran Ketupat?

Lebaran Ketupat adalah tradisi perayaan yang dilakukan sekitar satu minggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada tanggal 7 atau 8 Syawal, setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Tradisi ini identik dengan:

  • Hidangan ketupat sebagai simbol utama

  • Kegiatan makan bersama dan berbagi makanan

  • Silaturahmi antar keluarga dan tetangga

  • Bentuk rasa syukur setelah Ramadhan dan puasa Syawal

Dalam budaya Jawa, Lebaran Ketupat juga dikenal sebagai “kupatan”, yang menjadi penutup rangkaian perayaan Idul Fitri sekaligus penguat hubungan sosial di masyarakat.


Kapan Lebaran Ketupat 2026 Dirayakan?

Lebaran Ketupat dirayakan pada hari ke-7 atau ke-8 bulan Syawal. Karena bergantung pada penetapan awal Syawal, tanggalnya bisa berbeda.

Pada tahun 2026:

  • Versi Muhammadiyah: 27 Maret 2026

  • Versi Pemerintah: 28 Maret 2026

Perbedaan ini merupakan hal yang wajar karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang berbeda. Meski begitu, esensi perayaannya tetap sama: menandai selesainya puasa Syawal dan memperkuat silaturahmi.


Sejarah Lebaran Ketupat dalam Tradisi Jawa

Dikutip dari NU Online, tradisi Lebaran Ketupat sudah ada sejak masa dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo.

Alih-alih menghapus budaya lokal, Sunan Kalijaga justru mengadaptasinya sebagai media dakwah. Ia memperkenalkan konsep:

  • Lebaran (1 Syawal)

  • Bakda Kupat (7–8 Syawal)

Pendekatan ini membuat ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat. Ketupat pun menjadi simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus sarat makna spiritual.

Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan menjadi bagian dari budaya Islam Nusantara.


Filosofi Ketupat: Bukan Sekadar Makanan

Ketupat bukan hanya hidangan khas, tetapi simbol kehidupan.

Dalam bahasa Jawa, “kupat” berasal dari ungkapan “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini menegaskan pentingnya saling memaafkan setelah Idul Fitri.

Selain itu, terdapat konsep laku papat:

  • Lebaran: pintu maaf terbuka

  • Luberan: berbagi rezeki

  • Leburan: melebur dosa

  • Laburan: kembali suci

Makna simbolik lainnya:

  • Anyaman janur → kompleksitas kesalahan manusia

  • Nasi putih → hati yang bersih

  • Janur (jatining nur) → cahaya hati dan kesadaran diri

Menurut Kementerian Agama RI, simbol-simbol ini mencerminkan perjalanan manusia dalam mengendalikan diri dan kembali ke fitrah.


Lebaran Ketupat sebagai Tradisi Sosial

Lebaran Ketupat juga punya fungsi sosial yang kuat. Tradisi ini biasanya diisi dengan:

  • Saling mengirim makanan ke tetangga

  • Makan bersama keluarga besar

  • Doa bersama di lingkungan masyarakat

Di banyak daerah, tradisi ini bahkan dilakukan secara gotong royong. Ketupat dibagikan sebagai simbol kebersamaan, bukan sekadar konsumsi pribadi.

Dalam konteks modern, tradisi ini menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan hanya soal individu, tetapi juga hubungan sosial.


Insight: Antara Tradisi dan Perubahan Zaman

Menariknya, di tengah gaya hidup modern, makna Lebaran Ketupat perlahan bergeser. Bagi sebagian orang, tradisi ini hanya menjadi agenda makan bersama tanpa memahami filosofi di baliknya.

Di sisi lain, justru di sinilah kekuatan budaya Indonesia terlihat. Tradisi seperti Lebaran Ketupat menunjukkan bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan, saling memperkuat, bukan saling menghapus.

Pertanyaannya: apakah generasi sekarang masih memahami maknanya, atau hanya menjalankan ritual tanpa refleksi?


Contoh Nyata di Kehidupan Sehari-hari

Bayangkan suasana di sebuah kampung di Jawa.

Setelah seminggu Lebaran, warga kembali berkumpul. Ibu-ibu sibuk menyiapkan ketupat, opor, dan lauk lainnya. Anak-anak berkeliling mengantarkan makanan ke tetangga. Orang dewasa saling berkunjung, melanjutkan silaturahmi yang belum sempat dilakukan saat Idul Fitri.

Namun di kota besar, gambaran ini mulai berubah. Banyak keluarga hanya membeli ketupat jadi, bahkan sebagian tidak lagi merayakannya.

Di sinilah terlihat perbedaan antara tradisi yang dijalankan dan tradisi yang dipahami.


Kenapa Lebaran Ketupat Masih Relevan?

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Lebaran Ketupat justru menjadi:

  • Penguat hubungan sosial

  • Pengingat nilai berbagi

  • Simbol identitas budaya

Bagi generasi muda, memahami tradisi ini bukan sekadar nostalgia, tetapi cara menjaga akar budaya di tengah perubahan zaman.

Jika diabaikan, tradisi ini berisiko berubah menjadi sekadar formalitas—kehilangan makna yang seharusnya menjadi inti.


Penutup: Lebaran yang Tak Sekadar Hari Raya

Lebaran Ketupat mengajarkan satu hal penting: bahwa perjalanan setelah Ramadhan tidak berhenti di hari kemenangan. Ada proses lanjutan—memperbaiki diri, mempererat hubungan, dan menjaga nilai-nilai yang sudah dibangun.

Di tengah dunia yang terus berubah, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi apa itu Lebaran Ketupat, tetapi apakah kita masih benar-benar memaknai setiap tradisi yang kita jalani?

Memahami hal sederhana seperti ini bisa jadi langkah kecil untuk tetap terhubung dengan identitas kita sendiri.


Baca Juga: Arus Balik Lebaran 2026, 327 Ribu Penumpang Sudah ke Jawa

Baca Juga: Lebaran Ketupat 2026: Sejarah, Tradisi, dan Makna di Balik Kupat

FAQ

1. Kapan Lebaran Ketupat dirayakan?

Lebaran Ketupat biasanya dirayakan pada tanggal 7 atau 8 Syawal, sekitar satu minggu setelah Idul Fitri. Waktu ini bertepatan dengan selesainya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, sehingga perayaannya menjadi penutup rangkaian ibadah setelah Ramadhan.

2. Apa itu Lebaran Ketupat dalam tradisi Indonesia?

Apa itu Lebaran Ketupat? Secara sederhana, ini adalah tradisi perayaan setelah Idul Fitri yang identik dengan makan ketupat, berbagi makanan, dan mempererat silaturahmi. Tradisi ini berkembang kuat di masyarakat Jawa dan menjadi bagian dari budaya Islam Nusantara.

3. Kenapa Lebaran Ketupat identik dengan ketupat?

Ketupat menjadi simbol utama karena memiliki makna filosofis dalam budaya Jawa. Kata “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, sehingga ketupat melambangkan saling memaafkan dan kembali ke hati yang bersih setelah menjalani Ramadhan.

4. Apa hubungan Lebaran Ketupat dengan puasa Syawal?

Lebaran Ketupat berkaitan erat dengan puasa Syawal karena biasanya dirayakan setelah umat Islam menyelesaikan puasa enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini menjadi bentuk syukur sekaligus penanda bahwa ibadah setelah Idul Fitri telah disempurnakan.

5. Bagaimana sejarah Lebaran Ketupat di Indonesia?

Sejarah Lebaran Ketupat tidak lepas dari dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan budaya lokal. Tradisi ini kemudian berkembang sebagai bagian dari metode penyebaran Islam oleh Wali Songo agar lebih mudah diterima masyarakat.

6. Apa makna filosofi ketupat dalam Lebaran Ketupat?

Filosofi ketupat mencerminkan perjalanan spiritual manusia, mulai dari mengakui kesalahan hingga kembali suci. Anyaman janur melambangkan kompleksitas dosa, sedangkan nasi putih di dalamnya menjadi simbol hati yang bersih setelah saling memaafkan.

7. Apa tujuan tradisi kupatan dalam masyarakat?

Tujuan tradisi kupatan bukan hanya perayaan, tetapi memperkuat hubungan sosial melalui silaturahmi dan berbagi makanan. Tradisi ini juga menjadi sarana menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya di tengah kehidupan modern.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.