Kebijakan AS Tekan RI, Mahasiswa Soroti Impor Migas dan Mandeknya Tata Kelola Energi

AKURAT.CO Dewan Energi Mahasiswa Indonesia menggelar diskusi publik terkait pemindahan jalur impor migas Indonesia, yang belakangan menjadi respons atas kebijakan tarif resiprokal dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber utama: Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, pakar maritim dan energi, serta Dr. Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute.
Diskusi yang dihadiri lebih dari 50 peserta ini bertujuan mengkaji dampak kebijakan global terhadap ketahanan energi nasional, terutama terkait pemindahan jalur impor migas dan implikasinya terhadap biaya logistik, pertumbuhan ekonomi, serta strategi nasional di sektor energi.
Dalam sesi pertama, Dr. Komaidi menjelaskan bahwa sejak April 2025, Amerika Serikat mulai menerapkan tarif lebih dari 10 persenterhadap negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi proteksionis untuk menjaga industri dalam negeri AS. Dampaknya, pola impor migas Indonesia mulai berubah secara signifikan.
“Indonesia mulai mengalihkan impor migas dari AS ke negara lain seperti Taiwan, yang produksinya meningkat seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah,” jelas Komaidi, Senin (9/6/2025).
Data TradeMap 2025 menunjukkan lonjakan impor dari Taiwan, sementara ketergantungan pada negara-negara tradisional seperti Singapura dan Malaysia mulai berkurang.
Baca Juga: Bisnis Mobil Listrik Xiaomi Tumbuh Pesat, Target Produksi 350 Ribu Unit di 2025
Namun demikian, perubahan pola impor ini turut menimbulkan ketidakpastian dalam pasokan energi. Selain itu, ekonomi Indonesia juga terancam terdampak secara makro.
“Penurunan 1 persen PDB AS bisa menekan PDB Indonesia hingga 0,37 persen. Sementara jika PDB China turun 1 persen, dampaknya bahkan lebih besar, mencapai 0,39 persen,” tambahnya.
Pada sesi kedua, Dr. Capt. Marcellus Hakeng mengulas tantangan logistik dalam pemindahan jalur impor migas.
Menurutnya, pengalihan jalur dari negara-negara Timur Tengah ke AS seperti Texas berdampak besar pada waktu tempuh, risiko cuaca, dan biaya operasional.
“Pengiriman dari Texas ke Indonesia bisa mencapai 13.000 mil laut dengan waktu tempuh 30–40 hari dan biaya operasional hingga USD3,2 juta per pengiriman.
Bandingkan dengan pengiriman dari Arab Saudi yang hanya membutuhkan USD880.000 dan waktu 11 hari,” paparnya.
Cuaca buruk di Teluk Meksiko, risiko geopolitik, dan ancaman keamanan seperti perompakan juga memperparah tantangan logistik ini.
Ketua Umum Dewan Energi Mahasiswa Indonesia, Febrian Satria Hidayat, mengkritisi ketergantungan Indonesia terhadap impor migas dan lemahnya tata kelola energi nasional.
Ia menyebut impian pemerintah untuk mencapai lifting minyak bumi 1 juta barel per hari hanya akan menjadi wacana kosong tanpa pembenahan kebijakan dan regulasi.
“RUU Migas sampai hari ini belum ada kejelasan. Kalau kita ingin benar-benar mewujudkan amanat UUD 1945 Pasal 33 ayat 3, maka harus ada langkah konkret menuju swasembada energi. Ketergantungan impor harus ditekan,” tegas Febrian.
Diskusi ini menegaskan perlunya strategi energi nasional yang adaptif terhadap dinamika global, peningkatan infrastruktur maritim dan logistik, serta penyelesaian kebijakan domestik yang mandek.
Indonesia membutuhkan visi jangka panjang dan langkah nyata agar tidak terus bergantung pada pasar global yang kian tak menentu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








