Viral Dokter Qory Ulfiyah Yang Tengah Hamil Kabur Dari Suami KDRT, Ini Penyebab Mengapa Perempuan Rentan Jadi Korban

AKURAT.CO – Nama dokter Qory Ulfiyah Ramayanti berhasil menyita perhatian masyarakat usai kisah hilangnya dari sang suami karena diduga jadi korban KDRT.
Parahnya lagi adalah dokter Qory yang berusia 37 tahun tengah mengandung anak keempat.
Kabar hilangnya dokter Qory yag bertugas di sejumlah klinik dan Rumah Sakit di Depok sendiri dikabarkan sang suami lewat akun X/Twitternya.
Sang Suami mengakui dan menyesal bahwa dirinya ada melakukan perbuatan KDRT kepada ibu dari anak-anak mereka.
“Sy suami dari dr.Qory, istri sy pergi meninggalkan rumah pada 13-11-2023 sekitar jam 9.30 pagi, penyebabnya setelah bertengkar dgn sy pagi itu.” Ujar sang suami yang bernama Willy Sulistio menggunakan akun X Dokter Qory.
Baca Juga: Qory Sandioriva Cerita Proses Menyembuhkan Sakit Autoimun
Namun, dari kabar terbaru, Qory sudah ditemukan dalam keadaan sehat pada Jumat, 17 November 2023. Untuk saat ini, dokter Qory berada di Kepolisian Resor (Polres) Bogor.
Kabar terbaru melaporkan sang suami telah ditahan di Polres Bogor.
Dilansir dari situs ditjenpp kemenkumham, Perempuan hampir selalu menjadi korban kekerasan karena budaya dan nilai-nilai masyarakat kita dibentuk oleh kekuatan patriarkal[2], dimana laki-laki secara kultural telah dipersilahkan menjadi penentu kehidupan.
Menurut Foucault, laki-laki telah terbentuk menjadi pemilik ‘kuasa’ yang menentukan arah ‘wacana pengetahuan’ masyarakat.
Kekerasan terhadap perempuan secara garis besar (pada umumnya) terjadi melalui konsep adanya kontrol atas diri perempuan, baik terhadap pribadinya, kelembagaan, simbolik dan materi.
Baca Juga: Deasy Natalia Korban KDRT Minta Bantuan Hukum Ke Hotman Paris
Dengan demikian, ketika hubungan antar jenis kelamin dikonstruk melalui hubungan dominasi-subordinasi, maka perempuan berposisi sebagai pihak yang diatur oleh laki-laki.
Bangunan relasi ini bekerja melalui seluruh sistem sosial tadi yang kemudian melahirkan identitas gender yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Secara sosio-kultural, hubungan laki-laki – perempuan (relasi jender) di Indonesia secara kompleks terbangun melalui beberapa alasan, antara lain:
laki-laki secara fisik lebih kuat dari pada perempuan dan ada kemungkinan tingkat agresivitas yang tinggi memiliki dasar biologis pula.
Dalam masyarakat laki-laki juga dibiasakan untuk melatih menggunakan fisiknya sekaligus berkelahi, menggunakan senjata dan menggunakan intimidasi kekuatan sejak masa kanak-kanak.
dalam masyarakat ada tradisi panjang mengenai dominasi laki-laki terhadap perempuan, dan toleransi penggunaan kekuatan oleh laki-laki.
Tradisi tersebut tertampilkan melalui film, pornografi, musik rok, dan media pada umumnya.
Realitas ekonomi memaksa perempuan untuk menerima penganiayaan dari orang pada siapa dia bergantung.
pada tingkat individual, factor psikologis berinteraksi dengan hal-hal yang disebutkan di atas, untuk menjelaskan bahwa sebagian laki-laki melakukan kekerasan dan sebagian perempuan menjadi korban kekerasan.
Sementara sebagian laki-laki lain tidak melakukan kekerasan tersebut dan sebagian perempuan juga tidak menjadi sasaran kekerasan.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kekuatan dan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki dalam arti perbedaan yang dipersepsikan sebagai hak dan kemampuan untuk melakukan pengendalian terhadap satu sama lain.
Maka ketika relasi kuasa tidak seimbang, kekerasan dan ketidakadilan menjadi suatu kemungkinan yang sangat besar muncul.
Tetapi dalam kasus tertentu, bisa jadi kenyataan itu terbalik, dan laki-lakilah yang menjadi korban.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








