Akurat
Pemprov Sumsel

Singapura Bagi Tunjangan Pengangguran Hingga Rp 74 Juta, Kartu Prakerja ke Mana?

Demi Ermansyah | 22 Maret 2025, 12:20 WIB
Singapura Bagi Tunjangan Pengangguran Hingga Rp 74 Juta, Kartu Prakerja ke Mana?

AKURAT.CO Pemerintah Singapura baru saja mengumumkan kebijakan baru yang cukup mengejutkan. Mulai April 2025, warga negaranya yang kehilangan pekerjaan bisa mendapatkan tunjangan pengangguran hingga SGD6.000 atau sekitar Rp74 juta per bulan selama enam bulan.

Sementara itu, di Indonesia, program Kartu Prakerja yang dulu digadang-gadang bisa membantu pencari kerja justru sudah lama tak terdengar gaungnya.

Lalu apakah Indonesia perlu mempertimbangkan kembali program serupa untuk menghadapi tantangan pengangguran yang kian meningkat?

Singapura Serius Bantu Pencari Kerja, Indonesia Gimana?

Mengutip dari laman The Straits Times Singapura tidak hanya memberikan tunjangan pengangguran, tetapi juga mewajibkan para pencari kerja untuk mengikuti aktivitas pelatihan dan pencarian kerja.

Dengan skema SkillsFuture Jobseeker Support, pemerintah Singapura ingin memastikan bahwa mereka yang menerima bantuan benar-benar mendapatkan manfaat jangka panjang, bukan sekadar ‘uang gratis’.

Baca Juga: 3,6 Juta Orang Bepergian Melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, Jakarta dan Singapura Rute Favorit

Sementara itu, di Indonesia, Kartu Prakerja sempat menjadi program unggulan sejak pandemi COVID-19, menawarkan pelatihan dan insentif bagi pencari kerja.

Namun, pasca pandemi mereda, program ini seakan hilang dari radar. Tidak ada kejelasan apakah program ini akan diteruskan atau tidak, padahal angka pengangguran masih tinggi.

Mengacu kepada data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Agustus 2024 masih berada di angka 4,91% persen, dengan lebih dari 7,47 juta orang tidak memiliki pekerjaan.

"Pada Agustus 2024 terdapat 7,47 juta pengangguran atau setara dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,91persen," ujar Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (5/11/2024).

Tentunya, jumlah ini belum termasuk angkatan kerja baru yang terus bertambah setiap tahunnya. Jika dibandingkan dengan Singapura, Indonesia jelas memiliki tantangan yang lebih besar, baik dari segi jumlah penduduk maupun ketimpangan keterampilan tenaga kerja.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Singapura?

Dibandingkan dengan Kartu Prakerja yang lebih fokus pada pelatihan, kebijakan Singapura lebih komprehensif karena mencakup:

- Tunjangan pengangguran langsung (hingga Rp74 juta per bulan)
-Pelatihan wajib bagi pencari kerja
- Bantuan tambahan melalui skema lain seperti SkillsFuture Level-Up.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa sekadar pelatihan saja tidak cukup. Pencari kerja membutuhkan bantuan finansial sementara agar tetap bisa bertahan hidup sambil mencari pekerjaan yang sesuai.

Di Indonesia sendiri, meskipun Kartu Prakerja memberikan insentif kepada peserta, jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan tunjangan di Singapura. Peserta Kartu Prakerja hanya mendapat insentif kurang lebih Rp600 ribu per bulan selama empat bulan setelah menyelesaikan pelatihan.

Baca Juga: Dari Pakistan ke Singapura: Rahat Fateh Ali Khan Hadir dengan Hits Legendarisnya

Tentunya dengan biaya hidup yang semakin tinggi, angka ini tentu tidak cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari, apalagi bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.

Kartu Prakerja Perlu Diperbarui, Bukan Dihapus

Beberapa waktu lalu, isu kartu pra kerja digadang-gadang akan dihapus oleh pemerintah, daripada menghapus Kartu Prakerja, pemerintah seharusnya mengembangkan program ini agar lebih efektif. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Tambahkan Skema Bantuan Finansial Sementara

Seperti di Singapura, Kartu Prakerja bisa ditingkatkan dengan menambahkan bantuan finansial langsung bagi pencari kerja.

Terutama bagi mereka yang terkena PHK atau belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu lama.

2. Pelatihan yang Lebih Sesuai dengan Kebutuhan Industri

Salah satu kritik terbesar terhadap Kartu Prakerja adalah banyaknya pelatihan yang kurang relevan dengan kebutuhan industri.

Banyak peserta mengeluhkan bahwa materi yang diberikan tidak benar-benar membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

Sebagai perbandingan, di Singapura melalui kutipan Reuters, program SkillsFuture memungkinkan pencari kerja untuk mengikuti pelatihan yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja, termasuk keterampilan digital, keuangan, dan teknologi.

3. Kerja Sama Lebih Luas dengan Dunia Usaha

Singapura tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga perusahaan-perusahaan besar dalam mendesain program pelatihannya.

Di Indonesia, Kartu Prakerja bisa lebih efektif jika ada kemitraan langsung dengan perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja, sehingga pelatihan yang diberikan benar-benar relevan.

Indonesia Bisa, Asal Mau Serius

Pemerintah Indonesia tidak perlu meniru mentah-mentah kebijakan Singapura, akan tetapi bisa mengambil inspirasi untuk membuat kebijakan yang lebih efektif. Dengan jumlah pengangguran yang lebih besar, tentu kebijakan serupa perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan fiskal Indonesia.

Namun, yang paling penting adalah komitmen untuk membantu pencari kerja secara nyata, bukan hanya dengan pelatihan online yang manfaatnya masih dipertanyakan.

Singapura sudah membuktikan bahwa investasi dalam ketenagakerjaan bukan sekadar beban, tetapi juga strategi untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Jika pemerintah Indonesia ingin serius mengatasi pengangguran, Kartu Prakerja tidak boleh berhenti begitu saja, tetapi harus dikembangkan agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.