Pengamat: Peningkatan Suku Bunga Kredit Usai BI Rate Naik Cenderung Terbatas

AKURAT.CO Kenaikan BI Rate menjadi 6% dinilai belum akan mengerek kenaikan bunga kredit perbankan termasuk KPR dan KKB secara drastis mengingat likuiditas yang masih cukup. Hal itu disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.
Menurutnya, transmisi pada suku bunga perbankan terutama suku bunga kredit cenderung marginal dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas perbankan yang ample.
Pelonggaran makroprudensial BI antara lain adalah KLM (kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) terdapat tambahan likuiditas Rp50 triliun, dan baru terealisasi sekitar Rp28,79 triliun.
“Sehingga transmisi kenaikan suku bunga acuan BI terhadap suku bunga perbankan terutama suku bunga kredit cenderung terbatas sehingga tetap mendukung momentum permintaan kredit perbankan,” ucap Josua kepada Akurat.co, Jumat (20/10/2023).
Baca Juga: Stabilkan Rupiah, BI Naikkan BI Rate 25 Basis Poin Jadi 6 Persen
Ditambahkan, BI juga menjaga momentum pertumbuhan kredit perbankan dengan menurunkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) dari 6% ke 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berpotensi menambah likuiditas sebesar Rp81 triliun dan yang terakhir kebijakan DP 0% termasuk kredit properti dan kendaraan bermotor yang masih akan diperpanjang hingga akhir 2024.
“kebijakan makroprudensial longgar dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” imbuh Josua.
Menurut Josua, BI masih melanjutkan mempertahankan stance kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung terjaganya likuiditas perbankan. Kebijakan moneter yang akan diambil BI ke depan juga tetap pro-stability guna menahan dampak ketidakpastian ekonomi global dan tindakan preemptive dan forward looking dari risiko imported inflation.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) belum lama ini menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps menjadi 6% setelah terakhir kali menaikkan suku bunga di bulan Januari 2023 dengan mempertahankan di level 5,5% selama 8 bulan.
Josua mengatakan, keputusan tersebut merupakan langkah pre-emptive dalam memitigasi dampak imported inflation yang sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Pelemahan rupiah sepanjang bulan Oktober ini tercatat sebesar 360 poin atau melemah 2,3 persen secara bulanan yang merupakan pelemahan terdalam sepanjang bulan Oktober ini,” kata Josua.
Josua menambahkan, pelemahan rupiah tersebut didorong dari penguatan dolar AS terhadap mata uang utama beserta yield UST 10 tahun sebesar 36bps sepanjang bulan Oktober ini. Kemudian berdasarkan data AS yang solid mendorong potensi The FED untuk kembali menaikkan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) di kuartal IV-2023 dengan potensi mempertahankannya hingga semester I-2024.
Pertumbuhan kredit perbankan sendiri tercatat melambat menjadi 8,96% pada September 2023, dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 9,06% secara tahunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










