Tarif Tinggi Perdagangan AS-China Ancam Konsumen dan Industri, Trump Janjikan Peninjauan

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mempertimbangkan penurunan tarif terhadap barang-barang impor dari China.
Kebijakan tarif resiprokal setinggi 145% yang diberlakukan AS, dan dibalas China dengan tarif 125%, telah menekan rantai pasok global serta memicu kekhawatiran lonjakan harga di tingkat konsumen.
Dikutip dari laman NBC, Trump mengatakan bahwa tarif saat ini terlalu tinggi dan berisiko mematikan hubungan dagang kedua negara.
“Jika terus seperti ini, kita tidak akan bisa berbisnis dengan mereka,” ucapnya seraya menekankan bahwa China sangat ingin berbisnis.
Baca Juga: Tarif Trump Buka Peluang Ekspor RI ke BRICS dan TPP
Akibat kebijakan tersebut, harga barang kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, mainan, dan barang elektronik berpotensi melonjak di pasar AS. Di sisi lain, industri manufaktur Amerika menghadapi biaya produksi yang meningkat akibat kenaikan harga bahan baku impor.
Tekanan juga dialami China. Aktivitas pabrik menunjukkan penurunan tajam, dengan indeks manajer pembelian manufaktur mencatat kontraksi terburuk dalam dua tahun terakhir.
Pesanan ekspor juga merosot, mencerminkan berkurangnya permintaan global atas produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
China melalui Kementerian Perdagangannya menyatakan tengah mengevaluasi kemungkinan pembicaraan dagang dengan AS. Langkah tersebut nantinya akan menjadi titik terang pertama sejak perang tarif kembali memanas bulan lalu.
Baca Juga: Jepang Siapkan Strategi Baru Hadapi Tarif AS, Obligasi AS Jadi Kartu Tawar?
Sementara itu, pelaku industri dan konsumen di AS menyerukan agar pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan dagangnya. Kamar Dagang AS memperingatkan bahwa tarif tinggi dapat berdampak negatif pada inflasi domestik dan daya beli masyarakat.
Trump, yang dikenal sebagai tokoh dengan pendekatan keras terhadap perdagangan, menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus adil bagi Amerika. Namun, pernyataannya kali ini menunjukkan adanya ruang kompromi demi menyelamatkan stabilitas ekonomi dalam negeri menjelang tahun pemilu.
Jika pembicaraan dagang benar-benar terjadi, para ekonom memperkirakan akan ada jalan panjang menuju normalisasi, namun setidaknya ini menjadi awal dari peluang pemulihan ekonomi global yang selama ini terhambat oleh tensi AS-China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







