Harga Gandum Melonjak, Inflasi Ritel di India Meroket
Demi Ermansyah | 7 Januari 2025, 16:26 WIB

AKURAT.CO Harga gandum di India beberapa waktu lalu kembali mencapai level tertinggi pada 6 Januari 2025, yang pada akhirnya tidak hanya berdampak pada pelaku industri, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Usut punya usut, kenaikan tersebut diperkirakan akan memicu lonjakan inflasi ritel, yang sebelumnya sempat menurun pada November 2024 setelah mencapai puncaknya dalam 14 bulan terakhir pada Oktober.
Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi Bank Sentral India. Lonjakan harga gandum dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya, sehingga memperumit upaya pengendalian inflasi. Menurut salah satu pengusaha penggilingan tepung, Pramod Kumar menyoroti bahwa langkah pembatasan stok oleh pemerintah belum efektif menekan harga.
“Pemerintah perlu menjual lebih banyak gandum dari cadangan negara untuk memenuhi permintaan pasar. Saat ini, pasokan dari Food Corporation of India (FCI) tidak cukup, apalagi pelepasan 100.000 ton gandum per minggu oleh FCI jauh dari memadai untuk mengatasi krisis ini," kata Pramod dikutip dari Reuters, Selasa (7/1/2025).
Dengan inflasi yang berpotensi naik, Bank Sentral India dihadapkan pada dilema kebijakan. Jika inflasi terus meningkat, bank sentral mungkin terpaksa menunda rencana pemotongan suku bunga yang sebelumnya dipertimbangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, dampak kenaikan harga gandum juga dikabarkan meluas ke sektor lain. Banyak produsen makanan dan industri terkait yang mulai menyesuaikan harga produk mereka, sehingga menambah beban ekonomi bagi masyarakat.
Hal ini semakin diperparah oleh fakta bahwa cadangan gandum di India, meskipun sedikit meningkat dibanding tahun lalu, tetap jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









