AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2024 tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang kuat serta investasi yang menunjukkan tren positif.
Hal ini disampaikan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2024 di Jakarta, Rabu (18/12/2024). Menurut Perry, investasi yang meningkat didorong oleh penyelesaian berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) serta kontribusi signifikan dari investasi swasta yang mendapat insentif dari pemerintah.
“Investasi tumbuh positif karena didukung oleh penyelesaian PSN dan kebijakan insentif yang mendorong investasi swasta,” ujarnya.
Baca Juga: Reformasi Birokrasi dan Integritas Jadi Modal Pemerintah Sasar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Konsumsi rumah tangga juga menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan, berkat keyakinan konsumen yang tetap terjaga. Perry menjelaskan bahwa pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di berbagai daerah turut memberikan dampak positif terhadap konsumsi masyarakat.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami peningkatan signifikan seiring dengan meningkatnya aktivitas belanja di penghujung tahun. Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung tambahan bagi stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, Perry mencatat bahwa ekspor nonmigas mengalami perlambatan akibat kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya pulih. “Ekspor nonmigas melambat karena tekanan dari ekonomi global yang belum kuat,” kata Perry.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara sektoral ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran. Ketiga sektor ini menunjukkan performa yang stabil dan menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 berada dalam kisaran 4,7 hingga 5,5%. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat menjadi 4,8 hingga 5,6%.
Untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan, Perry menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter BI dan stimulus fiskal pemerintah. BI juga memperkuat bauran kebijakan dengan fokus pada optimalisasi kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran.
“Optimalisasi stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran terus kami lakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.
Dari sisi penawaran, reformasi struktural menjadi kunci untuk mendorong sektor-sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Perry menekankan bahwa pemerintah perlu memperkuat upaya reformasi struktural untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan sinergi kebijakan yang solid, BI optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terus terjaga, meskipun terdapat tantangan dari ekonomi global. “Ke depan, berbagai upaya harus terus ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tukas Perry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









