Stimulus Ekonomi Dongkrak Defisit China ke Level Tertinggi dalam 4 Bulan

AKURAT.CO Defisit anggaran China melonjak tajam selama empat bulan pertama tahun 2025, mencatatkan rekor tertinggi sebagai dampak langsung dari akselerasi stimulus fiskal pemerintah untuk menopang ekonomi yang terdampak eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat.
Menurut data resmi yang dirilis Kementerian Keuangan China dikutip dari laman Bloomberg, defisit anggaran mencapai CNY2,65 triliun (sekitar Rp6.020 triliun) selama Januari hingga April 2025.
Angka tersebut membengkak lebih dari 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi yang tertinggi untuk periode tersebut sepanjang sejarah fiskal China.
Baca Juga: ASEAN-China Perkuat Kerja Sama Ekonomi di Tengah Gejolak Global
Pemerintah pusat China diketahui mempercepat realisasi stimulus fiskal demi menjaga kestabilan ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal. Ketegangan dagang dengan AS sempat memuncak ketika tarif impor diberlakukan hingga 145% terhadap berbagai produk asal China, sebelum kedua negara menyepakati gencatan senjata pada awal Mei.
“Pengeluaran pemerintah meningkat signifikan, sementara pendapatan menunjukkan tanda-tanda stabilisasi,” ujar Ahli Strategi Senior dari Australia & New Zealand Banking Group, Zhaopeng Xing.
Secara keseluruhan, total pengeluaran dalam dua buku anggaran utama China mencapai CNY11,97 triliun atau naik 7,2% secara tahunan.
Kenaikan tajam terutama terjadi pada pembayaran bunga utang yang tumbuh 11%, serta pengeluaran untuk jaminan sosial dan ketenagakerjaan guna melindungi kelompok rentan dari dampak perang dagang.
Baca Juga: Ketegangan AS-China Kembali Memanas, Chip Huawei Jadi Pemicu Konflik Dagang Baru
Di sisi lain, pendapatan negara tetap stabil. Penerimaan pajak meningkat 1,9% pada April, dipengaruhi oleh peningkatan pajak penghasilan individu. Total pendapatan mencapai CNY9,32 yuan, hanya turun tipis 1,3% secara tahunan.
Analis menilai bahwa defisit besar ini merupakan strategi fiskal jangka pendek yang disengaja guna merangsang permintaan domestik dan menjaga iklim ekonomi tetap kondusif di tengah ketidakpastian global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









