Akurat
Pemprov Sumsel

9,9 Juta Gen Z Menganggur, Ekonom: Pemerintah Tak Fokus Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas

Silvia Nur Fajri | 22 Mei 2024, 16:15 WIB
9,9 Juta Gen Z Menganggur, Ekonom: Pemerintah Tak Fokus Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa 9,9 juta penduduk berusia 15-25 tahun tidak mengikuti pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan alias menganggur dalam rentang 2021-2022. Generasi ini dikenal sebagai Generasi Z, yaitu orang-orang yang lahir pada tahun 1997-2012.

Menanggapi situasi ini, peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), Jaya Darmawan, menyatakan bahwa masalah ini terjadi karena kurang fokusnya pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja yang berkualitas. Menurut Jaya, ada dua masalah utama yang berkontribusi pada tingginya angka pengangguran di kalangan Gen Z.

Pertama, Jaya mengungkapkan bahwa pemerintah belum fokus dan efektif dalam pelaksanaan sistem kurikulum pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi yang berkualitas seharusnya mampu melahirkan tenaga kerja yang link and match dengan industri. Namun, sistem pendidikan vokasi yang ada saat ini masih belum mampu mengkoneksikan sekolah vokasi dengan kebutuhan industri. 

"Situasi ini terjadi karena kurang fokusnya pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja yang berkualitas," ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Rabu (22/5/2024).

Baca Juga: Ini Alasan 9,9 Juta Gen Z Menganggur

Hal ini disebabkan oleh kurangnya program sistem magang yang berbayar dan kurikulum yang berbasis praktek industri. "pendidikan vokasi yang berkualitas dapat melahirkan tenaga kerja yang link and match dengan industri," katanya.

Tetapi, kata Jaya, tanpa adanya program magang berbayar dan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri, lulusan vokasi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang relevan dengan bidang mereka. Koneksi yang lemah antara pendidikan dan industri membuat lulusan vokasi tidak siap untuk masuk ke dunia kerja.

Kedua, Jaya menambahkan bahwa pemerintah belum optimal dalam meningkatkan industri yang menyerap tenaga kerja lebih banyak atau yang potensial. Ia menyebut bahwa sektor industri pengolahan dan pertanian yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar perlu mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan sektor pertambangan atau ekstraktif yang belakangan ini lebih didorong.

Jaya juga menyoroti pentingnya pengembangan industri yang ramah lingkungan. "Selain itu, pemerintah harus mulai fokus pada pengembangan industri yang lebih hijau karena dalam temuan riset terakhir kami tentang ekonomi hijau dapat menciptakan serapan kerja hingga 19 juta," jelas Jaya.

Jaya melihat pemerintah semestinya fokus kesektor-sektor yang ramah lingkungan tidak hanya meningkatkan jumlah lapangan kerja tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Pemerintah perlu mengalihkan perhatian dari sektor ekstraktif ke sektor-sektor yang memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan berkelanjutan.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya langkah-langkah strategis dalam mengatasi masalah pengangguran di kalangan Gen Z, termasuk peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan pengembangan industri yang lebih ramah lingkungan. 

"Kurang fokusnya pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja yang berkualitas menjadi faktor utama terjadinya situasi ini," ucap Jaya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengimplementasikan kebijakan yang dapat meningkatkan konektivitas antara pendidikan vokasi dan industri serta mengoptimalkan potensi sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.