AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa potensi kenaikan inflasi akibat aktivitas kurban saat Iduladha 1445 Hijriah perlu diantisipasi.
Melalui unggahan resmi di Instagram, BI menjelaskan bahwa meskipun secara historis inflasi pada Iduladha lebih rendah dibandingkan Ramadhan dan Idulfitri, pergerakan harga beberapa komoditas tetap perlu diawasi.
Namun, BI menegaskan bahwa biasanya bukan sapi atau kambing yang menyebabkan inflasi saat Idul Adha. "Menurut data BPS, komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, dan tarif angkutan udara sering memicu inflasi saat Idul Adha," tulis BI dalam akun Instagram resminya, Senin (17/6/2024).
Baca Juga: Airlangga: Inflasi RI Lebih Baik dari Negara G20 Lain
Oleh karena itu, aktivitas qurban saat Idul Adha umumnya tidak berkontribusi signifikan terhadap inflasi di Indonesia. Lebih lanjut, BI mengungkapkan beberapa langkah yang diambil untuk mengendalikan inflasi. Pertama, memperkuat produksi pangan dengan memanfaatkan infrastruktur pengairan untuk mengantisipasi perubahan iklim.
Kedua, mempercepat penerapan teknologi berbasis riset dalam mendukung digitalisasi pertanian. Ketiga, mendorong investasi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Keempat, memutakhirkan sistem dan infrastruktur logistik yang terintegrasi.
Kelima, memperkuat sinergi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. "Pemerintah dan BI akan terus memperkuat pengendalian inflasi dengan menjaga produksi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok pangan," ujar BI.
Sebagai informasi, pada Senin (3/6/2024) lalu, Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengumumkan bahwa terjadi deflasi sebesar 0,03%pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm), lebih rendah dari April yang sebesar 0,25% mtm.
Dibandingkan dengan Mei tahun lalu (year-on-year/yoy), laju inflasi tercatat 2,84%, lebih rendah dari April yang sebesar 3% yoy. "Deflasi ini adalah yang pertama sejak Agustus 2023," ungkap Amalia saat konferensi pers.
Komoditas yang menyumbang deflasi utama adalah beras dengan andil deflasi 0,15%, diikuti daging ayam ras dan ikan segar masing-masing dengan andil deflasi 0,03%, serta tomat dan cabai rawit dengan andil deflasi 0,02%. "Tarif angkutan antar kota juga memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen," tambah Amalia.
Tarif angkutan udara menyumbang deflasi 0,02%, dan tarif kereta api memberikan andil deflasi sebesar 0,01%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










