Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, KMP Jangan Ulang Kegagalan Surplus Infrastruktur Jokowi

AKURAT.CO Kabinet Merah Putih (KMP) yang dipimpin oleh Presiden Prabowo haru sbelajar dari kegagalan surplus infrastruktur Jokowi yang tak berdampak besar ke pertumbuhan ekonomi.
Jika ingin pertumbuhan ekonomi 8% tercapai, dibutuhkan inovasi dan gebrakan kebijakan. Demikian disampaikan Senior Research Associate di Indonesia Financial Group (IFG) Progress, Ibrahim Kholilul Rohman.
Ibrahim menekankan bahwa pencapaian target pertumbuhan 8% membutuhkan usaha yang luar biasa besar. Ia menyoroti bahwa meskipun pemerintahan Jokowi telah melakukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, hasil dari pembangunan tersebut belum sepenuhnya dirasakan.
“Banyak infrastruktur yang dibangun, namun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih belum maksimal,” ungkap Ibrahim saat dihubungi Akurat.co, Rabu (23/10/2024).
Baca Juga: Surplus Infrastruktur dan Ketimpangan Sosial
Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi 8% bukanlah target yang mudah dicapai, terutama jika menggunakan strategi lama. "Diperlukan resep baru yang belum pernah dicoba sebelumnya," tegasnya.
Ia menilai bahwa pendekatan inovatif diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju angka yang lebih tinggi, yang tidak bisa dicapai dengan metode yang sudah digunakan selama ini. "Kalau sesuatu yang sudah dicoba sebelumnya tentu tidak akan menggerakkan ekonomi secara signifikan," tambahnya.
Salah satu langkah yang dianggap Ibrahim sebagai terobosan adalah keputusan Presiden Prabowo untuk membentuk kabinet dengan jumlah menteri yang besar. Menurutnya, hal ini mencerminkan tanggung jawab yang besar dalam mencapai target-target utama pembangunan.
Jumlah menteri yang besar diharapkan mampu mendukung upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mencapai target ambisius tersebut.
Selain itu, Ibrahim juga menyoroti pentingnya kebijakan fiskal yang kredibel dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kebijakan fiskal yang kredibel, baik dari sisi pengeluaran maupun penerimaan pajak, menjadi faktor kunci dalam mendukung perekonomian.
Ibrahim juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menempatkan Kementerian Keuangan langsung di bawah koordinasi Presiden. Menurutnya, kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan adanya koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan ekonomi makro. Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat mengelola anggaran dengan lebih efektif dan mendorong perekonomian nasional ke arah yang lebih baik.
Meski tantangan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% sangat besar, Ibrahim tetap optimis bahwa dengan inovasi kebijakan dan terobosan baru, target ini masih mungkin untuk dicapai. Pencapaian ini akan membutuhkan koordinasi yang erat, kebijakan fiskal yang kredibel, serta komitmen pemerintah dalam melakukan reformasi ekonomi yang mendasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









