Impor Kedelai China Naik Tajam, Komoditas Lain Justru Alami Penurunan
AKURAT.CO Perdagangan internasional China menunjukkan dinamika menarik pada Mei 2025. Berdasarkan data bea cukai China yang dirilis pada Senin (9/6/2025), terjadi lonjakan signifikan pada impor kedelai, sementara impor beberapa komoditas utama lainnya seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih besi justru mengalami penurunan dari bulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, ekspor China tumbuh sebesar 4,8% secara tahunan (year-on-year) dalam nilai, sementara impor justru mengalami penurunan sebesar 3,4%. Angka tersebut menunjukkan ketidakselarasan dengan ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Reuters, yang sebelumnya memproyeksikan ekspor tumbuh 5,0% dan impor hanya turun 0,9%.
Salah satu sorotan utama dalam data terbaru ini adalah impor kedelai yang mencapai 13,92 juta metrik ton pada Mei, meningkat tajam sebesar 128,9% dibandingkan April. Analis dari JCI, Shanghai, Rosa Wang, menyebutkan bahwa angka tersebut bahkan melampaui proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 12 hingga 12,5 juta metrik ton.
Baca Juga: Cuekin Tarif Trump, Ekspor China Kian Melejit
"Kami melihat percepatan dalam proses kepabeanan. Saat ini waktu clearance impor kedelai telah kembali normal, sekitar dua minggu. Selain itu, tingkat operasi pabrik penghancur juga naik di atas 50%, menandakan permintaan dalam negeri yang kuat," jelas Rosa dikutip dari Reuters, Senin (9/6/2025).
Berbanding terbalik, impor minyak mentah pada Mei tercatat sebesar 48,06 juta metrik ton, turun 3% dibandingkan bulan sebelumnya. Tren penurunan juga terlihat pada komoditas batubara dan bijih besi. Impor batubara turun 4,73% menjadi 36,04 juta metrik ton, sementara bijih besi mengalami penurunan sebesar 4,9% menjadi 98,13 juta metrik ton.
Analis dari China Futures di Shanghai, Chu Xinli, menyatakan bahwa meskipun terjadi penurunan, volume impor bijih besi masih tergolong tinggi secara historis.
"Penurunan ini didorong oleh strategi restocking oleh pabrik baja karena stok pelabuhan yang menurun," ujarnya.
Sementara itu, dari Mysteel, Steven Yu, menambahkan bahwa adanya percepatan proses kepabeanan sebelum libur Hari Buruh pada awal Mei berkontribusi pada rendahnya angka impor di bulan tersebut.
"Banyak kapal yang telah diselesaikan proses impornya lebih awal, sehingga data Mei tampak lebih rendah dari biasanya," katanya.
Baca Juga: Trump Tolak Turunkan Tarif Impor China, De-eskalasi Perang Dagang Terancam Mandek
Impor tembaga murni (unwrought copper) juga mengalami penurunan sebesar 2,5% dari bulan sebelumnya, tercatat sebesar 427.000 metrik ton. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya permintaan industri akibat perlambatan sektor konstruksi dan manufaktur.
Namun demikian, ada sedikit kabar positif dari sisi ekspor komoditas. Ekspor rare earth (logam tanah jarang), yang merupakan salah satu komoditas strategis China, meningkat 22,6% pada Mei, mencapai 5.864,6 metrik ton. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku teknologi tinggi yang berasal dari China.
Kinerja perdagangan China bulan Mei ini memperlihatkan masih adanya tantangan di tengah kondisi global yang tidak pasti, termasuk ketegangan perdagangan yang terus berlangsung antara Beijing dan Washington. Penurunan impor juga bisa mengindikasikan pelemahan permintaan domestik, yang menjadi perhatian tersendiri bagi para pembuat kebijakan di China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










