AKURAT.CO China baru-baru ini meluncurkan reformasi pasar modal untuk menghidupkan kembali pasar saham yang sedang lesu.
Namun, langkah ini justru membawa efek samping bagi yuan, mata uang China, yang terus melemah. Salah satu penyebabnya adalah lonjakan pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan China.
Kondisinya, banyak perusahaan China yang terdaftar di Hong Kong membayar dividen dalam dolar Hong Kong, sementara pendapatannya diperoleh dalam yuan. Proses konversi mata uang ini memicu permintaan besar terhadap mata uang asing, sehingga menekan nilai yuan.
Tekanan pada yuan semakin berat karena arus keluar modal dan ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan China.
"Permintaan klien untuk mata uang asing melonjak, terutama karena pembayaran dividen. Banyak perusahaan yang terdaftar di Hong Kong kini memperkenalkan dividen interim," jelas
Ahli strategi senior di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Xing Zhaopeng dilansir Bloomberg, Senin (30/12/2024).
Jejak reformasi pasar modal dimulai pada April 2024, tingkat pembayaran dividen, kualitas emiten baru, dan tata kelola perusahaan memang menunjukkan peningkatan. Namun, menurut Zhaopeng, frekuensi konversi mata uang dan besarnya dividen yang harus dibayarkan justru menjadi beban bagi yuan.
Data Bloomberg mencatat bahwa perusahaan milik negara China telah meningkatkan pembayaran dividen secara signifikan, mencapai rekor USD 118 miliar pada tahun 2024.
Beberapa perusahaan besar yang membagikan dividen besar di antaranya adalah China Construction Bank Corp dengan total USD6,5 miliar. Ini merupakan pembayaran dividen interim pertama perusahaan tersebut sejak tahun 2008.
Dividen besar lainnya berasal dari China Mobile Ltd yang membayarkan USD6,9 miliar pada September 2024, naik 7% dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, CNOOC Ltd juga mencatat kenaikan dividen sebesar 26% sepanjang tahun ini.
Menurut Le Xia, Kepala Ekonom BBVA, pelemahan yuan yang terus terjadi hingga akhir tahun tidak akan mengubah tren pembayaran dividen perusahaan milik negara. Yuan sendiri tercatat melemah 2,76% terhadap USD sepanjang 2024.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










