Soal Tarif Resiprokal AS, Indonesia Manuver Diplomasi Dagang Jaga Akses Ekspor

AKURAT.CO Dalam lanskap perdagangan global yang semakin proteksionis, Indonesia harus bergerak cepat dan cermat.
Salah satunya adalah dengan menghadapi kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara mitra, termasuk Indonesia.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Indonesia telah memberikan second best offer sebagai upaya diplomatik untuk mempertahankan akses pasar dan menghindari lonjakan tarif sebesar 32% yang diterapkan AS.
Baca Juga: China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS
"Second offer sudah diterima USTR dan sedang dalam proses evaluasi. Kita tunggu feedback lanjutan," kata Airlangga dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (2/7/2025).
Sejak pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden Donald Trump pada awal April lalu, Indonesia langsung merespons dengan langkah proaktif.
Tidak hanya menyampaikan dokumen negosiasi, pemerintah juga menggelar pertemuan bilateral dengan otoritas AS, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent.
Airlangga mengakui, negosiasi ini tidak berjalan sepihak. Pemerintah AS harus melibatkan berbagai institusi seperti USTR, Departemen Keuangan, dan Kementerian Perdagangan, sehingga prosesnya memerlukan waktu dan pertimbangan strategis, terutama menjelang batas akhir 8 Juli 2025.
Indonesia sendiri tidak hanya mempertimbangkan aspek tarif, tetapi juga dampak luas terhadap iklim investasi dan stabilitas neraca perdagangan.
“Kita mencoba menyeimbangkan permintaan mereka tanpa mengorbankan kepentingan strategis nasional,” ujar Airlangga.
Baca Juga: Tarif AS Ganggu Daya Saing Ekspor Jepang, Industri Manufaktur Semakin Tertekan
Langkah Indonesia menjadi penting di tengah upaya global memperkuat posisi tawar di tengah tekanan proteksionisme dan ketidakpastian geopolitik. Dengan menjaga relasi dagang dengan AS, Indonesia berharap mempertahankan kelangsungan ekspor berbagai produk unggulan, seperti tekstil, alas kaki, produk kimia, hingga elektronik.
Negosiasi ini juga menjadi refleksi kesiapan diplomasi ekonomi Indonesia di tengah tekanan dunia yang semakin kompetitif. Dengan hadirnya tim Indonesia di Washington dan kawasan strategis lain seperti China, pemerintah menunjukkan kesiapan tak hanya bertahan, tetapi juga memperkuat posisi dalam dinamika ekonomi global.
“Kita tidak hanya bertahan, tapi juga membangun posisi yang lebih baik di panggung perdagangan internasional,” tegas Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








