Akurat
Pemprov Sumsel

Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga Menurut Islam? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama

Idham Nur Indrajaya | 11 Maret 2026, 22:32 WIB
Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga Menurut Islam? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama
Kenapa kucing tidak masuk surga menurut Islam? Simak penjelasan hadis, pandangan ulama, dan pelajaran penting tentang kasih sayang pada hewan. Sumber: Pixabay

AKURAT.CO Kucing adalah salah satu hewan yang paling dicintai umat Islam. Banyak kisah yang menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan kucing dengan penuh kasih sayang. Bahkan, ada cerita populer tentang seekor kucing yang tidur di atas pakaian Nabi hingga beliau rela memotong bagian bajunya agar tidak mengganggu hewan tersebut.

Namun muncul pertanyaan yang cukup mengejutkan bagi banyak orang: benarkah kucing tidak masuk surga menurut Islam?

Bagi pecinta kucing, jawaban ini mungkin terasa membingungkan. Apalagi kucing dikenal sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW. Lalu apa sebenarnya alasan kucing tidak masuk surga menurut ajaran Islam? Penjelasannya ternyata berkaitan dengan konsep keadilan Allah SWT dan perbedaan kedudukan manusia serta hewan di akhirat.


Kenapa Kucing Tidak Masuk Surga?

Dalam ajaran Islam, terdapat penjelasan bahwa kucing tidak masuk surga bukan karena dosa, melainkan karena perbedaan kedudukan antara manusia dan hewan.

Beberapa alasan utamanya adalah:

  • Hewan tidak dibebani syariat atau kewajiban ibadah seperti manusia.

  • Hewan tidak dihisab amal perbuatannya di hari kiamat.

  • Semua hewan akan dibangkitkan untuk menerima keadilan (qisas).

  • Setelah itu, hewan akan dijadikan tanah oleh Allah SWT.

Penjelasan ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA yang disebutkan dalam kitab tafsir.


Hadis yang Menjelaskan Nasib Hewan di Hari Kiamat

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA dalam kitab Tafsir Al Thabari disebutkan bahwa seluruh makhluk akan dibangkitkan pada hari kiamat.

Teks Arab:

إن الله يحشر الخلق كلهم، كل دابة وطائر وإنسان، يقول للبهائم والطير كونوا ترابًا

Latin:

Inna Allāha yaḥsyurul khalqa kullahum, kulla dābbatin wa ṭā'irin wa insān, yaqūlu lil-bahā'imi waṭ-ṭairi kūnū turābā.

Artinya:

“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan seluruh makhluk pada hari akhir, yaitu setiap hewan, burung, dan manusia. Lalu Allah berkata kepada hewan-hewan dan burung: ‘Jadilah kamu tanah.’”

Hadis ini menjelaskan bahwa hewan akan dibangkitkan di hari kiamat, tetapi bukan untuk menerima pahala atau masuk surga seperti manusia.


Mengapa Hewan Tidak Masuk Surga Menurut Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan ini berkaitan dengan konsep taklif (beban syariat) dalam Islam.

Manusia memiliki akal, pilihan moral, dan kewajiban menjalankan perintah Allah seperti salat, puasa, dan amal saleh. Karena itulah manusia akan dihisab di akhirat.

Sementara itu, hewan tidak memiliki kewajiban ibadah.

Ulama fikih Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hewan tidak akan masuk surga sebagaimana manusia yang bertakwa karena mereka tidak dibebani syariat.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ahmad Fahrurrozi, Ketua Tanfidziyah PBNU.

Ia menjelaskan bahwa:

“Bukan hanya kucing, semua hewan memang tidak masuk surga. Surga diperuntukkan bagi makhluk Allah yang menjalankan ibadah.” (Sumber: NU Online)

Dengan kata lain, alasan kucing tidak masuk surga bukan karena dosa, tetapi karena sistem kehidupan akhirat berbeda dengan kehidupan di dunia.


Kedudukan Kucing dalam Islam dan Kisah Nabi Muhammad

Meski kucing tidak masuk surga, hewan ini memiliki kedudukan istimewa dalam budaya Islam.

Rasulullah SAW dikenal sangat menyayangi kucing. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi memiliki seekor kucing bernama Muezza.

Dalam buku Nabi Muhammad Sang Penyayang karya Syaifuddin Al-Indunisi dijelaskan bahwa Rasulullah memperlakukan hewan dengan sangat lembut.

Salah satu kisah populer menyebutkan bahwa Nabi tidak ingin mengganggu kucing yang tidur di atas bajunya. Beliau memilih memotong bagian kain tersebut agar kucing tetap bisa tidur dengan nyaman.

Kisah ini sering dijadikan contoh tentang hukum menyayangi kucing dalam Islam, yaitu sebagai bentuk kasih sayang terhadap makhluk Allah.


Apakah Hewan Akan Mendapat Keadilan di Hari Kiamat?

Walaupun hewan tidak masuk surga menurut Islam, mereka tetap akan mendapatkan keadilan di hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Pada hari kiamat, semua hak akan diberikan kepada pemiliknya, bahkan dari binatang yang bertanduk kepada yang tidak bertanduk.”
(HR Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa jika ada hewan yang disakiti oleh hewan lain, Allah akan menegakkan keadilan di antara mereka.

Setelah keadilan ditegakkan, barulah hewan-hewan tersebut dijadikan tanah.


Apakah Manusia Bisa Bertemu Hewan Peliharaan di Surga?

Ada riwayat menarik tentang seorang Arab Badui yang sangat mencintai untanya.

Ia bertanya kepada Rasulullah SAW:

Teks Arab:

يا رسول الله إني أحبّ الإبل فهل في الجنة إبل؟

Latin:

Yā Rasūlallāh innī uḥibbul-ibil, fahal fil-jannati ibil?

Artinya:

“Wahai Rasulullah, aku sangat mencintai unta. Apakah di surga nanti ada unta?”

Rasulullah SAW menjawab:

“Jika Allah memasukkanmu ke dalam surga, maka di dalamnya terdapat apa saja yang kamu inginkan dan menyenangkan pandanganmu.”

Hadis ini sering dipahami para ulama sebagai kemungkinan bahwa penghuni surga bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk bertemu kembali dengan hewan kesayangan.


Pahala dan Dosa Manusia karena Memperlakukan Hewan

Walaupun hewan tidak masuk surga, perlakuan manusia terhadap hewan bisa menentukan nasibnya di akhirat.

Salah satu hadis terkenal menceritakan seorang wanita yang masuk neraka karena menyiksa kucing.

Rasulullah SAW bersabda:

Teks Arab:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا

Latin:

‘Udz-dzibat imra’atun fī hirratin habasat-hā ḥattā mātat jū‘an.

Artinya:

“Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati kelaparan.”
(HR Bukhari)

Sebaliknya, ada pula kisah seseorang yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dalam setiap makhluk yang memiliki hati yang basah terdapat pahala.”
(Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini menunjukkan bahwa pahala memberi makan hewan sangat besar dalam Islam.


Pelajaran Penting dari Kisah Kucing dalam Islam

Ada sebuah paradoks menarik dalam ajaran Islam.

Di satu sisi, hewan tidak masuk surga. Namun di sisi lain, hewan justru bisa menjadi sebab manusia masuk surga atau neraka.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan nilai kasih sayang sebagai prinsip utama dalam memperlakukan makhluk hidup.

Menyayangi hewan bukan hanya soal empati, tetapi juga bagian dari akhlak seorang Muslim.


Mengapa Ajaran Ini Penting Dipahami?

Memahami kedudukan hewan dalam Islam mengajarkan manusia untuk lebih bertanggung jawab terhadap makhluk lain.

Pesan moralnya sangat jelas:

  • Jangan menyiksa hewan

  • Beri makan jika mereka kelaparan

  • Perlakukan hewan dengan kasih sayang

Perilaku sederhana seperti memberi makan kucing liar ternyata bisa menjadi amal besar di sisi Allah SWT.


Penutup: Pelajaran Besar dari Seekor Kucing

Pada akhirnya, pertanyaan tentang kucing tidak masuk surga sebenarnya membawa manusia pada pelajaran yang jauh lebih besar.

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah kepada Tuhan, tetapi juga kasih sayang kepada seluruh makhluk hidup.

Seekor kucing mungkin tidak masuk surga seperti manusia. Namun cara kita memperlakukan kucing justru bisa menentukan apakah kita pantas menjadi penghuni surga atau tidak.

Karena itu, setiap kali kita memberi makan kucing, menolong hewan yang terluka, atau sekadar memperlakukannya dengan baik, mungkin di situlah tersimpan amal yang bernilai besar di sisi Allah.


Baca Juga: Kucing Sering Tidur di Kardus? Ini Alasannya

Baca Juga: Kucing Tidur Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

FAQ

1. Apakah kucing masuk surga menurut Islam?

Dalam ajaran Islam, sebagian besar ulama menjelaskan bahwa kucing tidak masuk surga sebagaimana manusia. Hal ini karena hewan tidak memiliki kewajiban ibadah dan tidak dibebani syariat seperti manusia. Menurut hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, seluruh hewan akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mendapatkan keadilan, kemudian Allah SWT memerintahkan mereka menjadi tanah.

2. Mengapa kucing tidak masuk surga menurut Islam?

Alasan kucing tidak masuk surga bukan karena hewan tersebut berdosa, melainkan karena perbedaan kedudukan antara manusia dan hewan di akhirat. Dalam Islam, surga diperuntukkan bagi makhluk yang menjalankan ibadah dan diuji dengan amal perbuatan. Sementara hewan tidak memiliki tanggung jawab moral seperti manusia sehingga tidak dihisab dan tidak menerima pahala atau siksa seperti manusia.

3. Apakah semua hewan tidak masuk surga menurut Islam?

Menurut mayoritas ulama, semua hewan tidak masuk surga karena mereka tidak dibebani kewajiban ibadah. Namun, dalam hadis dijelaskan bahwa hewan tetap akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mendapatkan keadilan jika pernah saling menyakiti. Setelah keadilan ditegakkan, hewan-hewan tersebut akan dijadikan tanah oleh Allah SWT.

4. Apakah manusia bisa bertemu hewan peliharaan di surga?

Beberapa ulama menjelaskan bahwa penghuni surga akan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis tentang seorang Arab Badui yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai unta di surga. Rasulullah SAW menjawab bahwa di surga terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh penghuninya. Karena itu, ada kemungkinan seseorang dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaannya sebagai bagian dari kenikmatan surga.

5. Apakah menyayangi kucing dalam Islam mendapat pahala?

Dalam Islam, menyayangi kucing dan memberi makan hewan termasuk amal yang berpahala. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam setiap makhluk yang memiliki hati yang hidup terdapat pahala bagi orang yang berbuat baik kepadanya. Artinya, memberi makan, merawat, atau menolong hewan seperti kucing dapat menjadi sumber pahala bagi seorang Muslim.

6. Apakah ada hukuman bagi orang yang menyiksa kucing?

Ya, Islam sangat melarang menyiksa hewan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan. Kisah ini menunjukkan bahwa perlakuan buruk terhadap hewan bisa menjadi dosa besar dan menyebabkan seseorang mendapat azab di akhirat.

7. Mengapa kucing begitu dihormati dalam budaya Islam?

Kucing memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam karena Rasulullah SAW dikenal sangat menyayangi hewan ini. Banyak kisah yang menggambarkan kelembutan Nabi terhadap kucing, sehingga umat Islam meneladani sikap tersebut. Karena itu, memelihara kucing sering dipandang sebagai bentuk kasih sayang terhadap makhluk Allah SWT sekaligus mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.