AKURAT.CO Inflasi di Tokyo kembali mengalami kenaikan pada bulan Desember, menjadi tren kenaikan dua bulan berturut-turut. Penyebab utamanya adalah berakhirnya subsidi pemerintah untuk tagihan listrik dan gas, yang langsung terasa oleh konsumen.
Kondisi ini memberikan gambaran jelas bagaimana perubahan kebijakan dapat mempengaruhi biaya hidup masyarakat secara langsung. Menurut data Kementerian Dalam Negeri yang dirilis Jumat lalu, inflasi konsumen Tokyo (tanpa memperhitungkan harga makanan segar) naik menjadi 2,4% pada Desember, meningkat dari 2,2% di bulan sebelumnya.
Meski angka ini masih sedikit di bawah ekspektasi para ekonom sebesar 2,5%, lonjakan ini merupakan yang tertinggi sejak Agustus. Kenaikan terbesar berasal dari lonjakan harga energi. Sebelumnya, subsidi pemerintah berhasil menekan biaya listrik dan gas, tetapi setelah subsidi itu dihentikan, masyarakat langsung merasakan beban tambahan.
Langkah ini bahkan mengurangi 0,31 poin persentase dari indeks harga keseluruhan bulan lalu, menunjukkan seberapa besar dampak subsidi terhadap inflasi. Selain itu, pengeluaran rumah tangga juga terkena dampak karena inflasi yang lebih tinggi. Konsumen kini harus lebih cermat mengelola anggaran untuk kebutuhan pokok.
“Berakhirnya subsidi ini cukup memberatkan, apalagi di musim dingin ketika konsumsi energi meningkat,” kata seorang warga Tokyo yang diwawancarai NHK, dikutip Jumat (27/12/2024)
Tokyo sering dijadikan tolok ukur tren inflasi nasional Jepang. Jika inflasi di ibu kota naik, biasanya daerah lain juga mengalami pola yang serupa. Dengan berakhirnya subsidi energi, tekanan terhadap biaya hidup bisa jadi lebih luas di berbagai wilayah Jepang.
Kondisi ini membuat pemerintah berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka perlu menjaga anggaran negara tetap sehat, sementara di sisi lain, masyarakat membutuhkan dukungan agar biaya hidup tidak terus melambung. Ke depan, kebijakan terkait energi dan subsidi akan menjadi perhatian utama, terutama jika inflasi terus naik.
Tokyo sering dijadikan tolok ukur tren inflasi nasional Jepang. Jika inflasi di ibu kota naik, biasanya daerah lain juga mengalami pola yang serupa. Dengan berakhirnya subsidi energi, tekanan terhadap biaya hidup bisa jadi lebih luas di berbagai wilayah Jepang.
Kondisi ini membuat pemerintah berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka perlu menjaga anggaran negara tetap sehat, sementara di sisi lain, masyarakat membutuhkan dukungan agar biaya hidup tidak terus melambung. Ke depan, kebijakan terkait energi dan subsidi akan menjadi perhatian utama, terutama jika inflasi terus naik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









