Dihadapkan pada Deflasi, Realisasi Stimulus Ekonomi China Kian Dekat
Demi Ermansyah | 29 Oktober 2024, 14:15 WIB

AKURAT.CO Pemerintah China tengah mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak deflasi yang memperburuk keuntungan perusahaan industri besar di negara tersebut.
Dalam sesi legislatif yang dijadwalkan pada 4-8 November mendatang, badan legislatif tertinggi di negara tersebut akan membahas kebijakan stimulus fiskal yang diharapkan mampu mendukung ekonomi yang kini berada dalam tekanan.
Melansir dari Bloomberg, keuntungan industri di perusahaan besar China pada September lalu tercatat turun drastis sebesar 27,1% dibandingkan tahun lalu, setelah pada bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 17,8%, menurut Biro Statistik Nasional.
Melansir dari Bloomberg, keuntungan industri di perusahaan besar China pada September lalu tercatat turun drastis sebesar 27,1% dibandingkan tahun lalu, setelah pada bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 17,8%, menurut Biro Statistik Nasional.
Deflasi yang menekan harga produsen selama 24 bulan berturut-turut hingga September telah menghambat pendapatan perusahaan dan berdampak negatif pada daya beli domestik.
Keuntungan industri China yang menyusut 3,5% dalam sembilan bulan pertama tahun ini mencerminkan tantangan ekonomi yang makin kompleks.
Ekonom memprediksi bahwa pertemuan ini akan mengesahkan rencana pembiayaan ulang utang pemerintah daerah serta penerbitan obligasi negara untuk menambah modal di perbankan.
Ekonom memprediksi bahwa pertemuan ini akan mengesahkan rencana pembiayaan ulang utang pemerintah daerah serta penerbitan obligasi negara untuk menambah modal di perbankan.
Investor berharap stimulus baru dapat meningkatkan akses kredit dan menggenjot belanja publik. Meski begitu, ada ketidakpastian mengenai realisasi kebijakan ini dalam waktu dekat.
Tekanan deflasi yang berkepanjangan, terutama pada sektor harga produsen, diperkirakan akan menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Tekanan deflasi yang berkepanjangan, terutama pada sektor harga produsen, diperkirakan akan menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Namun, pertumbuhan di sektor teknologi tinggi memberikan sedikit harapan dengan keuntungan yang meningkat 6,3% dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Meskipun laju pertumbuhan PDB China melambat ke angka 4,6% pada kuartal ketiga, tanda-tanda pemulihan konsumsi dan produksi industri yang mulai membaik di bulan September diharapkan mampu menopang ekonomi menuju akhir tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







