Tren 'Sell America' Menguat di Tengah Ketidakpastian, Akankah Indonesia Diuntungkan?

AKURAT.CO Fenomena 'Sell America' yang kini memuncak di pasar keuangan global membawa dinamika baru dalam pergeseran aliran modal internasional. Istilah ini merujuk pada kecenderungan investor baik institusi maupun ritel untuk menjual aset-aset Amerika Serikat (AS), terutama surat utang (Treasury) dan saham, demi mencari imbal hasil yang lebih tinggi atau stabilitas di luar negeri.
Lonjakan imbal hasil Treasury AS khususnya obligasi tenor 10 dan 30 tahun yang melampaui level tertinggi dalam dua dekade terakhir, memicu kekhawatiran bahwa utang AS semakin mahal dibiayai.
Sementara itu, pasar saham AS mulai tertekan oleh ekspektasi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan fiskal.
Dalam kondisi demikian, negara-negara berkembang dengan fundamental ekonomi relatif kuat, seperti Indonesia, berpotensi memetik manfaat melalui daya tarik surat utang domestik yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Baca Juga: The Fed Waspadai Kenaikan Inflasi, Pilih Strategi Wait and See Untuk Pemangkasan Suku Bunga
Sell America dan Akar Penyebabnya
Dikutip dari laman Reuters, beberapa bulan terakhir, yield Treasury AS tenor 10 tahun mencatat rekor tertinggi sejak 2007, menembus kisaran 4,5–4,6%. Tekanan ini muncul setelah lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan outlook utang AS dari stabil menjadi negatif, memicu kekhawatiran bahwa defisit anggaran federal yang telah melampaui USD31 triliun akan terus melebar.
Di saat yang sama, pemerintahan AS mempertahankan belanja publik pada level tinggi, sementara penerimaan pajak tumbuh lebih lambat dari ekspektasi. Investor global, yang selama ini memandang Treasury sebagai aset bebas risiko, mulai mempertanyakan daya tahan fiskal AS.
Di sisi moneter, Federal Reserve (The Fed) menunjukkan kebijakan 'hawkish pause' menghentikan kenaikan suku bunga, namun juga enggan menurunkannya hingga sinyal ekonomi benar-benar membaik.
Ketidakpastian soal penurunan suku bunga The Fed membuat imbal hasil jangka panjang tetap tinggi, memicu 'bond vigilantes' untuk menjual obligasi AS. Selain faktor fiskal dan moneter, ketegangan perdagangan AS dengan China dan mitra dagang lain menambah sentimen negatif.
Kebijakan tarif Trump yang sempat dipertahankan, serta ancaman sanksi baru terhadap ekspor teknologi—seperti panduan kontrol ekspor chip Huawei semuanya berkontribusi pada kekhawatiran investor akan prospek pertumbuhan AS jangka menengah.
Dinamika Pasar Global dan Arus Modal
Ketika investor global memindahkan portofolio mereka dari Treasury AS, sebagian dana mengalir ke instrumen berbasis dolar lain misalnya repos aset komersial atau commercial paper namun tak sedikit yang melarikan diri ke pasar negara berkembang.
Arus modal tersebut tentu tidak homogen, negara dengan risiko fiskal atau moneter tinggi justru mengalami outflow, sementara negara yang mampu menawarkan imbal hasil menarik sekaligus menjaga stabilitas makro terima aliran masuk (inflow).
Baca Juga: Ketidakpastian Ekonomi Bayangi The Fed, Penurunan Suku Bunga Ditunda Hingga September Mendatang
Indonesia, bersama beberapa negara Asia Tenggara lain yang memiliki peringkat investment grade dan kebijakan fiskal prudent, menonjol sebagai salah satu destinasi menarik.
Indonesia: Daya Tarik Obligasi Pemerintah
Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun kini menawarkan yield sekitar 6,8–7,0% spread superior hampir 2,5% dibandingkan Treasury AS. Di tengah volatilitas global, perbedaan imbal hasil ini menjadi magnet bagi investor institusi dan hedge funds yang mencari 'carry trade' meminjam atau menjual short aset beryield rendah (Treasury), lalu membeli obligasi beryield lebih tinggi seperti SBN.
Faktor pendukung lain adalah perbaikan fundamental ekonomi Indonesia. Pemerintah terus menekan defisit APBN di bawah 3% dari PDB, sementara rasio utang pemerintah terhadap PDB dijaga di kisaran 38–40% jauh di bawah level banyak negara berkembang dan bahkan beberapa negara maju.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil pada kisaran 5,0–5,3% per tahun, inflasi terjaga di bawah 4%, serta cadangan devisa yang relatif memadai (sekitar USD 140 miliar) menambah kepercayaan investor.
Di pasar sekunder, likuiditas SBN juga meningkat. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah meluncurkan program SBN ritel ORI dan SBR untuk memperluas basis investor domestik, sehingga mengurangi ketergantungan pada investor asing.
Baca Juga: Banyak Saham Berguguran, Investor Patut Lirik SBN
Namun pada saat sama, permintaan global pada SBN masih cukup tinggi, khususnya untuk tenor menengah dan panjang. Laporan lembaga pengelola SBN menyebutkan bahwa dalam lelang tenor 10 tahun Maret–April 2025, rata-rata bid-to-cover ratio mencapai 2,5–3,0 kali, dengan porsi nonresiden sekitar 25–30% dari total penawaran.
IMF dalam laporan Article IV Mission September 2024 memuji penanganan fiskal Indonesia, namun juga menekankan perlunya reformasi struktural lebih lanjut terutama di sektor perpajakan dan pengeluaran subsidi. World Bank melihat Indonesia sebagai salah satu pijakan relatif aman bagi investor global, meski memperingatkan risiko eksternal seperti fluktuasi harga komoditas dan tekanan suku bunga global.
Dari sisi bank investasi, Moody’s Investor Service dan S\&P Global mempertahankan peringkat sovereign Indonesia pada investment grade (Baa2 / BBB-), dengan outlook stabil. Bank-bank seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan DBS menyebut bahwa carry trade di SBN Indonesia masih menarik setidaknya hingga kuartal IV-2025, dengan risiko manageable asalkan defisit fiskal tidak melebar tajam dan BI dapat menjaga nilai tukar.
Meski imbal hasil SBN unggul, Indonesia tak kebal dari risiko eksternal. Arus modal yang masuk bersifat “hot money” mudah keluar bila sentimen global berubah. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga akhir tahun atau jika AS mencapai kesepakatan fiskal yang mengurangi defisit, yield Treasury bisa turun signifikan, memicu aliran balik ke AS. Kondisi ini dapat menekan harga SBN dan melemahkan rupiah.
Risiko kedua adalah volatilitas harga komoditas. Sebagai eksportir komoditas terutama CPO, batu bara, nikel, dan minyak sawit penurunan harga global berdampak pada neraca perdagangan dan penerimaan devisa. Jika defisit transaksi berjalan melebar, rupiah dapat tertekan meski yield SBN tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










