AKURAT.CO China baru-baru ini kembali melepaskan obligasi AS dalam jumlah besar di kuartal pertama tahun 2024.
Pelepasan tersebut semakin menunjukkan upaya intensif dari China untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar, atau dikenal sebagai dedolarisasi.
Melansir dari Bloomberg menurut laporan data terbaru dari Departemen Keuangan AS, Beijing menjual gabungan surat utang dan obligasi AS senilai USD53,3 miliar di kuartal pertama.
Usut punya usut, Investasi China di AS kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia (AS vs China).
Usut punya usut, Investasi China di AS kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia (AS vs China).
Presiden AS Joe Biden mengumumkan tarif besar kepada sejumlah produk impor dari China, sementara Donald Trump berjanji akan memberlakukan tarif lebih dari 60% pada barang-barang China jika terpilih kembali.
Menurut Stephen Chiu selaku kepala ahli strategi valuta asing dan suku bunga Asia mengatakan kepada Bloomberg, meskipun mendekati siklus penurunan suku bunga The Fed, penjualan obligasi oleh China menunjukkan niat yang jelas untuk mendiversifikasi dari kepemilikan dolar AS.
"Penjualan sekuritas AS oleh China dapat meningkat jika perang dagang AS-China berlanjut, terutama jika Trump kembali menjadi presiden," ucapnya.
Sebelumnya diketahui China menjual Surat Utang AS senilai USD 300 miliar antara 2021 dan pertengahan 2023, dimana hal tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan kenaikan imbal hasil.
Sebelumnya diketahui China menjual Surat Utang AS senilai USD 300 miliar antara 2021 dan pertengahan 2023, dimana hal tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan kenaikan imbal hasil.
China tampaknya mempercepat langkah mundur dari aset AS karena hubungan perdagangan dengan AS diperkirakan tidak akan membaik.
Tahun lalu, China menjual utang AS untuk menopang posisi yuan yang melemah terhadap dolar. Hal ini mungkin terjadi lagi karena greenback mengalami kenaikan besar akibat kebijakan moneter AS yang ketat.
Tahun lalu, China menjual utang AS untuk menopang posisi yuan yang melemah terhadap dolar. Hal ini mungkin terjadi lagi karena greenback mengalami kenaikan besar akibat kebijakan moneter AS yang ketat.
Faktanya, indeks dolar AS naik 4,9% tahun ini sementara yuan melemah, membuat impor menjadi mahal dan memperburuk tren ini di tengah proteksionisme AS yang mendukung penguatan dolar.
Untuk diversifikasi dari dolar, Beijing juga meningkatkan pembelian emas, yang kini mencapai 4,9% dari cadangan China, tertinggi sejak 2015. Tren ini diikuti oleh bank sentral lain yang membeli emas dengan cepat.
Namun, kekuatan dolar bukan satu-satunya alasan tersebut. China juga mendiversifikasi cadangan devisanya sebagai bagian dari gerakan global yang lebih luas untuk mengurangi dominasi dolar.
Untuk diversifikasi dari dolar, Beijing juga meningkatkan pembelian emas, yang kini mencapai 4,9% dari cadangan China, tertinggi sejak 2015. Tren ini diikuti oleh bank sentral lain yang membeli emas dengan cepat.
Namun, kekuatan dolar bukan satu-satunya alasan tersebut. China juga mendiversifikasi cadangan devisanya sebagai bagian dari gerakan global yang lebih luas untuk mengurangi dominasi dolar.
Ketakutan akan sanksi AS, yang pertama kali muncul setelah negara-negara Barat memberlakukan pembatasan dolar terhadap Rusia pada 2022, memicu pola ini di kalangan bank sentral.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










