Ini Sebab Upah Riil di Jepang Tetap Rendah Meski Gaji Pokok Pekerja Naik

AKURAT.CO Gaji pokok rata-rata pekerja di Jepang pada Mei 2024 meningkat dengan laju tercepat dalam 31 tahun. Namun, upah riil yang disesuaikan dengan inflasi turun ke rekor terendah selama 26 bulan berturut-turut.
Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan yen dan tingginya harga komoditas. Reuters melaporkan bahwa gaji pokok pada Mei 2024 naik rata-rata 2,5% year-on-year (yoy), laju tercepat sejak Januari 1993.
Bank of Japan (BOJ) melalui lansiran NHK menyatakan bahwa kenaikan upah yang meluas menunjukkan keyakinan bahwa Jepang sedang membuat kemajuan dalam mencapai target inflasi 2% dalam jangka panjang.
Pandangan bank sentral mengenai perkembangan upah akan menjadi salah satu faktor utama yang akan dipertimbangkan oleh dewan direksi BOJ dalam menetapkan suku bunga serta pandangan proyeksi pertumbuhan triwulanan dan inflasi.
Banyak pelaku pasar memperkirakan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga tahun ini, meskipun terdapat pandangan yang berbeda mengenai waktu penetapan suku bunga baru ini. Perusahaan sektor jasa, yang menjadi indikator utama konsumsi, juga menunjukkan peningkatan kinerja pada Juni yang didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan asing.
Namun, pengeluaran rumah tangga turun secara tak terduga pada bulan Mei karena harga yang lebih tinggi terus menekan daya beli konsumen. Meskipun para analis memperkirakan upah riil akan berubah menjadi positif dalam beberapa bulan mendatang, penurunan yen baru-baru ini telah meningkatkan biaya impor.
"Beberapa cabang melaporkan bahwa inflasi mendorong konsumen mencari barang-barang yang lebih murah, terutama di supermarket," tulis BOJ. Harga konsumen inti pada Mei naik 2,5 persen dari tahun sebelumnya, di atas target BOJ selama lebih dari dua tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








