Hilirisasi Harus Jadi Haluan Baru Ekspor dan Pengelolaan Devisa
Demi Ermansyah | 6 Juni 2024, 10:03 WIB

AKURAT.CO Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menekankan bahwa hilirisasi harus menjadi haluan baru kebijakan ekspor Indonesia. Sebab menurutnya pembangunan infrastruktur dan hilirisasi belum mampu mengubah haluan ekonomi untuk menavigasikan ekspor kita lebih bernilai tinggi.
Dirinya lantas menyinggung aktivitas ekspor barang mentah dan impor barang jadi yang berasal dari komoditas ekspor tersebut. “Hilirisasi harus menjadi haluan baru kebijakan ekspor dan pengelolaan devisa. Selama ini ekspor bahan mentah lalu kita beli lagi ketika menjadi barang jadi dan puluhan tahun kita lakukan ini,” kata Said saat memimpin rapat kerja Banggar DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.
Selain itu, ia juga menyoroti masalah serius terkait pengelolaan devisa, Disampaikannya, banyak perusahaan mengambil keuntungan dari sumber daya alam Indonesia namun justru menempatkan devisa yang dihasilkan di luar negeri, tanpa memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Indonesia.
“Kita juga belum merasakan manfaat devisa atas hasil ekspor, mereka mengambil kekayaan alam kita namun memarkir devisa di luar negeri,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan hilirisasi diharapkan menjadi titian bagi Indonesia menjadi negara Industri. Said kemudian menyoroti rata-rata nilai tambah manufaktur yang menurun dibandingkan dengan era pemerintahan sebelumnya. Said Abdullah menegaskan bahwa situasi ini merupakan tanda deindustrialisasi dini, dan menekankan perlunya pemerintah untuk waspada terhadap hal ini.
“Catatan dari LPEM UI, hampir 10 tahun terakhir rata-rata nilai tambah manufaktur sekitar 39,12 persen hingga tahun 2020. Jauh lebih rendah dibanding rata-rata pada masa Presiden Megawati 43,94 persen dan Presiden SBY 41,64 persen. Situasi ini menjadi tanda deindustrialisasi ini. Oleh sebab itu diharapkan pemerintah bisa mewaspadai hal ini," paparnya.
Tak hanya itu saja, Said juga menyinggung tingkat investasi sebagaimana masih belum menghasilkan barang jasa yang efisien. Ia lantas membandingkan skor ICOR tahun 2014 sebesar 5,5 dan diperkirakan pada level 6,5 di tahun 2023.
"ICOR kita di tahun 2014 tercatat 5,5 setelah hampir 10 tahun kita menggelorakan pembangunan infrastruktur skor ICOR kita malah naik di kisaran 6,5 di tahun 2023. Data di atas menjelaskan bahwa setiap penambahan satu miliar output dibutuhkan tambahan investasi sekitar Rp6,5 miliar,” jelasnya.
ICOR atau Incremental Capital Output Ratio adalah perbandingan antara pertumbuhan ekonomi dengan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan tersebut. Said lalu kembali membandingkan angka ICOR tersebut dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia (4,5), Thailand (4,4), Vietnam (4,6) dan Filipina (3,7).
Oleh karenanya, Said berpendapat bahwa seharusnya pembangunan infrastruktur dan investasi sumber daya manusia dan teknologi dapat memberi kontribusi besar bagi turunnya koefisien ICOR nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









