AS-China Mulai Negosiasi Dagang di Swiss, Fokus De-Eskalasi Perang Tarif

AKURAT.CO Setelah bertahun-tahun bergelut dalam pusaran perang tarif, Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya sepakat membuka kembali jalur diplomasi dagang.
Negosiasi bilateral yang akan digelar akhir pekan ini di Swiss menandai langkah penting kedua negara untuk mendinginkan tensi perang dagang yang selama ini membebani ekonomi global.
Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan bahwa fokus utama pembicaraan adalah pada upaya de-eskalasi, bukan langsung menuju kesepakatan dagang.
Dirinya menyebut tarif impor yang kini diberlakukan tak bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
"Tarif saat ini tidak berkelanjutan. Ini lebih menyerupai embargo perdagangan," tegas Bessent, Rabu (7/5/2025).
Baca Juga: Dihantui Tarif AS, Vietnam Tetap Kukuh Jaga Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Nantinya, perundingan di Swiss akan dipimpin oleh Bessent dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer. Sedangkan dari sisi China, negosiasi akan dikepalai oleh Wakil Perdana Menteri, He Lifen yang menjadi tokoh kunci dalam strategi ekonomi Beijing.
Pertemuan tersebut merupakan perundingan formal pertama sejak Presiden Donald Trump kembali memicu perang dagang jilid dua.
Kedua belah pihak menyampaikan konfirmasi atas pertemuan ini melalui pernyataan resmi pada Selasa (6/5/2025), menandai adanya kehendak bersama untuk menghindari dampak lebih lanjut terhadap rantai pasok global.
Seperti yang diketahui, perang dagang AS-China selama ini telah menyebabkan gangguan besar pada rantai pasok internasional dan memicu inflasi di sejumlah negara.
Meski begitu, Presiden Trump mengklaim bahwa konsumen AS siap menerima harga yang lebih tinggi demi menyeimbangkan hubungan dagang dengan China.
Dalam pernyataan terbaru, Trump bahkan mengisyaratkan akan mempertimbangkan pengurangan tarif impor dari China, meski tetap mengedepankan prinsip perdagangan adil. Namun, investor ternama seperti Paul Tudor Jones memperingatkan bahwa langkah itu mungkin belum cukup menyelamatkan pasar saham dari tekanan global.
"Trump terpaku pada tarif, sementara The Fed enggan memangkas bunga. Ini kombinasi yang berbahaya bagi pasar saham," kata Jones dalam wawancara dengan CNBC.
Baca Juga: Kritik Tarif AS, Warren Buffet Sebut Proteksionisme Bukanlah Senjata Perdagangan
Langkah AS dan China untuk kembali berunding mendapatkan sambutan hati-hati dari komunitas internasional. Banyak negara, termasuk Indonesia, terdampak secara tidak langsung oleh ketegangan dua ekonomi terbesar dunia ini.
Pasalnya, perubahan dinamika dagang antara Washington dan Beijing akan berpengaruh pada harga komoditas, arus investasi, hingga stabilitas nilai tukar global.
Ekonom menilai bahwa negosiasi ini adalah titik krusial. Jika berhasil menurunkan tensi perang tarif, pasar global dapat mengalami stabilisasi.
Namun jika gagal, risiko resesi global bisa kembali membayangi di tengah situasi geopolitik yang belum sepenuhnya pulih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









