Waspadai Dampak Perang Dagang, Malaysia Pertahankan Suku Bunga 3%

AKURAT.CO Bank Sentral Malaysia atau Bank Negara Malaysia (BNM) resmi mempertahankan suku bunga acuannya di level 3% pada Kamis (6/3/2025). Namun, di balik keputusan ini, bayang-bayang perang dagang global, terutama antara Amerika Serikat dan China, masih menjadi ancaman serius bagi ekonomi Negeri Jiran.
Dalam rapat kebijakan keduanya tahun ini, BNM memilih menahan Overnight Policy Rate (OPR) sesuai ekspektasi pasar. Seluruh analis yang dikutip dari laman bloomberg pun memprediksi langkah tersebut, mengingat kondisi ekonomi domestik Malaysia yang dinilai masih cukup solid.
Namun di tengah stabilnya suku bunga, ancaman eksternal justru semakin nyata. Potensi penerapan tarif impor baru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk semikonduktor bisa jadi pukulan telak.
Apalagi, AS merupakan pasar ekspor chip terbesar ketiga bagi Malaysia. Jika tarif itu diberlakukan, dampaknya bisa langsung terasa ke industri teknologi hingga sektor ekspor.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Memanas, Pasar Pangan Global Ikut Terguncang
Meski demikian, pemerintah Malaysia tetap percaya diri mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5% hingga 5,5% pada 2025.
Optimisme ini muncul berkat fundamental ekonomi yang dinilai kuat dan aliran investasi dari proyek-proyek strategis, baik swasta maupun pemerintah.
Selain itu, BNM menilai permintaan domestik masih akan jadi penopang utama ekonomi tahun ini.
Kenaikan lapangan kerja dan peningkatan upah masyarakat diprediksi mampu menjaga daya beli tetap stabil, meskipun tekanan dari luar negeri terus menghantui.
Sementara itu, soal inflasi, BNM memperkirakan kenaikan harga masih terkendali, mengikuti tren penurunan harga komoditas global.
Pemerintah memperkirakan inflasi berada di kisaran 2% hingga 3,5% pada 2025. Namun, risiko lonjakan harga tetap ada, terutama jika rencana pengurangan subsidi bahan bakar jenis bensin paling populer benar-benar dijalankan pada pertengahan tahun.
Baca Juga: Perang Dagang Kian Memanas! Ini Strategi China Hadapi Tekanan Tarif Tinggi AS
Selain perang dagang, nilai tukar ringgit juga diproyeksi rentan bergejolak akibat faktor eksternal. BNM menyebut volatilitas tinggi bisa terjadi, meskipun peluang penguatan tetap terbuka jika selisih suku bunga antara Malaysia dan negara-negara maju makin menyempit.
Meski ada ancaman global yang tak bisa diabaikan, BNM memastikan akan terus memantau kondisi ekonomi dan inflasi secara berkala. Langkah kebijakan lanjutan pun disiapkan jika situasi ekonomi berubah lebih drastis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 9Ramalan Shio Asmara 7 Juni 2026 Terbaru: Tikus Makin Romantis, Naga Penuh Pesona, Harimau Berpeluang Jatuh Cinta
- 10Ramalan Zodiak Keuangan 7 Juni 2026: Leo, Aquarius, Aries, dan Pisces







