BI Genjot Stabilitas Rupiah Lewat Intervensi dan Insentif Likuiditas

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) terus memperluas pendekatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Salah satu upaya strategis yang ditempuh adalah mendorong transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal melalui skema local currency transaction (LCT).
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan tren penggunaan mata uang lokal antarnegara kini meningkat signifikan. Hal ini menjadi solusi alternatif di tengah fluktuasi dolar Amerika Serikat yang tinggi akibat ketidakpastian global.
“Pelaku usaha kini tak hanya bergantung pada dolar AS, tapi juga mulai menggunakan mata uang mitranya dalam transaksi,” kata Destry dalam acara Outlook Ekonomi DPR, Selasa (20/5/2025).
Baca Juga: Stabilitas Rupiah dan Suku Bunga AS Jadi Kunci BI Pangkas BI Rate
Dalam menjaga nilai tukar rupiah, BI juga melakukan berbagai intervensi. Saat gejolak pasar terjadi pada masa libur Lebaran lalu, bank sentral menerapkan intervensi ganda, termasuk di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga pembelian SBN di pasar sekunder. Bahkan, intervensi diperluas ke pasar off-shore non-deliverable forward (NDF).
Langkah ini berkontribusi terhadap penguatan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp16.400 per USD, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar.
Tak hanya itu, BI juga terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas.
Baca Juga: BI Dinilai Punya Ruang Pangkas Suku Bunga, Momentum Dorong Ekonomi Nasional
Lewat KLM, bank yang menyalurkan kredit ke sektor perumahan, hilirisasi, dan UMKM mendapat keringanan giro wajib minimum (GWM) hingga 5 persen.
“Sekarang hampir semua bank menikmati relaksasi ini karena telah menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif,” kata Destry.
Di sisi sistem pembayaran, BI juga terus memperluas cakupan dan efisiensi transaksi lintas negara. Inisiatif ini diyakini dapat mendongkrak volume transaksi retail dan mempercepat digitalisasi ekonomi.
Dengan strategi ini, BI berharap dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







