Pertumbuhan Ekonomi 2025 Ditaksir Melambat ke 4,5-5 Persen, Ekonom Imbau Pemerintah Pacu Stimulus Fiskal
Hefriday | 14 Mei 2025, 13:43 WIB

AKURAT.CO Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi dari Permata Bank, menyampaikan hasil kajian terbaru mengenai kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal pertama 2025.
Dalam kajian tersebut, PIER memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini akan mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya.
Chief Economist PermataBank, Josua Pardede, menyebut bahwa PDB Indonesia tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 4,5% hingga 5,04%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian 2024 sebesar 5,036% dan juga di bawah target awal pemerintah sebesar 5,114%.
"Perlambatan pertumbuhan dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha menunda ekspansi dan investasi, sehingga berdampak langsung pada performa ekonomi nasional" ujar Josua dalam Konferensi PIER Q1 2025 Economic Review dan Media Gathering di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Lebih lanjut, Josua menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. “Stimulus yang tepat sasaran perlu diberikan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kinerja investasi,” imbuhnya.
Pada kuartal pertama 2025, PDB Indonesia tercatat tumbuh 4,874% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dari 5,024% pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal ketiga 2021.
PIER mencatat bahwa konsumsi rumah tangga, yang merupakan komponen terbesar PDB, juga mengalami perlambatan tipis menjadi 4,894% YoY. Penurunan konsumsi terjadi pada sub-komponen makanan, minuman, serta transportasi dan komunikasi.
Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurun menjadi 2,124% YoY. Penurunan ini terutama disebabkan melemahnya investasi di sektor bangunan, struktur, serta mesin dan peralatan.
Sebagai kompensasi, ekspor barang dan jasa menunjukkan pertumbuhan yang relatif baik berkat peningkatan ekspor nonmigas. Namun, belanja pemerintah justru terkontraksi sebesar 1,384% YoY setelah tahun sebelumnya terdorong oleh belanja Pemilu.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian ini, PIER berharap Bank Indonesia turut berkontribusi menjaga stabilitas dengan membuka ruang pelonggaran moneter. Jika tekanan eksternal mereda, suku bunga acuan (BI-Rate) berpotensi turun hingga 50 basis poin hingga akhir tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










