Mengawali April 2024, Rupiah Turun 38 Poin ke Rp15.895

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 38 poin ke level Rp15.895 pada perdagangan Senin, 1 April 2024.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor eksternal dan internal yang membebani pergerakan rupiah.
Dari eksternal, ketegangan yang semakin meningkat di pasar keuangan global membuat para investor secara cermat mengamati setiap perkembangan ekonomi dan politik dunia.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis 1,5 Poin ke Rp15.856,5 Jelang Rilis Indeks Harga PCE AS
Ia mengungkapkan investor mengawasi data ketenagakerjaan Maret yang akan dirilis. Kehawatiran tentang laporan yang lemah meningkatkan minat pasar terhadap potensi stimulus dari The Fed, mungkin dimulai bulan Juni.
"Perhatian investor semakin terfokus pada data ketenagakerjaan bulan Maret yang akan dirilis nanti, dengan laporan ketenagakerjaan yang lemah semakin meningkatkan peluang The Fed untuk memulai siklus pelonggaran kebijakannya mulai bulan Juni," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (1/4/2024).
Di sisi lain, indeks dolar menguat seiring dengan Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang naik 0,3% pada bulan Februari.
Meskipun angka tersebut sedikit di bawah perkiraan ekonom, tetapi ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, memberikan komentar yang mengindikasikan bahwa data inflasi AS terbaru sesuai dengan harapan bank sentral, sementara pasar memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 68,5% pada bulan Juni, menandai potensi kebijakan yang akan datang.
Sementara itu dari sisi internal, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Maret 2024 mencapai 0,52% secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan pangan menjelang Ramadan, dengan beras, gula, daging ayam, telur ayam, dan bawang putih menjadi komoditas yang mengalami kenaikan signifikan.
Selain faktor inflasi, ketegangan politik lokal juga turut mempengaruhi pasar keuangan, dengan gugatan atas hasil pemilihan presiden yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi menimbulkan kekhawatiran investor akan ketidakpastian politik di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








