Akurat Logo

Mengapa Seseorang Sulit Move On Menurut Psikologi? Ini Alasannya, Ternyata Bukan Sekadar Masih Cinta

Putri Chandra | 4 Juni 2026, 20:06 WIB
Mengapa Seseorang Sulit Move On Menurut Psikologi? Ini Alasannya, Ternyata Bukan Sekadar Masih Cinta
Ilustrasi, mengapa seseorang sulit move on. (OpenAI)

AKURAT.CO Sulit move on setelah putus cinta merupakan hal yang cukup sering dialami banyak orang.

Meski hubungan telah berakhir, tidak sedikit yang masih terus memikirkan mantan, mengenang masa lalu, atau merasa sulit membuka hati untuk orang baru.

Menurut psikologi, kondisi ini bukan semata-mata karena masih mencintai mantan pasangan. Ada berbagai faktor yang memengaruhi, sehingga otak masih memproses perubahan dalam hidup.

Memahami penyebabnya dapat membantu seseorang menjalani proses pemulihan dengan lebih sehat dan perlahan bangkit dari masa lalu.

Baca Juga: Hilang 7 Hari di Gunung Everest Tanpa Oksigen dan Makanan, Pemandu Pendaki Nepal Ditemukan Hidup


Mengapa Seseorang Sulit Move On Menurut Psikologi?

Menurut psikologi, sulit move on bukan sekadar karena masih mencintai mantan pasangan.

Ada berbagai faktor emosional, kebiasaan, hingga cara kerja otak yang membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar melepaskan hubungan yang telah berakhir.

Berikut beberapa alasan seseorang sulit move on menurut psikologi:

1. Masih Memiliki Keterikatan Emosional yang Kuat

Semakin dalam hubungan yang pernah dijalani, semakin kuat pula ikatan emosional yang terbentuk.

Ketika hubungan berakhir, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan hilangnya sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

2. Terbiasa dengan Kehadiran Pasangan

Banyak orang sebenarnya bukan hanya merindukan mantan, tetapi juga merindukan rutinitas yang pernah dijalani bersama.

Baca Juga: Kasus ART Viral, Erin Wartia Fokus Ujian Anak-anaknya Terganggu

Kebiasaan mengobrol, berbagi cerita, atau menghabiskan waktu bersama bisa meninggalkan rasa kehilangan yang cukup besar.

3. Masih Menyimpan Harapan untuk Kembali

Seseorang sering kali sulit move on karena masih berharap hubungan tersebut dapat diperbaiki atau dimulai kembali. Harapan yang terus dipelihara membuat proses menerima menjadi lebih lambat.

4. Mengingat Hanya Kenangan Indah

Otak manusia cenderung lebih mudah mengingat momen-momen menyenangkan dibandingkan pengalaman yang menyakitkan.

5. Merasa Kehilangan Identitas Diri

Dalam hubungan yang berlangsung lama, sebagian orang menjadikan pasangan sebagai bagian besar dari identitas hidupnya. Setelah putus, mereka merasa kehilangan arah.

6. Takut Memulai Hubungan Baru

Rasa takut terluka kembali atau khawatir tidak menemukan pasangan yang lebih baik dapat membuat seseorang terus terpaku pada masa lalu dan enggan membuka diri terhadap kesempatan baru.

7. Belum Menerima Perpisahan

Menurut psikologi, proses move on akan lebih sulit jika seseorang belum menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut telah berakhir.

8. Terlalu Sering Melihat Media Sosial Mantan

Kebiasaan memantau aktivitas mantan di media sosial dapat membuat luka lama terus terbuka. Setiap unggahan atau kabar baru bisa memicu kembali emosi yang sebenarnya sedang berusaha dipulihkan.

9. Hubungan Berakhir Tanpa Kejelasan

Perpisahan yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa penjelasan yang memadai sering meninggalkan banyak pertanyaan. Kondisi ini membuat seseorang sulit menutup babak hubungan tersebut.

10. Harga Diri Ikut Terluka

Putus cinta tidak hanya berkaitan dengan kehilangan pasangan, tetapi juga bisa memengaruhi rasa percaya diri. Sebagian orang mulai mempertanyakan nilai dirinya sehingga proses pemulihan menjadi lebih panjang.


Kesimpulan

Sulit move on merupakan hal yang wajar dan dapat dialami siapa saja setelah berakhirnya sebuah hubungan.

Dalam perspektif psikologi, kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh keterikatan emosional, kebiasaan yang terbentuk selama hubungan, harapan yang belum selesai, hingga proses penerimaan diri yang belum tuntas.

Seiring waktu, dukungan sosial yang baik, penerimaan terhadap kenyataan, dan fokus pada pengembangan diri dapat membantu seseorang pulih dan melangkah ke fase kehidupan berikutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.