China Hadapi Tantangan Ekonomi Ganda, Perlambatan Laba Perusahaan dan Ancaman Eksternal

AKURAT.CO Laba perusahaan industri besar di China kembali mencatat penurunan untuk bulan ketiga berturut-turut, menandai tantangan berlapis yang dihadapi sektor industri akibat deflasi harga produsen dan lemahnya output pabrik.
Meski pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan stimulus, dampaknya belum dirasakan secara signifikan oleh sektor tersebut.
Data terbaru dari Biro Statistik Nasional, yang dirilis melansir dari Bloomberg, menunjukkan penurunan laba sebesar 10% pada Oktober dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski lebih baik dari penurunan tajam sebesar 27,1% pada September, angka ini tetap jauh dari ekspektasi pemulihan yang stabil.
Secara kumulatif, laba industri selama 10 bulan pertama 2024 turun 4,3% dibandingkan tahun lalu, memperpanjang tren penurunan tahunan untuk tahun ketiga berturut-turut. Kondisi ini memperlihatkan tekanan yang masih kuat pada sektor pabrik, tambang, dan utilitas, meskipun berbagai kebijakan pelonggaran telah diterapkan.
Pemerintah China sejak akhir September telah meluncurkan berbagai langkah untuk mendukung sektor ekonomi, termasuk pelonggaran moneter dan insentif untuk sektor properti. Sementara itu, investasi infrastruktur yang stabil dan penurunan tingkat pengangguran perkotaan pada Oktober menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan.
Baca Juga: Perang Dagang Kembali Memanas, Siapkah China Hadapi AS?
Namun, Biro Statistik Nasional mengakui bahwa lemahnya permintaan domestik dan deflasi harga produsen yang terus berlanjut menjadi hambatan utama. “Implementasi kebijakan yang lebih cepat dan tambahan langkah-langkah dukungan telah menunjukkan hasil positif, tetapi tekanan masih signifikan,” demikian pernyataan resmi biro tersebut.
Deflasi harga produsen pada Oktober mencatat laju penurunan tercepat dalam lebih dari dua dekade. Bersamaan dengan stagnasi output industri, ini membuat perusahaan-perusahaan semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Tantangan Baru dari Ancaman Eksternal
Di tengah upaya pemulihan domestik, ancaman eksternal mulai membayangi. Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS menimbulkan kekhawatiran baru terhadap hubungan perdagangan China-AS. Ancaman tarif tinggi pada barang-barang China berpotensi memperburuk kinerja sektor ekspor, yang sudah menghadapi hambatan dari pasar Eropa dan kawasan lainnya.
“Prospek perdagangan global untuk China menjadi semakin rumit. Dengan tantangan domestik yang belum terselesaikan, tekanan dari kebijakan proteksionis baru AS akan menambah beban,” ujar seorang analis dari Bloomberg Economics.
Sementara itu, sektor industri diharapkan terus beradaptasi dengan kondisi pasar global yang dinamis dan kompleksitas tantangan domestik. “China membutuhkan kebijakan yang lebih terkoordinasi untuk menangani tekanan jangka pendek dan mendukung reformasi struktural jangka panjang,” tambah analis tersebut.
Dalam menghadapi tekanan dari berbagai sisi, langkah yang lebih agresif mungkin diperlukan untuk menghidupkan kembali sektor industri, yang merupakan pilar penting bagi stabilitas ekonomi China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









