Giliran Korsel Terpukul Tarif Trump, Ekspor ke AS Merosot
Demi Ermansyah | 22 April 2025, 11:23 WIB

AKURAT.CO Kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS) mulai memperlihatkan dampak nyata terhadap beberapa mitra dagangnya.
Korea Selatan, sebagai salah satu negara dengan orientasi ekspor yang kuat, kini mulai merasakan tekanan besar, terutama di sektor otomotif.
Data perdagangan yang dirilis oleh otoritas bea cukai Korea Selatan pada Senin (21/4/2025) lalu mencatat penurunan nilai ekspor secara keseluruhan sebesar 5,2% selama 20 hari pertama bulan April jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sedangkan yang paling menonjol, ekspor mobil tercatat turun 6,5%, dimana angka tersebur menggambarkan secara langsung dampak dari tarif baru AS terhadap sektor otomotif.
Dikutip dari Reuters, Selasa (22/4/2025), pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump telah memberlakukan tarif impor sebesar 25% terhadap kendaraan dan suku cadang otomotif sejak awal April 2025.
Tentunya, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi perdagangan American First yang menargetkan negara-negara dengan surplus dagang besar terhadap AS. Korea Selatan termasuk di dalamnya, dengan surplus perdagangan sebesar USD55,7 miliar pada tahun 2024.
Dari seluruh nilai ekspor kendaraan Korea Selatan pada 2024 sebesar USD70,8 miliar, hampir separuhnya dikirim ke pasar AS. Tidak mengherankan jika sektor otomotif menjadi pihak paling terdampak dari kebijakan tarif ini. Para pelaku industri di Korsel kini menatap masa depan dengan penuh kekhawatiran.
"Tarif ini adalah pukulan telak. Ketergantungan tinggi terhadap pasar AS membuat kami sangat rentan," ujar analis Industri dari Korea Autor Trade Institute, Park Jin-ho.
Dirinya menambahkan bahwa jika situasi berlanjut, industri bisa mengalami pemangkasan produksi dan ancaman pemutusan hubungan kerja.
Merespon dampaknya yang begitu signifikan, Menteri Perindustrian Korsel, Ahn Duk-geun bersama Menteri Keuangan, Choi Sang-mok dijadwalkan akan terbang ke Washington minggu ini untuk merundingkan perjanjian perdagangan baru dengan AS.
Namun, waktu yang semakin sempit menjelang pemilihan presiden Korsel pada 3 Juni membuat negosiasi ini penuh ketidakpastian.
"AS memegang posisi tawar yang tinggi. Mereka tahu bahwa kami butuh pasar mereka. Tapi kami juga tak bisa menerima tarif ini begitu saja," ujar seorang pejabat senior Kementerian Perindustrian yang enggan disebutkan namanya.
Menariknya, jika dilihat dari sisi makro, Bank Sentral Korea (BoK) pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di angka 2,75%, namun memperingatkan adanya risiko pertumbuhan negatif pada kuartal pertama.
Gubernur BoK, Rhee Chang-yong, menyatakan bahwa momentum ekspor secara keseluruhan sedang melemah. "Tarif ini memperumit dinamika perdagangan. Risiko perlambatan ekonomi menjadi nyata," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









