Akurat
Pemprov Sumsel

Gawat! Fenomena Dissaving, Masyarakat Kelas Menengah Bawah Makan Tabungan Mulai Hantui RI

M. Rahman | 27 Januari 2024, 18:17 WIB
Gawat! Fenomena Dissaving, Masyarakat Kelas Menengah Bawah Makan Tabungan Mulai Hantui RI

AKURAT.CO Fenomena dissaving, atau makan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat kelas menengah bawah RI mulai meresahkan. Pasalnya, porsi tabungan mereka mulai terkikis sepanjang 2023 lalu demi mengimbangi kebutuhan sehari-hari.

Mengacu data time series Survei Konsumen Bank Indonesia, selama setahun terakhir (Januari-Desember 2023), porsi pendapatan yang ditabung masyarakat terus menipis di semua kelompok pengeluaran baik Rp1-2 juta per bulan, Rp2,1-3 juta per bulan, Rp3,1-4 juta per bulan, Rp4,1-5 juta per bulan maupun di atas Rp5 juta per bulan.

Di kelompok pengeluaran Rp1-2 juta per bulan, porsi pendapatan yang ditabung bergerak turun ke 16,7% di Desember dari posisi 17,2% di Januari. Pun kelompok pengeluaran Rp2,1-3 juta per bulan, yang porsi pendapatan yang ditabung mereka bergerak turun ke 14,6% di Desember dari 16,4% di Januari.

Baca Juga: Sasar Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Indef Sebut Cawapres Wajib Kebut Laju Pertumbuhan Kredit Perbankan

Sementara kelompok pengeluaran Rp3,1-4 juta perbulan, porsi pendapatan yang ditabung mereka susut ke 16,1% di Desember dari 17,3% di Januari. Adapun kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta per bulan, porsi pendapatan yang ditabung mereka anjlok ke 17,2% di Desember dari 18,8% di Januari. Untuk kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, turun ke 16,7% di Desember dari 18,6% di Januari.

Rata-rata, porsi pendapatan yang ditabung semua kelompok pengeluaran turun dari 16,7% di Januari menjadi 15,7% di Desember. Ironisnya, porsi pendapatan untuk dikonsumsi naik dari 73,6% di Januari menjadi 74,3% di Desember. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: tabungan terkikis namun konsumsi terus tumbuh, biayanya dari mana?

Ekonom yang juga mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014, Chatib Basri, menilai hal tersebut mengindikasi fenomena dissaving, kondisi di mana masyarakat membelanjakan uang melebihi pendapatan yang tersedia.

Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan sumber pendanaan lain, seperti tabungan atau utang. Terbukti, berdasarkan data BI tersebut, porsi pendapatan untuk cicilan pinjaman masyarakat juga terkerek dari 9,7% di Januari menjadi 10% di Desember.

Chatib mewaspadai potensi pelemahan daya beli masyarakat ke depan, mengingat saat ini masyarakat menengah bawah mulai mengurangi konsumsi sekunder dan tersier dan memprioritaskan konsumsi premier seperti makanan atau pangan.

Senada, Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto meminta pemerintah mengadress isu pelemahan daya beli masyarakat yang terlihat dari fenomena makan tabungan. 

Simpanan nasabah untuk tier saldo Rp100 juta ke bawah atau lebih dikenal sebagai kaum mendang-mending (suka membandingkan produk karena keterbatasan dana) terus terkikis. Diketahui, rata-rata simpanan mereka di tahun 2018 masih sekitar Rp3 juta namun saat ini turun ke Rp1,9 juta. Dengan kata lain mereka sudah mulai menggunakan tabungan mereka.

Pemicu Dissaving

Mengutip Investopedia, fenomena dissaving atau makan tabungan dapat dilihat pada tingkat individu hingga makroekonomi. Ketika dissaving terjadi pada skala ekonomi makro, ini mengindikasikan bahwa seluruh penduduk atau pemerintah menghabiskan semua dana yang tersedia, tidak berinvestasi atau menabung, dan meminjam untuk bertahan hidup. Pada akhirnya, pembayaran cicilan utang pun menjadi tak terkendali.

Ketidakmampuan menabung dapat mencapai titik kritis setelah terjadi bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, atau kebakaran hutan. Penyebab lainnya dapat berupa pergolakan politik, perang, kekacauan sipil, dan hiperinflasi. Tanpa dana yang dapat diandalkan, masyarakat atau pemerintah terpaksa meminjam untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dissaving bisa jadi konsekuensi atas kebiasaan yang disebabkan oleh penilaian yang buruk atau respons yang tidak dapat dihindari terhadap krisis. Pengangguran, penyakit yang tak terduga, dan kecelakaan adalah kejadian-kejadian di luar kendali individu yang dapat menghabiskan tabungan dan menyebabkan krisis keuangan.

Dissaving bisa dipicu dimulai dari serangkaian pengeluaran kartu kredit yang relatif kecil. Seiring berjalannya waktu, hal ini dapat mengakibatkan saldo kartu kredit yang besar dan pendapatan yang terganggu oleh pembayaran rutin dengan tingkat bunga yang tinggi. Tabungan rutin akan melambat atau berhenti saat orang tersebut menyulap pembayaran utang. Kejadian tak terduga tersebut bisa menjadi bencana keuangan pribadi.

Contoh terbaik dari kebiasaaan atau perilaku buruk pemicu dissaving adalah Amerika Serikat yang mengalami penutupan pemerintah selama lebih dari sebulan dari akhir Desember 2018 hingga akhir Januari 2019.

Saat itu banyak pegawai federal dan kontraktor dirumahkan atau dipaksa mengambil cuti tanpa bayaran. Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) memperkirakan sekitar 340.000 pegawai federal dirumahkan, sementara 460.000 lainnya diharuskan untuk bekerja meskipun mereka tidak akan menerima gaji hingga pendanaan pemerintah kembali. Tanpa gaji rutin, banyak dari mereka yang terpaksa "makan tabungan" untuk bertahan hidup dan membayar kewajiban finansial bulanan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa