Intervensi Kebijakan Fiskal dan Moneter Diperlukan Untuk Pulihkan Sektor Manufaktur

AKURAT.CO Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky menegaskan bahwasanya kontraksi yang terus berlanjut di sektor manufaktur Indonesia menyoroti pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat untuk mendorong pemulihan industri.
Di mana penurunan permintaan, baik dari domestik maupun ekspor, serta kesulitan akses pendanaan menjadi faktor utama kontraksi. "Tanpa kebijakan yang kuat, baik dari sisi fiskal maupun moneter, sektor manufaktur akan terus tertekan," jelas Awalil pada saat konferensi pers bersama media di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, tambahnya, pemerintah perlu meningkatkan stimulus fiskal yang mendukung industri, terutama melalui pengurangan pajak untuk industri yang tertekan dan subsidi bagi sektor manufaktur yang strategis.
Baca Juga: 4 Pemicu Deindustrialisasi di Era Jokowi
"Selain itu, kebijakan moneter yang lebih fleksibel, seperti penurunan suku bunga atau insentif bagi perbankan untuk memberikan kredit, dapat mendorong sektor ini kembali bangkit," ucapnya kembali.
Sebab, tambahnya, dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan peluang untuk memperbaiki rantai pasok global dan meningkatkan daya saing produk manufaktur di pasar internasional. "Namun, tanpa intervensi yang efektif, sektor manufaktur berisiko menghadapi perlambatan lebih lanjut, memperlambat pemulihan ekonomi nasional," ucapnya.
Lebih lanjut, Awalil juga menyoroti ketergantungan yang tinggi pada pasar ekspor. "Dulu kita masih bisa mengandalkan industri yang berorientasi ekspor untuk menahan penurunan, tapi sekarang pasar ekspor kita juga stagnan, terutama ke negara-negara seperti China dan Eropa yang tengah mengalami perlambatan ekonomi," ungkap Awalil.
Ketergantungan Indonesia pada pasar ekspor membuat sektor manufaktur rentan terhadap fluktuasi ekonomi global. Ketidakpastian seperti ketegangan geopolitik dan krisis energi di Eropa memengaruhi permintaan internasional terhadap produk manufaktur Indonesia.
Selain itu, ketergantungan pada bahan baku impor juga menambah tekanan bagi industri manufaktur yang harus menghadapi kenaikan harga bahan mentah. Ke depan, tambahnya, penting bagi Indonesia untuk diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat sektor-sektor yang kurang bergantung pada pasar internasional.
"Dengan demikian, sektor manufaktur dapat lebih resilien terhadap perubahan global dan lebih berfokus pada memperkuat permintaan domestik yang berkelanjutan," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







