Apa Itu Toxic Positivity? Kenali Efek Negatifnya bagi Kesehatan Mental
AKURAT.CO Toxic Positivity adalah kondisi di mana individu atau lingkungan mendorong diri sendiri maupun orang lain untuk selalu bersikap dan berpikir positif secara berlebihan sehingga emosi negatif cenderung diabaikan bahkan ditolak.
Sikap ini membuat seseorang menekan emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, atau stres, padahal emosi tersebut penting sekali untuk dirasakan dan diekspresikan secara sehat.
Meskipun niatnya terlihat positif, toxic positivity justru dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, karena penekanan emosi yang berlebihan berisiko menimbulkan stres, kecemasan, depresi, dan berbagai masalah psikologis lainnya.
Baca Juga: Apa Itu Toxic Positivity? Simak Cara Mengatasinya
Definisi Toxic Positivity
Toxic Positivity adalah sikap atau pandangan yang mendorong kebahagiaan dan optimisme secara berlebihan tanpa memberi ruang bagi emosi negatif.
Hal ini membuat seseorang cenderung mengabaikan atau menekan perasaan sedih, marah, atau kecewa demi selalu merasa positif.
Berbeda dengan sikap positif yang sehat, toxic positivity mengabaikan pentingnya emosi negatif dalam proses mental dan emosional yang menganggu kesehatan mental.
Baca Juga: Jauhi Toxic Positivity, Ini Bahayanya untuk Kesehatan Mental
Efek Negatif Terhadap Kesehatan Mental
-
Penekanan emosi yang sesungguhnya, sehingga menimbulkan stres berat, kecemasan, dan depresi.
-
Penurunan rasa empati karena orang yang terpapar toxic positivity cenderung merasa tidak didengar, tidak dipahami, dan terisolasi.
-
Kerusakan hubungan interpersonal karena ketidakmampuan untuk mengakui dan membahas perasaan negatif.
-
Menghambat pertumbuhan pribadi karena emosi negatif yang ditekan tidak bisa dimanfaatkan sebagai pelajaran berharga dan mekanisme pemulihan.
Pentingnya Ekspresi Emosi Negatif
Emosi negatif sesungguhnya memberikan informasi penting yang membantu seseorang memahami situasi dan mengambil keputusan yang tepat. Contohnya, rasa takut menandakan potensi bahaya yang perlu diwaspadai.
Maka dari itu, menerima dan mengelola emosi negatif secara sehat menjadi kunci kesejahteraan mental, berbeda dengan toxic positivity yang justru mengabaikan dan menekan emosi tersebut secara berlebihan.
Dengan memahami konsep toxic positivity dan dampak negatifnya, seseorang diharapkan dapat menjaga kesehatan mental dengan membiarkan emosi negatif diproses secara sehat, bukan ditekan demi selalu terlihat positif.
Aqila Shafiqa Aryaputri (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








